Doni Oskaria bilang defisit Q1 melebar karena "front loading".
Buat kita orang biasa artinya apa?
Artinya: Pemerintah belanjain duit duluan buat program yang langsung menyentuh rakyat seperti MBG, pupuk subsidi, irigasi dan bansos.
Kalau nunggu pemasukan masuk dulu baru belanja, MBG baru jalan bulan 7. Anak sekolah 6 bulan nahan lapar. Irigasi baru dibangun pas kemarau lewat. Ya telat. Makanya duitnya dikeluarin cepat di Q1, biar Januari anak udah makan bergizi, petani udah dapat air.
Terus defisitnya bahaya gak? Gak ya. Kayak kita gajian aja Tanggal 1 bayar kontrakan dan bayar sekolah.
Dompet kosong.
Tanggal 25 THR dan bonus masuk, dompet penuh lagi. Negara juga gitu.
Q1 belanja, Q2-Q3 pajak dan PNBP masuk.
Target defisit <3% tetap aman. Yang penting rakyat duluan yang diuntungin.
Makin hari makin jelas: gerombolan ini panik berat. Zona nyaman mereka mulai retak, kekuasaan lama ketika partainya berkuasa mulai goyah, jadi satu-satunya senjata tinggal narasi sesat adu domba Presiden & Wakil Presiden.
Tiap hari mereka rekayasa cerita: “Geng Solo ada dibalik kekacauan”, “Prabowo dikepung dari dalam”, “ada konflik istana”, “ini manuver Jokowi Circle”. Semua dibungkus analisis palsu, quote tak jelas, dan screenshot editan. Tujuannya cuma satu: menciptakan perpecahan supaya Prabowo-Gibran goyah.
Padahal fakta di lapangan? Presiden & Wakil Presiden tetap solid menjalankan pemerintahan. Tidak ada retak yg mereka harapkan. Yang retak justru mental gerombolan kalian yg terbiasa main aman di zona nyaman era sebelumnya, tau kan partainya apa?
Ini kerjaan orang-orang yg takut partainya kehilangan pengaruh kepercayaan publik, partainya makin nyungsep.
Takut karena duet Jokowi-Prabowo-Gibran ternyata lebih kuat dari yg mereka prediksi. Takut karena rakyat mulai bosan dgn provokasi murahan. Takut karena narasi lama mereka sudah basi & tak laku lagi.
Jadi setiap ada gejolak kecil—harga naik, kebijakan baru, atau isu luar negeri—langsung dikaitkan jadi “bukti” konspirasi gulingan. Itu bukan analisis, itu racun politik yg sengaja disebar untuk mengadu domba.
Pesan buat gerombolan pembuat narasi sesat:
Zona nyaman kalian memang sdg terganggu.
Tapi jangan kira dgn adu domba murahan ini kalian bisa balik menguasai.
Rakyat semakin pintar. Mereka lihat siapa yg kerja, siapa yg cuma bisa ngomong & memfitnah dari balik akun media sosial.
Presiden & Wakil Presiden solid.
Yang goyah justru kalian—gerombolan yg kehilangan zona nyaman & hanya bisa bertahan dgn kebohongan seolah olah partainya masih dipercaya rakyat.
Kerja yg benar, benahi internal partai kalian. Berhenti racuni bangsa dgn narasi adu domba. Itu yg bikin negara maju, bukan provokasi kalian yg sudah terbongkar.
*Video dari iNews
Kunjungan Ragowo Hediprasetyo (Didit Prabowo) putra Presiden Prabowo ke rumah Pak Jokowi di Sumber, Banjarsari, Solo hari ini.
Di tengah hiruk-pikuk demo mahasiswa & kelas menengah urban yg berteriak “tolak kenaikan Pertamax demi rakyat kecil”, kita disuguhkan sandiwara yg memuakkan sekaligus lucu.
Mereka yg tiap hari nyetir mobil 1.500 cc ke atas, bensin Pertamax, AC nyala 24 jam, kopi latte Rp45rb, tiba-tiba jadi paladin pembela rakyat miskin. Spanduk penuh amarah: “Rezim pengkhianat rakyat!” sambil tuntut harga BBM premium turun. Padahal Pertalite yg disentuh kantong rakyat kecil tetap Rp10.000. Solar subsidi pun dijaga.
Ini bukan solidaritas. Ini kemarahan karena privilege-nya tersentuh.
Orang miskin naik motor bebek tua pakai Pertalite atau angkutan umum. Yg meraung paling kencang justru mereka yg selama ini menikmati BBM murah sambil posting “peduli sosial” di IG. Sekarang harga pasar naik, langsung jadi aktivis revolusioner.
Lebih brutal: subsidi BBM blanket puluhan tahun itu pencuri diam-diam dari rakyat kecil. Uang negara yg seharusnya buat BLT, sekolah, puskesmas & infrastruktur pedesaan, malah mengalir deras ke tangki mobil mewah kelas menengah atas.
Sekarang pas pemerintah berani tegakkan harga pasar buat segmen premium, mereka berteriak paling lantang dgn kedok “membela rakyat”.
