Ingat dulu pas debat capres, ada sesi di mana para calon diminta untuk bicara di depan cermin?
Ganjar dan Anies mau, tapi Prabowo tidak.
Banyak yang menilai, Prabowo tidak mampu untuk mengevaluasi diri.
Pemimpin yang tidak bisa atau tidak mau melakukan evaluasi diri biasanya memiliki ego yang sangat rapuh, meskipun dari luar terlihat tangguh atau otoriter.
Menolak melihat cermin adalah cara fisik untuk "menutup mata" terhadap realitas.
Jika mereka melihat cermin (atau melakukan muhasabah), mereka akan dipaksa melihat kekurangan, penuaan, kelelahan, atau kesalahan yang telah mereka perbuat.
Untuk melindungi egonya dari rasa bersalah atau perasaan gagal, otak mereka menolak segala bentuk refleksi, baik refleksi visual di cermin maupun refleksi moral dalam pikiran.
Muhasabah diri menuntut seseorang untuk jujur dan bertanggung jawab atas tindakan-tindakannya.
Bagi seorang pemimpin yang anti-kritik atau tidak bisa mengevaluasi diri, kejujuran ini adalah ancaman.
Menatap mata sendiri di cermin adalah salah satu tindakan psikologis yang paling intim.
Saat seseorang menatap matanya sendiri, sulit untuk membohongi diri sendiri.
Pemimpin yang menghindari cermin sering kali takut menghadapi "hakim" yang ada di dalam dirinya sendiri.
Dalam psikologi kepemimpinan, ada yang disebut dengan Hubris Syndrome, kondisi di mana seorang pemimpin memiliki rasa percaya diri yang berlebihan, merasa selalu benar, dan memandang rendah pendapat orang lain.
Sekilas, orang narsis dianggap suka melihat cermin. Namun, ada jenis narsisisme defensif di mana orang tersebut sebenarnya sangat rapuh.
Mereka tidak mau mengevaluasi diri karena menganggap diri mereka sudah di atas angin.
Menghindari cermin atau menghindari muhasabah adalah cara mereka mempertahankan ilusi kesempurnaan tersebut agar tidak runtuh.
Ketika seorang pemimpin mengambil keputusan yang buruk atau merugikan orang lain, terjadi konflik batin antara tindakan mereka dengan nurani mereka.
Jika mereka tidak mampu mengevaluasi diri secara sehat, mereka akan mengalami disonansi kognitif yang parah.
Daripada memperbaiki diri (muhasabah), mereka memilih untuk memutus jalur komunikasi dengan diri mereka sendiri.
Menghindari cermin adalah simbol dari putusnya hubungan antara ego (pencitraan luar) dengan alter-ego atau nurani mereka.
Guys, ada analisis dari Rocky Gerung yang menurut gue paling tajam dan paling berani tentang dua hal yang terjadi bersamaan minggu ini penangkapan kepala BGN dan kondisi Indonesia di tengah tekanan geopolitik global.
Dan yang menarik:
Rocky bicara ini langsung dari depan White House di Washington DC.
Bukan kebetulan karena konteks globalnya sangat relevan dengan apa yang sedang terjadi di dalam negeri.
Pertama tentang penangkapan kepala BGN yang Rocky langsung komentari:
"Korupsi di MBG itu betul-betul memperlihatkan bahwa kepekaan terhadap orang miskin bahkan diabaikan hanya karena keserakahan.
Astraekonomiks itu ada di sekitar kiri kanan muka belakang dari Prabowo."
Rocky menggunakan istilah astraekonomiks merujuk pada lingkaran orang-orang serakah di sekitar presiden yang justru Prabowo sendiri sering sebut sebagai musuh yang harus diberantas.
Dan dia menambahkan dengan kalimat yang menurut gue paling menohok:
"Prabowo bilang akan kejar koruptor sampai Antartika. Sekarang yang dikejar ada di sekitar kita sendiri lebih baik ke 'antara kita' dulu sebelum ke Antartika, Pak Presiden."
Dan ini tentang apakah penangkapan ini tanda keseriusan Prabowo:
Rocky memberi analisis yang tidak hitam putih dan ini yang paling jujur dari seluruh komentarnya.
Dia mengakui ada yang positif:
ada konsistensi Prabowo mendengarkan tekanan publik. Penangkapan kepala BGN.
Kasus Andre Yunus yang dikembalikan ke peradilan umum setelah tekanan masyarakat sipil.
Tom Lembong yang mendapat perhatian.
Tapi Rocky menekankan satu hal yang sangat penting:
"Kalau enggak ada tekanan publik Presiden
tidak akan bereaksi radikal.
