Sebuah jendela terbuka separuh,
Angin masuk tanpa tujuan.
Di dalam,
Seseorang memegang sunyi seperti benda yang rapuh.
Tak ada suara,
Hanya jarak yang mengendap di antara dua arah yang tak saling menyapa.
Disana,
Rindu tidak bergerak,
Namun terasa penuh ~
Serenity, Cm
Sial, masih pagi dan aku sudah kenyang melahap bayanganmu,
Semoga saja puasaku tetap sah,
Sebab yang ku tahu rindu tidak membatalkan apapun, kecuali
kewarasanku ~
Serenity, Cm.
Wangi parfum mu kurasakan di dalam gerbong KRL tadi pagi,
Aku terlewatkan stasiun tujuanku dengan sengaja,
Supaya bisa merasakan kehadiran mu lebih lama,
lagi.
Aroma tanah basah,
satu-satunya yang tak pernah bersandiwara.
Aku berbisik pada akar-akar tua:
'Tolong ajari aku cara tumbuh, tanpa perlu banyak bicara.'
Serenity, Cm
Ku tahu kebenaran tak selalu meminta dimiliki,
Sebab ada yang cukup dipahami,
Lalu
dilepaskan.
Aku tak pernah meminta dunia, kasih.
Aku hanya ingin satu tempat
dihatimu.
Apakah kita salah waktu, Tuhan?
Lalu mengapa ia terasa begitu benar?
Serenity, Gm
Aku ingin mencintaimu dengan tenang,
tidak menggebu,
tapi juga tidak hambar.
Senang melihatmu memiliki mimpi,
tapi andai-andai kau butuh jeda mengejarnya,
pilihlah aku
sebagai tempat pulangmu ~
Serenity, Cm
Ilusilah yang membuat kita berpikir bahwa orang lain berbeda dengan kita, padahal sejatinya ia adalah diri kita sendiri,
Hanya saja dalam bentuk yang lain ~
Serenity. Cm
Sejak kulihat wajahnya,
Setiap objek kusangka dirinya.
Sejak aromamu mulai merasuk,
Hampir setiap yang terlintas bisa membuatku mabuk.
Kaulah yang paling dekat dari surga yang pernah kusinggahi, kuketahui, dan kualami.
Dan aku,
Tak ingin pulang sekarang ~
Serenity. Gm
Namun sayangnya
sejak kutahu kau memilih berpindah semesta,
tanda tanya memaksaku pulang,
tapi entah ke mana.
Sebab
sejak arahnya tak lagi sama,
yang hilang dariku, bukan kau saja
Tapi aku juga ~
Serenity, Cm
Luka adalah api yang membakar ego,
Kasih,
Yang sebenarnya runtuh bukan cinta itu sendiri,
Melainkan ilusi kepemilikan, harapan, dan kendali ~
Serenity. Cm
Ku candui cara angin mengiris telingaku,
Saat anggur memanggang tubuh dari dingin yang menggigilkanku.
Dan pekat rinduku yang lebam merindukanmu,
Membuih jadi malam yang anggun dalam mataku yang diam diam berdoa ~
Serenity. Cm