Ini bukan perjuangan. Ini histeria kelas menengah yg kehilangan kenyamanan, dibungkus retorika populis murahan. Mereka bukan bela rakyat kecil. Mereka bela dompet sendiri, sambil pinjam wajah petani & buruh yg jarang mereka jumpai di jalanan demo.
Kalau memang tulus bela yg lemah, tuntut targeting subsidi yg tepat. Tuntut transportasi publik layak. Tuntut diversifikasi energi. Bukan paksa negara subsidi gaya hidup kelas menengah dgn uang rakyat.
Sandiwara ini sudah terlalu lama. Rakyat kecil bukan bodoh. Mereka tahu siapa yg sebenarnya menari di atas penderitaan mereka—sambil pura-pura menangis buat mereka.
Pertandingan Timnas Indonesia melawan Oman Jumat malam (5/6) menjadi tontonan yang sangat menggembirakan bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Permainan Timnas kita sangat baik di segala lini sehingga mampu meraih kemenangan meyakinkan dengan skor 3-0.
Selamat untuk Timnas Indonesia. Tetap semangat dan teruslah bekerja keras demi memberikan kebanggaan bagi bangsa dan negara.
Polda Metro Jaya: Berkas perkara Roy Suryo dan dr Tifa dalam kasus tudingan ijazah palsu Presiden ke-7 RI Jokowi dinyatakan lengkap (P21) oleh Kejati DKI Jakarta. Roy Suryo-dr Tifa Segera Disidang. https://t.co/1dOMhSYEc3
@SultanH04160212@DjogdjaKembali@CheGueva12345@sn_ari
Sarapan sambil lihat video bisa keluar air mata padahal gak makan sambel.
Cinta kasih seorang bapak rela berkorban untuk putrinya.
Usaha seorang ayah, agar anaknya terus naik ke permukaan laut terlihat jelas walau dia sendiri sudah kelelahan dan hampir tenggelam.
Beruntung penjaga pantai paham, bahwa mereka sedang dalam bahaya bukan sedang bermain.
Terlambat sedikit dalam memahami keadaan, bisa terlambat dan makan korban.
✈️Air Force One Trump lewat dekat dengan RAUNGAN mesinnya...
Tentara China tetap tegak seperti patung.
Bukan cuma disiplin, ini simbol mental baja yang tak tergoyahkan. 🔥
~ 🛩🛫🛬✈️
Gak perlu banyak teori, video ini udah jadi bukti kalau Jokowi tetep center of gravity politik Indonesia, mau kalian suka atau enggak❗ Lucu aja ngeliat Anak Abah dan Anak Banteng capek-capek bikin koalisi sakit hati, tapi di dunia nyata kalah telak sama fakta
18 tahun. Itu tuntutan jaksa buat seseorang yang udah ngabisin waktu bertahun-tahun mencoba memajukan negara ini. Terlepas dari kamu setuju atau gak sama pandangan politiknya, coba deh renungin baik-baik angka itu.
Ini bukan kejadian yang pertama kali. Indonesia itu punya pola yang diam-diam menghancurkan: orang-orang pinter, kompeten, dan punya niat tulus masuk ke pemerintahan, tapi ujung-ujungnya malah dihancurin sama sistem. Gak selalu karena mereka bersalah, tapi seringnya cuma karena kehadiran mereka "dianggap mengganggu".
Tapi anehnya, kita terus-terusan nyuruh anak-anak muda terbaik kita: "Masuk dong ke pemerintahan. Mengabdi dong buat negara. Bawa perubahan."
Siapa juga yang mau kalau mereka ngelihat langsung kejadian kayak gini di depan mata?
Siapa pun dalang di balik semua ini, mereka sama sekali gak lagi ngelindungin Indonesia. Mereka justru lagi ngajarin satu generasi orang-orang berbakat kalau jalan paling aman itu ya mending diam aja. Atau sekalian pergi ke luar negeri.
Buat yang suka nyinyir, "Ya udah, pergi aja sana!", tolong berhenti nutupin ego kalian dari kenyataan. Banyak kok orang Indonesia yang super cerdas dan bener-bener cinta sama negara ini. Mereka tetap stay di sini. Mereka ngebangun sesuatu. Mereka nyari cara lain buat berkontribusi di luar pemerintahan, karena masuk ke dalam sistemnya itu terlalu bahaya.
Tapi ini realita yang lebih pahit: sehebat apa pun startup, kreator, atau inovator kita di kancah dunia, KALAU pemerintahnya tetap korup dan gila kuasa, KALAU aturannya gak ngelindungin rakyat atau gak ngasih ruang buat industri berkembang dengan sehat, terus kita sebagai masyarakat bisa berharap apa?
Ini momen yang sedih banget buat Indonesia. Bukan cuma karena ada satu orang yang lagi diadili, tapi karena pesan yang ditangkap sama semua orang pintar dan idealis yang lagi ngelihatin kasus ini: bahwa negara ini sepertinya belum siap buat ngelindungin orang-orang yang berani membawa perubahan.