Dr. Gabor Maté bilang, sekitar 80% penderita penyakit autoimun itu perempuan. Kenapa bisa gitu?
Katanya sih, sebelum seseorang jatuh sakit, dia hampir selalu nemu pola kepribadian dan latar belakang kehidupan yang mirip.
Gue makan gorengan tiap hari. Kopi manis pagi siang.
Mie instan jam 11 malam. Tidur berantakan, sering ketiduran di sofa depan TV.
Istri gue kebalikannya. Makan sayur. Rutin olahraga. Tidur teratur. Waktu cek kesehatan bareng, gue pikir gue yang bakal kena tegur.
Tapi yang diminta duduk lebih lama sama dokter...
bukan gue.
Istri gue. Dan gue bingung.
Tapi dokter engga.
yaa iyalah, beliau kan baca hasil lab. Bukan baca emosional
gue dulu juga mikirnya gini. but now i realize, sometimes orang ngejauh bukan sengaja mau nyakitin, tapi karna mereka ga bisa handle conflict, takut confrontation, emotionally overwhelmed, atau emang belom punya emotional maturity buat explain their feelings properly
Aku setuju dengan statement ini:
"Bahwa hidup akan jauh lebih tenang ketika kita tahu batasan. Not everything is our attention, not everything deserve our energy. Ada banyak hal yang lebih baik dibiarkan berlalu, tanpa harus selalu kita dengar, kita bahas, ataupun kita lihat".
Banyak orang lagi silent struggle. Keliatanya fine, ketawa, jalanin hari kayak biasa. Padahal deep down-nya lagi capek-capeknya bertahan.
So, be kind. Always. Kita ngga pernah tahu seberapa berat dunia seseorang hari ini.
Tiba-tiba keinget kata Habib Jafar:
“Yang tidak sampai ke kita, tidak perlu dicari tau.
Yang sampai dari mulut orang lain, tidak perlu dipercaya.
Dan yang sampai langsung dari orangnya, dimaafkan.”
Orang dewasa punya standar tinggi kalau ketemu anak kecil.
Di mata orang dewasa, anak harus ceria, harus mau respon segala pertanyaan, harus mau salim, harus mengikuti norma sosial dengan perfect.
Anak kecil teriak dikit
"Gak diajarin ortunya ya?"
Anak kecil nangis
"Kok cengeng sih?"
Anak kecil slow to warm up
"Masih kecil udah introvert ya"
Anak kecil ikut ortu nongkrong, bosen, butuh input stimulus lain
"Rewel ya ternyata"
Kata gw mah elu yg rewel. Udah dewasa tapi judgemental banget ke anak-anak. Anak kecil tuh sedang belajar memahami dirinya sekaligus memahami dunia yang semua isinya tuh besar-besar. It gets too overwhelmed sometimes. It's a part of the growth process. Mari kita jadi orang dewasa yg wajar gitu lho.
Menurut gw, having a child itu keputusan yang paling sakral dalam hidup manusia. Bahkan daripada menikah.
Karena kita menghadirkan satu jiwa baru lagi di dunia yang seperti ini. Yang one day kita akan lepasin gitu aja, sementara kita jg akan dimintai pertanggungjawaban.
Sayangnya, banyak orang mikir punya anak sekadar ngelahirin, ngasih makan, udah.
Padahal tiap manusia punya kebutuhan dasar dan banyak hak, sampai aspirasi dan cita2 yang menurutku parents musti turut bertanggungjawab.
btw, buat yang tahun ini pulkam dan di kampungnya ada pantai, kalo nemu bola² bundar gini jangan dihancurin ya wkwkwkw
karena itu yang udah dibundar-bundarin sama si kepiting adalah pasir yang udah dia periksa untuk cari makanan. biasanya plankton.
jadi kalo kita dengan sengaja injek dan hancurin, itutuh kemungkinan bikin dia kerja ekstra karna harus periksa lagi semuanya dari awal 😭😭