Kurikulum paling cocok buat rumpun sains tuh K13
Semua disusun rapi mulai prasyarat sampai level kompleks, yang kemudian diacak-acak Kumer dengan dalih menyesuaikan kebutuhan murid dan satuan pendidikan
OP ini ngejelasin menurut psikologi, momen ketika manusia paling merasa bahagia sebenarnya...
Bukan saat sedang bermain, bukan saat sedang makan, dan bukan juga saat sedang menghasilkan uang.
Tapi saat benar-benar tenggelam dalam mengerjakan sesuatu yang tingkat kesulitannya pas dengan kemampuan kita.
Kondisi ini disebut “flow state”.
Kalau kita menganggap “yang mudah = bahagia”, lama-lama manusia justru bisa bosan. Tantangan yang cukup, tapi masih terasa mampu dijalani, justru bisa bikin kita merasa puas dan menikmati prosesnya.
Aku kasih contoh ya. Misalnya:
🎨 Gambar: kamu suka gambar, lalu mencoba menggambar karakter yang sedikit lebih sulit dari biasanya. Susah, tapi masih bisa dikerjakan sampai nggak sadar udah 2 jam.
🎮 Main game: levelnya nggak terlalu gampang, tapi juga nggak mustahil. Kamu harus mikir dan fokus, lalu pas akhirnya berhasil rasanya puas banget.
✍️ Nulis: kamu lagi bikin tulisan yang cukup menantang, tapi idenya ngalir. Sampai lupa cek HP karena terlalu fokus.
📚 Belajar: kamu ngerjain soal yang awalnya bikin mikir keras, tapi setelah beberapa kali mencoba akhirnya paham. Rasanya, “OH, GUE NGERTI!” Nah, itu juga bisa jadi flow.
💻 Kerja: dapat tugas yang sedikit di atas kemampuanmu, jadi harus mikir dan belajar, tapi masih bisa kamu selesaikan. Saking fokusnya, tahu-tahu udah beberapa jam.
Jadi kamu ngerjain semuanya bukan karena merasa “harus”, tapi karena tantangannya pas. Capek iya, mikir iya, tapi nggak terasa jadi beban.
Malah muncul perasaan, “Wah, seru juga. Gue bisa ternyata.” Dan mungkin justru rasa puas setelah berhasil melewati tantangan itulah yang bikin kita merasa bahagia.
KPU admits it never directly verified Gibran Rakabuming Raka’s educational credentials with the education office during his 2024 vice presidential bid.
(https://t.co/MZ880og9nq)
Izin saya tambahkan ya Mbakyu lulusan PPE Oxford terkait masalah kualitas guru selain masalah kesejahteraan guru dan kebelet bikin open-ended assessment, berdasarkan pengamatan saya sebagai orang yang sekolahnya di sekolah negeri:
- Rasio jumlah guru dan peserta didik masih timpang, makanya kita sering menjumpai 1 guru ngajar beberapa mapel, atau 1 guru ngajar 1 mapel di banyak kelas (1 kelas ≈ 30 siswa) sekaligus. Dengan beban kayak gini, kita sulit untuk berekspektasi soal kualitas pengajarannya, jadi boro-boro pake metode pengajaran yang bisa lebih dipersonalisasi untuk setiap siswa atau bikin guru harus menilai jawaban 30-120 siswa di ujian open-ended 🤡🤡🤡 ujung-ujungnya siswa yang dituntut untuk cepat paham demi ngikutin pace si gurunya.
- Pempus hobinya ganti-ganti kurikulum tanpa bener-bener mikirin pengelolaan change management-nya gimana, terlalu top-down lah bisa dibilang. Guru “dipaksa” untuk segera beradaptasi dengan standardisasi yang baru. Gua sendiri ngalamin hidup di 2 kurikulum berbeda (KTSP, Kurikulum 2013) dan gua gak merasa ada yang berbeda secara signifikan. Seharusnya pempus (dalam hal ini Kemendikbud) tuh kalo ngegelontorin kebijakan baru, bikin yang lebih bottom-up gitu lho biar lebih tepat guna. Tapi ya iykyk lah gak ganti kurikulum = gak ada proyek.
- Pelatihan guru cenderung top-down dan sekali jalan (workshop sehari terus selesai), sering gak nyambung dengan masalah konkret yang dihadapi guru di kelasnya masing-masing. Gak ada pendampingan atau coaching berkelanjutan pascapelatihan, jadi materi baru itu jarang benar-benar terinternalisasi jadi perubahan nyata dalam cara mengajar.
- Beban administratif nonakademis (laporan akreditasi, administrasi kurikulum, laporan kinerjanya sendiri, jadi wali kelas, panitia PPDB, panitia input rapor SNMPTN, pembina ekskul) yang numpuk banget. Waktu yang seharusnya dipakai buat nyiapin materi atau media ajar yang lebih baik jadi terpotong buat ngurusin kerjaan yang gak linier dengan tugas fungsi utamanya.
- Gua udah bosen denger orang-orang mengaitkan gaji guru kecil -> bikin jumlah orang yang mau jadi guru sedikit, ketika sebenernya ada masalah nyata lainnya di lapangan yang jarang di-highlight orang-orang di Twitter: ilmu pengetahuan akhirnya di-gatekeep oleh guru itu sendiri yang bikin semacam “les tambahan” di luar jam mengajar untuk murid-murid yang mau membayar. Saking desperate-nya.
Ketika negara gagal mengelola guru, percayalah kita-kita sebagai murid jadi korbannya juga.
Dan ini belum ngomongin kondisi di wilayah 3T. 🙂
BMKG sudah rilis Peta Simulasi Dampak dan Mitigasi Megathrust wiayah Jawa
Nah, apa yang bisa kita lakukan dan persiapkan?
1. Pahami Lingkungan Sekitar kita
- Cek peta kerawanan bencana di wilayah masing-masing
- Ketahui rute evakuasi menuju tempat tinggi
- Tandai titik kumpul aman terdekat di lingkungan rumah dan tempat kerja
- Ketahui lokasi pengungsian akhir yang sudah ditentukan pemerintah daerah
2. Persiapkan Tas Siaga Bencana (TSB) Isi satu tas ransel dengan kebutuhan dasar untuk 3 hari:
- Air minum dan makanan instan/tahan lama
- Kotak P3K, obat-obatan pribadi, dan sanitasi
- Senter, baterai cadangan, dan peluit untuk alat panggil bantuan
- Powerbank dan pakaian ganti secukupnya
3. Amankan Dokumen dan Aset Penting
- Simpan berkas penting (ijazah, sertifikat, akta, surat berharga) dalam wadah anti air
- Buat salinan digital di penyimpanan awan (cloud)
- Siapkan surat wasiat atau catatan aset keluarga di tempat aman sebagai antisipasi risiko terburuk
4. Diskusi dengan Keluarga terkait Rencana Darurat
- Buat kesepakatan jalur komunikasi jika jaringan seluler terputus
- Tentukan siapa bertugas membawa apa saat situasi darurat
- Simpan nomor-nomor darurat lokal di ponsel (BPBD, ambulan, polisi, pemadam dll)
Kalau ada simulasi mandiri bisa diikuti secara berkala ya manteman.
Bencana tidak bisa kita prediksi kapan datangnya, tapi dampaknya bisa kita tekan dengan persiapan yang matang.
Tetap tenang, rasional, dan terus tingkatkan literasi kebencanaan kita.
Mari saling jaga dan saling ingatkan...