Narasumber bukan entitas yang statis. Mereka bisa berubah. Bisa menarik pernyataan. Bisa menyangkal juga. Dan perubahan itu tidak selalu berarti bahwa mereka sejak awal berbohong.
Ada banyak kemungkinan, bisa jadi
mengalami tekanan, mendapat ancaman hukum, mengalami intimidasi fisik atau digital, atau mungkin ada tawaran lain.
Karena itu, dalam jurnalisme atau dalam hal ini film dokumenter, perubahan sikap narasumber tidak otomatis dibaca sebagai bukti bahwa laporan sebelumnya salah, dan Papua baik-baik saja. Tetapi juga tidak boleh diabaikan begitu saja. Justru di situlah pentingnya verifikasi berlapis dan prinsip informed consent.
Narasumber adalah manusia yang berada dalam relasi kuasa. Semoga Mama Yasinta sehat selalu.
“Wong Jawa kuwi ora asal ngomong… nanging niteni.”
(Orang Jawa itu tdk asal bicara, tapi mengamati)
Dulu, ketika orang tua menyebut
bunga lempuyang sebagai “pakan ulo”, itu bukan karena ular memakan bunga.
Tapi karena mereka melihat pola…
Titenan sing kedaden (pengamatan yg terjadi)
Tanaman lempuyang tumbuh di tempat lembab dan teduh
Di situ sering muncul serangga, kodok, lan tikus cilik
Dan di situlah… kadang terlihat ulo liwat utawa ndhelik
Dari situ lahir pemahaman sederhana
“Yen ana lempuyang, asring ana ulo.”
Bahasa sederhana, makna dlm
Orang dulu tdk menjelaskan dgn istilah :
ekosistem
rantai makanan
habitat predator
Tapi cukup dgn satu kalimat
“Iki pakan ulo.”
Padahal maksudnya
“Iki panggonan sing disenengi ulo.”
Ilmu titen : sains versi rasa
Ilmu titen bukan teori tertulis,
tapi hasil :
-melihat berulang-ulang
-mengingat kejadian
-menyimpulkan pola alam
Tanpa buku
Tanpa laboratorium
Tapi selaras dgn ekologi modern
Pesan tersembunyi)
Lewat istilah itu, orang tua sebenarnya sedang bilang
“Aja sembrono… alam kuwi ana tandhane.”
(Jangan sembarangan… alam itu punya tanda)
Kadang yg terdengar seperti mitos,
sebenarnya adalah pengetahuan yg disederhanakan.
Dan dari lempuyang itu kita belajar
bahwa alam selalu memberi isyarat tinggal kita… mau niteni, atau tdk.
Lukisan tentang 37 "buah" Pulau Jawa. Di belakang, ada pria Jawa yang memikul buah-buahan. Antara tahun 1847-1865.
Tiap buah ada nomornya, yang menunjukkan sebutan buah itu di Jawa (tulisan kecil-kecil di bawah gambar).
Tak terlihat di sana: coklat, melon, pir, apel, anggur.
Generasi pembaca berikutnya mungkin akan lebih familiar dengan nama Tere Liye, Dee Lestari, Ika Natassa, JS Khairen. Mereka akan asing dengan nama Pramoedya Ananta Toer.
Setelah beberapa kali pengalaman, kayaknya gw harus lebih percaya review user goodreads ketimbang akun akun "bookstagram-booktok" yang kasih rekomendasi dan ngeviralin judul novel populer.