Ini kemenangan masyarakat sipil
bukan inisiatif presiden."
Artinya: penangkapan ini bukan bukti bahwa sistem sudah berjalan dengan sendirinya.
Ini bukti bahwa tekanan dari luar masih menjadi faktor penentu apakah presiden bergerak atau tidak.
Dan selama itu masih menjadi pola maka harapan itu ada tapi sangat bergantung pada seberapa keras suara publik terus berbunyi.
Dan ini tentang masalah struktural terbesar yang Rocky identifikasi:
Rocky melihat ada gap yang sangat berbahaya antara presiden dan kabinetnya.
Prabowo terbang ke sana sini bertemu Putin, Xi Jinping, Trump. Bermain di level geopolitik internasional yang sangat tinggi. Itu sah dan bahkan diperlukan.
Tapi di dalam negeri kabinetnya tidak beroperasi pada level yang sama.
Menterinya bicara semau-maunya tanpa koordinasi. Kebijakannya tumpang tindih.
Dan yang paling parah:
setiap kali ada kekacauan dari kebijakan menteri yang harus turun tangan membatalkan adalah presiden sendiri.
"Ada jarak antara kecerdasan dan kecerdikan presiden yang bolak-balik ke luar negeri dengan yang tidak dipahami oleh lingkungan di sekitarnya."
Dan solusi Rocky sangat tegas:
"Presiden harus ubah 75% kabinet.
Radical break. Karena tanpa itu semua momentum internasional yang dibangun presiden akan terus dirusak dari dalam."
Dan ini tentang konteks global yang membuat situasi Indonesia makin berat:
Rocky berbicara dari Washington bukan kebetulan. Karena keputusan yang dibuat di White House dan di Wall Street langsung terasa di Jakarta.
Selat Hormuz pintu lewatnya hampir separuh minyak dunia dan 25% konsumsi energi Asia sedang dalam ketegangan. Kalau Hormuz terganggu harga minyak melonjak. Rupiah makin tertekan.
Indonesia yang 100% impor energi langsung kena dampaknya.
Dan bersamaan dengan itu:
Moody's sudah menurunkan outlook Indonesia.
MSCI sudah mencoret saham-saham Indonesia. Investor asing sudah keluar dalam jumlah besar.
Rocky menyebut ini sebagai kondisi di mana MBG dan geopolitik bertabrakan:
"Level ekonomi kita diturunkan oleh Moody's dan MBG jadi masalah. MBG artinya Moody's Broke the Game. Game dari mereka yang enggak ngerti."
Maksudnya: korupsi di program paling flagship presiden di saat yang bersamaan dengan tekanan eksternal dari lembaga rating internasional menciptakan double blow yang sangat merusak kepercayaan.
Dan ini tentang fenomena politik yang paling menarik dari analisis Rocky:
Rocky menyebut kita sedang hidup di era hiperpolitik kebalikan dari era antipolitik sebelumnya.
Dulu orang tidak mau bicara politik. Sekarang semua orang bicara politik setiap hari, setiap jam, di semua platform.
Tapi ironisnya: semakin banyak orang bicara politik semakin tidak efektif suara itu disalurkan. Partai oposisi tidak berfungsi.
'
Gerakan buruh terbatas.
Satu-satunya saluran yang tersisa adalah media sosial dan tekanan publik langsung.
Dan itu yang terbukti bekerja dalam kasus MBG ini.
"Ini paradoks politik global sibuk bicara politik tapi suara publik ditutupi oleh aktivitas intelijen dan deep state. Yang masih bisa menembus adalah tekanan sipil yang konsisten dan tidak berhenti."
Rocky melihat ada harapan kecil tapi harapan itu sangat kondisional. Prabowo terbukti bisa bergerak ketika tekanan publik cukup kuat. Itu berarti masyarakat sipil punya pengaruh nyata.
Tapi selama kabinet tidak dirombak secara fundamental setiap langkah maju presiden akan terus disabotase dari dalam oleh mereka yang tidak satu visi dengannya.
Dan di tengah tekanan dari Selat Hormuz, dari Wall Street, dari Moody's, dari MSCI Indonesia tidak punya banyak waktu untuk terus menggunakan energi presiden buat membatalkan kebijakan menteri-menterinya sendiri.
"Lebih baik ke antara kita dulu sebelum ke Antartika, Pak Presiden."
Guys, Ferry Irwandi baru merilis video yang menurut gue paling berbahaya untuk reputasi Purbaya sebagai Menteri Keuangan.
Bukan berbahaya karena mengandung fitnah.
Tapi berbahaya karena menggunakan matematika.
Dan matematika tidak bisa dibantah dengan narasi.
