Sudah hampir dipenghujung bulan suci Ramadhan. Entah senang yg dirasakan, karna akan bertemu keluarga besar yg hanya 1thn sekali bertemu ketika lebaran. Atau sedih yg dirasakan, karna pahala yg didapatkan, masih belum mampu menutupi dosa yg telah diperbuat. :(
A 10 year-old boy from Japan discovered that butterflies can remember their time as caterpillars.
Jo Nagai noticed his caterpillars still loved him after turning into butterflies, and the affection he had for them led to a genuine scientific discovery.
Ini keren banget sih!
Anak 10 tahun dari Jepang, berhasil membuktikan bahwa kupu-kupu ternyata menyimpan memori dari saat berbentuk ulat, bahkan bisa diwariskan hingga ke genarasi kupu-kupu berikutnya.
Sini gue ceritain penelitiannya!
Jadi anak ini melatih ulat agar mengasosiasikan bau lavender dengan kejutan listrik ringan. Kejutan listrik ini berasal dari alat terapi otot dengan arus yang lemah.
Nah setelah jadi kupu-kupu, mereka diuji eksperimen di labirin berbentuk huruf Y dengan:
-1 jalur berisi air gula dan bau lavender
-1 jalur hanya air gula
Nah ternyata 70-80% kupu-kupu yang sudah "dilatih" cenderung menghindari bau lavender. Sedangkan kupu-kupu yang tidak "dilatih" 50-50 rasionya untuk memilih bau lavender.
Kemudian anak ini mengembangbiakkan kupu-kupu yang sudah "dilatih" tersebut dan menguji anak cucu-nya. Ternyata tanpa pelatihan kejutan listrik, anak cucu tersebut sekitar 60% menghindari bau lavender.
Hal ini menunjukkan pewarisan memori lintas generasi. Kemungkinan alasannya adalah melalui mekanisme epigenetik.
Semoga bermanfaat!
Sebagai pecinta ilmu linguistik dan wanita cantik:
Saya pribadi setuju kalau abbreviation Persib ke depan menggunakan SIB.
Kalau dilihat dari sudut pandang linguistik, singkatan bukan sekadar memendekkan kata. Ia juga membangun identitas, membedakan referen, dan merepresentasikan komunitas yang ada di belakangnya.
Menariknya, pemilihan SIB juga punya keunggulan dari sisi linguistik karena dapat berfungsi sebagai akronim, bukan sekadar singkatan. Perbedaannya sederhana: singkatan dibaca huruf per huruf, seperti DPR atau KTP, sedangkan akronim dibaca sebagai sebuah kata, seperti SIM, NIK, dsb.
"SIB" memenuhi karakteristik itu karena orang akan mengucapkannya langsung sebagai sib, bukan es-i-be. Bentuk seperti ini umumnya lebih mudah diucapkan, lebih mudah diingat, dan lebih cepat membentuk asosiasi identitas di benak penuturnya. Dalam jangka panjang, itu menjadi nilai tambah yang tidak dimiliki bentuk seperti PSB.
Awalnya, saya pribadi mempunyai keinginan seperti a @RestuAwalliddin
Sebenarnya opsi yang paling mudah secara geografis mungkin BDG. Sekilas juga terasa lebih catchy sebagai sebuah abbreviation.
Namun masalahnya, BDG merepresentasikan Bandung sebagai kota, bukan Persib sebagai entitas sosial. Dalam semiotik, sebuah tanda idealnya menunjuk pada objek yang memang ingin diwakili.
Sementara basis pendukung Persib sudah jauh melampaui batas administratif Bandung, tersebar di seluruh Jawa Barat, Indonesia, bahkan luar negeri. Jadi, BDG terasa terlalu geografis untuk mewakili identitas klub yang sudah menjadi milik komunitas yang jauh lebih luas.
Sebaliknya, SIB punya nilai yang menarik secara sosiolinguistik. Di kalangan Bobotoh, "Sib" sudah lama hidup sebagai bentuk sapaan yang akrab untuk Persib. Ketika bentuk yang lahir secara alami dari komunitas kemudian diadopsi menjadi identitas resmi, hubungan antara klub dan suporternya justru semakin kuat.
