Ada jurnal yang baru terbit di Soil & Tillage Research 2025 yang bikin gua mikir cukup lama.
Penelitinya ngikutin 4 lokasi pertanian di China selama lebih dari 20 tahun, ngebandingin 4 perlakuan pupuk: tanpa pupuk sama sekali, NPK kimia aja, NPK plus jerami jagung, sama NPK plus pupuk kandang.
Yang mereka ukur bukan cuma hasil panen, tapi gimana karbon organik tanah berubah dari tahun ke tahun.
Hasilnya? Perlakuan yang nambahin bahan organik fisik, jerami atau pupuk kandang, ningkatin sesuatu yang disebut Carbon Use Efficiency (CUE) mikroba sebesar 27 sampai 57% dibanding yang cuma pakai NPK kimia.
CUE ini intinya ngukur seberapa efisien mikroba tanah mengubah karbon yang masuk jadi biomassa mereka sendiri, bukan langsung dilepas sebagai CO2. Makin tinggi CUE, makin banyak karbon yang nyangkut di tanah dalam jangka panjang.
Yang menarik, faktor paling kuat yang nentuin nilai CUE itu bukan jenis pupuknya langsung, tapi rasio C:N tanahnya. Lokasi dengan C:N rendah alias nitrogen relatif tersedia lebih banyak, CUE-nya tinggi, dan penumpukan karbon tanahnya juga paling besar.
Ini masuk akal: mikroba yang kekurangan nitrogen harus "bakar" lebih banyak karbon buat cari energi, jadi karbon yang tersimpan makin sedikit.
Tapi ada satu hal yang bikin penelitian ini jujur secara ilmiah. Proyeksi karbon tanah untuk 100 tahun ke depan yang mereka bikin punya rentang ketidakpastian yang lebar banget.
Artinya, model yang kita punya sekarang belum bisa ngasih angka pasti soal seberapa besar karbon bisa disimpan kalau kita ubah manajemen pupuk.
Kondisi lokasi, jenis mikroba lokal, dan tipe bahan organik yang dipakai semuanya ngaruh secara spesifik, dan itu gak bisa disederhanakan jadi satu angka universal.
Buat gua, takeaway-nya sederhana: pupuk kandang dan sisa tanaman itu bukan cuma soal hemat biaya atau tambah bahan organik.
Mereka secara aktif ngubah cara kerja komunitas mikroba di tanah, dan itu yang akhirnya nentuin berapa banyak karbon yang bisa ditahan.
Tapi klaim bahwa praktik ini otomatis menyelamatkan karbon tanah dalam skala besar perlu dikalibrasi ulang per lokasi, bukan diasumsikan berlaku rata.
2024 🇹🇷 religiosity research is published:
- 94% believe in God
- 40% pray 5 times daily, 76% attend Friday prayers
- 56% believe 🇹🇷 constitution shouldn’t contradict the Quran
- 54% women cover their hair
Higher education is associated with lower religiosity, by a big margin
Faktanya, menurut Policy Research Center (PRC) 88,5% manfaat dari Program MBG dinilai mengalir ke elite dan pejabat politik (44,5%) serta mitra dan pengelola SPPG (44,0%).
Bukan kepada anak-anak yang menjadi penerima utama (hanya 6,5%) apalah lagi para guru yg 'hanya' kecipratan repotnya saja.
Obrolan yg saya curi dengar dari para mitra/pengelola SPPG di acaranya Badan Gizi Nasional di Bekasi kemarin juga topik fokusnya ke mereka. Mereka yg denial juga adalah bagian dari 88,5% 'penerima manfaat'.
Rupiah melemah 24% terhadap Ringgit dalam 10 tahun. Lucunya, 23%-nya terjadi hanya dalam 15 bulan terakhir.
1 Ringgit:
• Maret 2015: ~3,500 Rupiah.
• Maret 2024: ~3,300 Rupiah.
• Maret 2026: ~4,300 Rupiah.
Return IHSG 15 bulan terakhir:
• Dalam Rupiah 1.8%.
• Dalam USD -3%.
• Dalam Ringgit -13.6%.
Orang Malaysia bisa beat IHSG 13.6% 1 tahun terakhir cukup dengan taro aset mereka di cash (Ringgit).
Apa yang berubah dalam 2 tahun terakhir?
Malaysia berhasil capture 2 MEGATREND sekaligus: AI supply chain dan supply chain diversification dari China.
Penang jadi ASEAN's Silicon Valley.
AMD, Intel, AI data centers masuk.
FDI masuk, convert ke Ringgit, demand struktural tercipta.
GDP akselerasi +5.2% YoY.
Ini bukan soal global. Ini soal siapa yang punya narrative reform, dan siapa yang belum.
Rupiah melemah bukan karena global.
Faktanya Rupiah melemah terhadap USD, bahkan ketika DXY melemah.
Satu selat jaraknya.
Tapi jarak narrativenya makin lebar setiap bulan.
Sampai Indonesia deliver narrative reform yang comparable, atau lebih baik, divergence ini belum ada alasan struktural untuk berbalik.
Happy Sunday!
Perkiraan kalori yang "terbakar" dalam 1 jam olahraga berdasarkan jenis aktivitas
Berat Badan 68-70 kg
Jalan kaki: 224 kkal/jam
Renang: 476 kkal/jam
Jogging: 544 kkal/jam
Sepeda: 544 kkal/jam
Tennis: 544 kkal/jam
Lari: 1088 kkal/jam
Semoga bermanfaat untuk "membakar" kalori setelah lebaran!
Ga masuk akal banget, bayar article processing charges ke jurnal internasional skrg dikenakan pajak 12%. Dikira ini barang mewah?
https://t.co/2jnLr4T1x5
Di sini ada list penerbit2 yang transaksinya kena pajak: Elsevier, Cambridge, Springer dsb.
Lo bayar IndiHome 325rb/bulan. Katanya dapet 150 Mbps.
Tapi nonton Netflix buffering.
Zoom meeting patah-patah.
Download 1GB nunggu 2 jam.
Masalahnya bukan provider lo, tapi masalahnya di rumah lo sendiri.
Gue fix WiFi rumah dari 12Mbps → 47Mbps.
Tanpa upgrade paket dan tanpa beli router baru.
Gini caranya:
TRICK #1: Browsing mode INCOGNITO.
Kalo bisa beli tiket Traveloka dari browser laptop, jangan pake HP. Dan make sure lo pake incognito.
Chrome: titik tiga → New Incognito Tab
Safari: tab icon → Private
Cookies gak ke-track. History gak kesimpen.
Harga yang muncul = harga "fresh" tanpa markup based on behavior lo.
Mereka naikin harga karena tau lo lagi "desperate". Gimana mereka tau?
1. Lo cek berkali-kali = butuh banget = harga naik
2. Cookies track behavior lo
3. Mendekati tanggal = harga naik
4. Rute populer + lo udah cek = naik lagi
5. HP mahal / lokasi premium = harga beda
Mereka literally adjust harga based on SEBERAPA MAU lo beli.
salah banget, kebiasaan netizen ngomong sotoy ga pake data
Contoh: Shopee itu untung semua lini (yg lain skill issue). hasil riset 2 menit aja buat Shopee tahun 2024 buat E-commerce vs Digital Financial Service (paylater dsb):
Ecommerce:
Revenue: $ 10.8 Billion
Cost of revenue: $ 7.1 Billion
Gross margin: +34%
Digital Financial Service:
Revenue: $ 2.4 Billion
Cost of revenue: $ 0.35 Billion
Gross margin: +85% (lezatnya riba)
ini malah makin kuat case buat buruh demanding better payment / employment regime, Shopee definitely can afford it.
Sumber:
https://t.co/DpXYmAFCer
Andaikan saja seluruh rakyat Indonesia dijamin oleh negara melalui PBI JKN, maka hanya dibutuhkan anggaran 143.2 T setahun utk layanan BPJS kelas 3, yg mau naik kelas bayar selisihnya
Nilai tsb hanya 47.2% anggaran Proyek MBG dan masih lebih kecil dibanding anggaran TNI/Polri
APBN 2026: Berlari di ruang sempit.
Ratio pengeluaran di APBN 2026:
= 43% bunga + cicilan utang
= 8.5% BGN (program MBG)
= 5.9% TNI
= 4.6% Polri
Total = 62%
Sisanya 38% buat seabreg pos lainnya.
Beban bayar utang 43%!!
Why?
Sejak 2015, beban cicilan utang naik 13% per tahun.
Sementara pd periode sama, kenaikan prndapatan hanya 7% per tahun.
Akibatnya jelas : makin tahun beban anggaran buat bayar cicilan hutang makin ngeri.
Bayangkan ibarat gaji enter tiap bulan habis 43% hanya buat bayar cicilan utang.
Kenapa tiap tahun utangnya makin banyak?
Ya kembali lagi : belanja makin tinggi tapi tak diimbangi kenaikan pendapatan pajak dan cukai.
Ini alarm keras dan ciptakan lingkaran setan.
Karena defisit anggaran, maka tiap tahun harus utang baru.
Utang makin banyak.
Cicilan buat bayar hutang makin gila.
Lama lama anggaran negara habis hanya buat bayar cicilan hutang.
Scary.
Solusi :
- kurangi anggaran belanja yg super boros.
Misal anggaran belanja pegawai 500 triliun.
Anggaran mbg 300 triliun.
Kalau dari dua pos itu bisa dihemat 30% saja, akan ada sisa 240 triliun.
- solusi kedua adalah naikkan pendapatan pajak. Kata Prof Chatib, jumlah pegawai pajak KPP Madya amat kurang.
Chatib bilang kenaikan jumlah SDM pajak akan naikkan pendapatan pajak TANPA harus naikkan tarif pajak.
Chatib bilang banyak perusahaan madya dan besar tak bayar pajak dg akurat krn jumlah sdm pajak yg kejar big company amat kurang.
Dua solusi itu relatif mudah dilakukan.
Tujuannya agar turunkan beban bayar hutang dari 43% ke angka 30% saja.
Kalau beban cicilan bayar hutang makin tinggi, hampir pasti RI akan jatuh dlm middle income trap.
Negara RI bisa spt Brazil atau Argentina. Bukan spt China atau Vietnam.
Stuck.
Going nowhere.