Tidak bisa dibantah dengan wawancara di TV One.
Tidak bisa dibantah dengan bilang "Anda tidak mengerti ekonomi."
Matematika hanya bisa dibantah dengan matematika yang lebih benar.
Apa yang Purbaya klaim:
Pertumbuhan ekonomi 5,61%
adalah capaian yang membanggakan.
Fundamental kita kuat.
Konsumsi yang menjadi komponen terbesar bukan government spending yang menggerakkan pertumbuhan itu.
Kalimat Purbaya yang paling terkenal soal ini: pertumbuhan 5,61% tidak digerakkan oleh belanja pemerintah yang besar.
Konsumsinya 54,36% jauh lebih besar dari government spending yang hanya 6,72%.
Kedengarannya masuk akal.
Sampai Ferry Irwandi membuka spreadsheet dan mulai menghitung.
Dan inilah yang sebenarnya terjadi dan ini yang membuat gue berhenti:
Ferry tidak membantah bahwa konsumsi lebih besar dari government spending secara persentase komposisi GDP. Itu benar.
Tidak ada yang menyangkal itu.
Yang Ferry bantah adalah logika yang digunakan Purbaya untuk menarik kesimpulan.
Karena yang penting bukan porsi komposisi tapi kontribusi persentase poin terhadap pertumbuhan.
Dan ketika dihitung dengan benar:
Konsumsi menyumbang 2,94 persen poin dari 5,61%. Investasi menyumbang 1,79 persen poin.
Government spending menyumbang 1,26 persen poin.
Sekarang pertanyaannya:
government spending naik berapa persen untuk menghasilkan kontribusi 1,26 persen poin itu?
21,81%.
Kenaikan tertinggi dalam sejarah modern republik ini. Dalam 10 tahun terakhir range normalnya antara 3 sampai 6 persen. Tidak pernah 21,81%.
Dan Ferry Irwandi melakukan sesuatu yang sangat mematikan:
Dia menghitung counter faktual.
Pertanyaannya: kalau government spending tumbuh normal sesuai rata-rata 10 tahun terakhir yaitu 4,8% bukan 21,81% berapa pertumbuhan ekonomi kita yang sesungguhnya?
Dengan akuntansi: 4,63%.
Dengan ekonometrika memasukkan multiplier effect dari konsumsi dan investasi yang ikut terpengaruh: antara 4,23% sampai 4,43%.
Bukan 5,61%.
Tapi sekitar 4,2 sampai 4,6 persen.
Dan ini yang paling mematikan dari seluruh analisis Ferry:
Purbaya bilang 5,61% adalah salah satu yang tertinggi. Perlu dirayakan. Perlu dibanggakan.
Ferry Irwandi berkata dengan sangat dingin:
"Kalau government spending-nya normal ini bukan salah satu yang paling tinggi.
Ini salah satu yang paling buruk."
Selama 10 tahun terakhir dengan government spending yang normal pertumbuhan 4,2 sampai 4,6% itu ada di bawah rata-rata historis Indonesia.
Jadi yang sedang dirayakan Purbaya setelah dibedah sebenarnya adalah pertumbuhan di bawah rata-rata yang dimanipulasi tampilannya dengan belanja negara yang tidak berkelanjutan.
Dan ini yang bikin gue benar-benar tidak bisa tidur:
Dari mana uang belanja pemerintah yang naik 21,81% itu?
Pendapatan negara naik 10%.
Belanja naik 31,8%. Defisit Q1 saja sudah Rp240 triliun ditutup dengan utang tambahan Rp258 triliun.
Artinya: pertumbuhan 5,61% yang dirayakan itu sebagian besar dibeli dengan utang. Bukan dihasilkan dari aktivitas ekonomi organik rakyat.
Dan utang itu harus dibayar. Dengan bunga. Oleh generasi yang sekarang masih sekolah.
Rakyat yang tabungannya turun dari Rp3 juta ke Rp1,5 juta yang kelas menengahnya menyusut dari 57 juta ke 46 juta tidak merasakan pertumbuhan itu.
Karena pertumbuhan itu bukan untuk mereka.
Pertumbuhan itu adalah angka di kertas yang dibiayai dari kantong masa depan anak-anak mereka.
Dan sementara Ferry Irwandi membuktikan ini dengan ekonometrika:
Purbaya tetap keliling media bilang fundamental kita kuat. Gubernur BI mengganti definisi stabilitas supaya rupiah yang di Rp17.600 bisa disebut stabil. Presiden bilang "mau dolar berapa ribu kek." Dan Ketua Komisi XI DPR bilang yang terdampak orang kaya saja.