Itu teori bottom-up dalam sebuah kodifikasi. CMIIW Pak @ivanlanin
Bahasa memang sering bekerja seperti itu: bentuk yang bertahan biasanya bukan yang paling baku, melainkan yang paling hidup di tengah penuturnya.
Alasan lainnya adalah soal diferensiasi. PSB secara linguistik bersifat lebih generik karena hanya mengambil huruf-huruf awal yang juga sangat mungkin dimiliki banyak nama klub lain. Akibatnya, daya pembeda menjadi lemah dan berpotensi menimbulkan ambiguitas. Sementara SIB lebih distingtif. Begitu melihatnya, asosiasi orang akan jauh lebih cepat mengarah ke Persib daripada ke entitas lain.
Jadi, buat saya, SIB bukan cuma pilihan yang terdengar enak. Secara linguistik, ia lebih spesifik, lebih khas, lebih dekat dengan budaya Bobotoh, dan lebih kuat dalam membangun identitas Persib itu sendiri.
Kalau kalian gimana? Setuju atau punya abreviasi lain?
Colek a @rskuntowiyoga
Ini keren banget sih!
Ada orang namanya Tim Friede, yang sengaja nyuntik bisa ular ke tubuhnya lebih dari 800 kali dan membiarkan digigit ular lebih dari 200 kali. Sekali lagi SENGAJA.
Tujuannya adalah untuk membuat tubuhnya menjadi ๐๐๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐ถ๐บ๐บ๐๐ป๐ฒ atau sangat kebal terhadap bisa ular.
Nah yang kerennya adalah ilmuwan berhasil mengambil ๐ฎ๐ป๐๐ถ๐ฏ๐ผ๐ฑ๐ถ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ ๐ธ๐๐ฎ๐ dari darahnya. Antibodi itu mampu menetralkan bisa neurotoksin yang dapat melumpuhkan saraf, dari berbagai spesies ular.
Antibodi tersebut sudah diuji coba pada tikus dan dapat ๐บ๐ฒ๐ป๐ฒ๐๐ฟ๐ฎ๐น๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฏ๐ถ๐๐ฎ 13 ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ 19 ๐๐ฝ๐ฒ๐๐ถ๐ฒ๐ ๐๐น๐ฎ๐ฟ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฃ๐๐๐๐ก๐ ๐๐๐ฅ๐๐๐๐๐ฌ๐ย berdasarkan daftar WHO.
Penelitiannya juga sudah terbit di jurnal ilmiah.
Semoga bisa segera bisa digunakan pada manusia, karena akan sangat sangat bermanfaat!
Sumber Ilmiah:
Snake venom protection by a cocktail of varespladib and broadly neutralizing human antibodies
Kenapa mobil hatcback bagian belakang lebih kotor drpd sedan?
Salah satu alasannya, karena turbulensi udara dibagian belakang mobil hatcback lebih besar.
๐ฆ๐๐๐จ๐๐ ๐จ๐ง๐๐ฆ โ ๐ด๐๐๐๐๐๐ ๐ผ๐๐๐๐ ๐ท๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐จ๐๐๐๐ ๐ฎ๐ฉ๐ณ๐จ.
Masalahnya bukan "๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ข๐ฌ๐ด๐ฆ๐ด"โjalan setapak pematang sawah (๐จ๐ข๐ญ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ) itu tetap akses.
Masalah sebenarnya: tidak ada satu pun moda yang benar-benar nyambung dari titik asal penonton sampai ke gerbang stadion. KCIC berhenti di Tegalluar (agak jauh dan menanjak), angkot berhenti di terminal Panyileukan (lebih jauh dari St. Cimekar), kereta lokal jadwalnya tidak sinkron dengan jam pertandingan.
Semua moda ini "berhenti sebelum sampai"โinilah yang disebut pola ๐ญ๐ข๐ด๐ต-๐ฎ๐ช๐ญ๐ฆ ๐จ๐ข๐ฑ.
[fun fact] ngerjain liputan laptop si unyil emang cuma 2 orang aja. pernah sekali kebagian edisi ramadhan, keliling jawa tengah, ugal2x-an naik turun mobil, keluar-masuk pawai, dari balaikota ke masjid agung, mainin boneka di tangan kiri & kanan, bener2x pengalaman yang tak terlupakan.