Market tidak percaya. D
olar tetap ngacir.
IHSG tetap ambruk.
Investor asing terus kabur.
Karena market membaca data bukan narasi.
Dan yang paling telak dari Ferry Irwandi:
"Kalau memang ada yang salah dari matematika saya mohon dikoreksi.
Dengan keilmuan yang benar.
Pak Purbaya kan sering ngaku ekonom.
Tentu ekonom tidak bernarasi.
Tentu Menteri Keuangan tidak beropini.
Jawablah dengan data."
Sampai hari ini belum ada jawaban dengan data.
Yang ada hanya wawancara di TV One.
Narasi tentang fundamental kuat.
Dan kalimat yang menurut Ferry sendiri tidak perlu direspons tapi tetap menggelikan: "
Anda tidak mengerti ekonomi."
Sementara rupiah terus melemah. Defisit terus melebar. Dan orang yang disebut tidak mengerti ekonomi itu punya 2,3 juta subscriber yang menonton matematikanya dan tidak ada satu pun angka yang bisa dibantah.
Purbaya bilang pertumbuhan 5,61% adalah bukti fundamental kuat.
Ferry Irwandi membuktikan dengan ekonometrika bahwa tanpa government spending yang naik 21,81% angka itu tidak akan tercapai.
Dan kalau spending-nya normal pertumbuhannya salah satu yang paling buruk dalam satu dekade.
Ini bukan soal siapa yang lebih pintar. Ini soal siapa yang jujur dengan data.
Dan ketika Menteri Keuangan memilih cherry picking angka untuk membuat kondisi terlihat lebih baik dari kenyataan bukan hanya dia yang menanggung akibatnya.
Yang menanggung akibatnya adalah rakyat yang tidak tahu bahwa pertumbuhan yang dirayakan itu sebagian besar adalah utang yang sedang dicicilkan ke masa depan mereka.
Guys, ada pernyataan Prabowo yang menurut gue paling berbahaya yang pernah gue dengar dari seorang presiden soal mata uang negaranya sendiri.
Dan dia ngomong ini bukan di forum terbatas.
Bukan slip of the tongue.
Tapi di depan ribuan rakyat dengan penuh keyakinan:
Mau dolar berapa ribu kek
kalian di desa-desa kan enggak pakai dolar.
Yang pusing yang suka ke luar negeri.
Ini bukan candaan.
Ini adalah cara berpikir yang sangat berbahaya.
Gue mau kasih lo contoh nyata negara yang pemimpinnya pernah berpikir persis seperti ini.
Dan apa yang terjadi setelahnya.
Zimbabwe
ketika presiden bilang rakyat desa tidak butuh mata uang yang kuat:
Robert Mugabe selama bertahun-tahun bilang kepada rakyatnya bahwa pelemahan nilai mata uang adalah konspirasi Barat.
Bahwa rakyat desa yang tidak bertransaksi dalam dolar tidak perlu khawatir.
Hasilnya?
Inflasi Zimbabwe mencapai 89,7
sextillion persen per tahun di 2008.
Orang membawa uang keranjang penuh hanya untuk beli roti.
Petani di desa yang "tidak pakai dolar" mendapati hasil panennya tidak bisa dibeli siapapun karena harga berubah setiap jam.
Tabungan seumur hidup hilang dalam semalam.
Mereka akhirnya menyerah dan menggunakan dolar Amerika sebagai mata uang resmi.
Mata uang mereka sendiri sudah tidak ada nilainya sama sekali.
Venezuela
ketika pemerintah melarang rakyat khawatir soal kurs:
Hugo Chavez dan Maduro selama bertahun-tahun meyakinkan rakyat bahwa kurs tidak relevan bagi rakyat kecil.
Yang penting ada subsidi.
Yang penting ada program sosial.
Hasilnya?
Inflasi Venezuela mencapai 1.000.000% di 2018.
Dokter, guru, insinyur semua yang punya pendidikan dan bisa pergi pergi.
Lebih dari 7 juta warga Venezuela meninggalkan negaranya.
Rakyat desa yang "tidak pakai dolar" itu akhirnya mengantri berhari-hari untuk dapat sekarung tepung.
Mereka juga akhirnya terpaksa bertransaksi dalam dolar di pasar gelap karena mata uang mereka sendiri tidak dipercaya siapapun.
Dan sekarang kembali ke Indonesia yang ternyata sangat relevan:
Prabowo bilang rakyat desa tidak pakai dolar.
Tapi benarkah demikian?
Kedelai bahan baku tempe dan tahu yang dimakan rakyat desa setiap hari 90% diimpor dari Amerika Serikat.
Harganya ditentukan dalam dolar.
Ketika rupiah melemah dari Rp13.000 ke Rp17.000 — harga kedelai naik.
Harga tempe naik.
Harga tahu naik.
Penjual tahu dan tempe di desa yang "tidak pakai dolar" itu langsung merasakan dampaknya di meja makan mereka.
Gandum bahan baku roti, mie instan, biskuit yang dikonsumsi rakyat desa 100% diimpor.
Harganya dalam dolar.
Pupuk yang dipakai petani desa untuk bercocok tanam sebagian besar bahan bakunya diimpor.
Harganya dalam dolar.
Obat-obatan generik bahan bakunya sebagian besar diimpor dari China dan India.
Harganya? Dalam dolar.
Rakyat desa tidak pegang dolar secara fisik.
Tapi seluruh kehidupan mereka dari makan pagi sampai obat yang mereka minum harganya ditentukan oleh kurs dolar.
Dan inilah yang paling miris:
Presiden yang seharusnya menjaga kepercayaan pasar terhadap mata uang negaranya justru dengan entengnya bilang kurs dolar tidak relevan bagi rakyat.
Padahal kepercayaan itulah
yang membuat rupiah bisa stabil.
Kepercayaan itulah yang membuat investor mau masuk.
Kepercayaan itulah yang membuat rakyat tidak lari ke dolar dan emas seperti yang sekarang terjadi dan dikhawatirkan oleh ekonom-ekonom kita.
Ketika presiden sendiri tidak menganggap serius pelemahan mata uangnya sinyal apa yang dikirim ke pasar?
Sinyal apa yang dikirim ke investor asing?
Sinyal apa yang dikirim ke rakyat yang tabungannya dalam rupiah?
Bandingkan dengan pemimpin yang serius:
Lee Kuan Yew dari Singapura negara tanpa sumber daya alam apapun menjadikan kestabilan mata uang sebagai prioritas utama pemerintahannya.
Dia tahu bahwa kepercayaan terhadap mata uang adalah kepercayaan terhadap negaranya secara keseluruhan.
Hasilnya?
Singapura hari ini punya GDP per kapita lebih dari 80.000 dolar.
Rakyat Singapura yang "cuma pedagang kecil" pun hidupnya jauh lebih sejahtera dari rakyat kita yang punya sumber daya alam berlimpah.
Bukan karena Singapura kaya alam.
Tapi karena pemimpinnya tidak pernah menganggap remeh nilai mata uangnya.
Pernyataan "mau dolar berapa ribu kek, di desa kan tidak pakai dolar" bukan pernyataan yang menunjukkan ketenangan seorang pemimpin.
Itu adalah pernyataan yang menunjukkan ketidakpahaman atau lebih buruk lagi, ketidakpedulian terhadap bagaimana ekonomi nyata bekerja di tingkat paling bawah.
Rakyat desa tidak pegang dolar.
Tapi rakyat desa makan tempe dari kedelai impor yang harganya dalam dolar.
Rakyat desa bertani dengan pupuk yang bahan bakunya dalam dolar.
Rakyat desa berobat dengan obat yang bahan bakunya dalam dolar.
Ketika presiden tidak peduli dengan kurs yang tidak peduli bukan hanya presidennya.
Tapi seluruh sistem di bawahnya ikut tidak peduli.
Dan ketika seluruh sistem tidak peduli dengan nilai mata uangnya sendiri kita tinggal menunggu giliran menjadi Zimbabwe atau Venezuela berikutnya.
Semoga kita tidak sampai di sana.
Tapi pernyataan seperti ini tidak membuat gue yakin bahwa kita sedang bergerak menjauhi arah itu.
Kasus Chromebook Nadiem ini sebenernya gimana sih, kok bisa dituntut 18 tahun?
Gue coba jelasin pake bahasa bayi, tanpa istilah hukum yang ribet, Versi Jaksa vs Pembelaan Nadiem ⬇️⬇️
Storage HP Android lo penuh.
Lo hapus foto, hapus video, hapus app. Masih penuh.
Karena yang makan storage lo bukan file yang keliatan. Yang kebanyakan makan storage itu sampah TERSEMBUNYI yang Android gak pernah kasih tau ke lo.
Gue bersihin punya gue kemarin dapet 23GB balik tanpa hapus satu foto pun.
Gini caranya:
Hari ini perang AS - Iran pecah 🚀
Apa penyebabnya kok bisa perang?
Jawaban singkatnya :
KARENA GAK SALING PERCAYA dan rebutan buat jadi negara paling berpengaruh di dunia.
Itu aja?
Enggak, sini gue ceritain pake analogi sederhana: