tadi pagi sarapan di hotel semeja bareng joaquin, bilang “bisa ya jok hari ini lawan hokob?” “bisa dong kak, bisa yakin” “gua suka mental lu dek”
pdhl dia lg berduka bgt, kakeknya di kremasi siang ini. keren lu jok!🥹
🥹🥹💙
Sebenarnya dari awal Thomas Cup, atau setidaknya setelah Prancis menghadapi Thailand, banyak yang khawatir dengan strategi Prancis ini.
Untuk yang belum tahu, karena tadi melintas di timeline juga masih ada yang bingung, format pertandingan asli Thomas-Uber itu selang-seling:
tunggal-ganda-tunggal-ganda-tunggal.
Tapi karena Prancis memainkan Christo Popov dan Toma Junior Popov di nomor tunggal dan ganda. Otomatis urutan main jadi tiga partai tunggal duluan.
Di nomor tunggal, Prancis punya Christo (peringkat 4), Alex Lanier (10), dan Toma Junior (17).
Karena Toma Junior jadi tunggal ketiga dan Popov bersaudara itu ganda nomor satu Prancis, otomatis bergeser lagi urutan partai ganda pertama.
Jadi dalam aturan, gak bisa seorang pemain turun main dua laga beruntun tanpa jeda.
Dengan aturan itu, Fajar/Fikri yang jadi ganda pertama Indonesia dan main lawan Popov bersaudara harus bergeser main ke partai kelima.
Dalam racikan formasi, tidak akan bisa membendung strategi 3 tunggal main duluan milik Prancis ini.
Yang bisa dilakukan ya mengalahkan mereka di nomor tunggal yang jadi andalan mereka.
Hal itu yang berhasil dilakukan Thailand, dan tidak bisa diikuti Indonesia.
Ahsan/Hendra mode 2019 rasanya tidak akan terjadi andai Herry IP tidak pilih Fajar/Rian untuk tampil di Asian Games.
Ahsan/Hendra tak punya kesempatan mempertahankan status juara Asian Games yang mereka rebut di tahun 2014 karena tak terpilih tampil di Asian Games 2018 yang berlangsung di Indonesia.
Saat itu, Herry IP memutuskan untuk memilih Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto untuk jadi wakil di ganda putra bersama Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon.
Keputusan Herry IP itu pada akhirnya berbuah manis. Kevin/Marcus vs Fajar/Rian terjadi di final Asian Games yang kemudian dimenangkan dengan cara dramatis oleh Asian Games.
Secara tidak langsung, keputusan Herry IP itu juga berbuah manis untuk Ahsan/Hendra.
Ahsan dan Hendra berdiskusi mengenai kelanjutan karier mereka. Kegagalan tampil di Asian Games jadi salah satu landasan berpikir untuk mengambil langkah selanjutnya.
Bila ingin santai menjalani sisa karier, mereka bisa tetap bertahan di Pelatnas.
Bila masih ingin mengejar kesempatan tampil di Olimpiade 2020, mereka harus keluar Pelatnas. Karena Ahsan/Hendra melihat Pelatnas Cipayung mulai fokus pada regenerasi.
Ahsan/Hendra kemudian pamit untuk keluar Pelatnas Cipayung. Herry IP mengizinkan tapi kemudian ikut bilang ke Susy Susanti agar Ahsan/Hendra tetap diizinkan berlatih di Cipayung.
Jadilah Ahsan/Hendra berstatus pemain non-pelatnas yang berlatih di Pelatnas. Hanya program pengiriman dan biaya keberangkatan yang mereka atur sendiri.
2019 kemudian berjalan dan akhirnya jadi tahun terbaik Ahsan/Hendra selama berpasangan.
Kalau ada satu laga badminton yang harus ditonton dalam hidup ini, maka salah satu pilihan yang paling layak adalah duel Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir vs Xu Chen/Ma Jin di final Kejuaraan Dunia 2013.
Saat itu, Tontowi/Liliyana tertinggal 18-20 di gim ketiga. Suasana arena di Guangzhou sudah gegap gempita. Penonton tentu saja bersiap menyambut keberhasilan Xu/Ma juara dunia.
Dalam pikiran Tontowi saat itu, doa sang ayah di Tanah Suci Mekkah sepertinya tidak akan kembali terwujud.
Sedikit mundur ke belakang, saat Tontowi mulai merantau ke Tangerang, sang Ibu menitipkan pesan pada Tontowi. Pesan itu diucapkan sang ibu disertai harapan agar Tontowi benar-benar sungguh-sungguh setelah memutuskan karier sebagai pemain badminton.
"Wi, ingat, bapak itu dulu di Mekkah, tiap malam selalu mendoakan kamu jadi juara dunia."
Begitu pesan sang Ibu. Makanya ketika skor menunjukkan angka 18-20, sempat terbersit di pikiran Tontowi bahwa mungkin saja kali ini doa sang bapak belum waktunya terwujud.
"Tapi kalau bukan sekarang, kapan lagi?"
Tekad itulah yang membuat Tontowi dan juga Liliyana tidak menyerah begitu saja meski mereka di batas garis hidup-mati di laga ini.
Bermain dengan penuh tekanan, permainan berikutnya benar-benar mencekam. Liliyana Natsir sudah ditarik ke belakang. Bola selalu diarahkan ke belakang untu Liliyana.
Kondisi itu jelas tidak menguntungkan karena Liliyana seharusnya ada di area depan net untuk mengatur permainan.
Tontowi terlihat penuh waspada di depan net karena ia tak bisa begitu saja melakukan rotasi dengan Liliyana.
Ada momen ketika smes ke arah Tontowi baru bisa dibalikkan saat shuttlecock benar-benar sudah berada di posisi bawah.
Dalam posisi tertekan itu, Tontowi/Liliyana bisa menyerang balik saat pengembalian Ma Jin terlalu lemah sehingga bisa di-smash langsung oleh Tontowi. Skor berubah jadi 19-20.
Penonton masih bergemuruh. Permainan berikutnya, kembali menegangkan dengan pukulan-pukulan tipis di depan net. Ma Jin yang mengangkat shuttlecock terlalu tinggi langsung dipotong oleh Tontowi. Skor 20-20.
Dalam kondisi 20-20, situasi sudah berbeda. Tontowi/Liliyana makin percaya diri sedangkan Xu Chen/Ma Jin makin tertekan.
Rotasi Xu Chen dan Ma Jin tidak berjalan semestinya. Dorongan shuttlecock yang diarahkan Tontowi ke baseline tidak bisa dikembalikan oleh Ma Jin dengan baik. 21-20 untuk Tontowi/Liliyana.
Suara-suara penonton di arena tidak lagi sebising sebelumnya. Dalam permainan berikutnya, Tontowi/Liliyana hanya butuh empat pukulan untuk memastikan gelar juara dunia.
Niat Xu Chen melakukan drive tak berbuah manis. Bola terlalu datar dan memanjang. Tontowi dan Liliyana sama-sama hanya memandang shuttlecock yang melintas karena yakin shuttlecock jatuh di luar lapangan.
Begitu shuttlecock benar-benar dipastikan jatuh di luar lapangan, keduanya bergelimpangan di lapangan merayakan kemenangan.
Salah satu final kejuaraan dunia yang layak dikenang sepanjang masa.
Setelah pertandingan, Tontowi menelepon sang ayah. Di momen itu, sang ayah memberikan pujian pada Tontowi.
Menurut Tontowi, itu adalah kali pertama sang ayah memberikan pujian saat Tontowi jadi juara. Karena sebelumnya, respons sang ayah lebih sering ke arah candaan.
Tontowi sukses mewujudkan harapan orang tua untuk jadi juara dunia. Dan doa sang ayah yang diucapkan saat Tontowi kecil, hari itu, di Guangzhou, terjawab sudah.
NB: Kalau mau langsung nonton bagian menegangkannya langsung bisa mulai di: 1 jam 15 menit.
T.Ahmad/L.Natsir v Xu C./Ma J.|XD-F| Wang Lao Ji BWF World Champ. 2013 https://t.co/bSu7gfvENj via @YouTube
Kekalahan ini sepertinya jadi match point untuk Leo/Bagas dipecah.
Setelah gagal di All England, ada harapan untuk menutupnya dengan sukses di Swiss. Namun nyatanya mereka tak bisa masuk perempat final.
Dengan kualitas individu yang mereka miliki, hasil buruk dalam sekitar 10 bulan terakhir jelas berpengaruh pada mental mereka.
Kemenangan di Thailand kemarin ternyata tidak bisa sepenuhnya mengembalikan mereka ke level terbaik sebagai pasangan.
Untuk mengejar tiket Olimpiade 2026 harus mulai dipikirkan fokus pd 3 MD.
Usul konkret:
✅Daniel Marthin (yg kabarnya sudah mulai sembuh)/Fikri
✅Bagas/Fajar
✅Raymond/Joaquin
Menurut Marcus Gideon, Kim/Seo akan makin susah dikalahkan bila pertandingan berlangsung di arena yang membuat laju shuttlecock lambat. Seperti All England kemarin.
Cepat/lambatnya laju shuttlecock bergantung pada shuttlecock yang digunakan dan kondisi angin di arena pertandingan.
Bila laju shuttlecock lambat, Kim/Seo akan lebih leluasa mengatur bola. Selain itu pukulan dan serangan lawan pun otomatis bisa lebih mudah dikembalikan.
Tak sampai di situ, tenaga yang dikeluarkan pun jadi lebih banyak. Alhasil, butuh tenaga lebih banyak dari pemain untuk bisa meruntuhkan pertahanan Kim/Seo yang aslinya lebih solid.
Peluang untuk mengalahkan Kim/Seo akan lebih besar, menurut Marcus Gideon, bila permainan terjadi di turnamen dengan tipikal arena yang menghadirkan laju shuttlecock cepat. Fajar/Fikri dinilai Marcus Gideon bisa punya peluang lebih bagus bila main di arena dengan tipe seperti itu.
Selain itu, hal lain yang bisa diandalkan adalah servis awal yang bagus. Marcus Gideon menganggap Leo/Bagas bisa punya peluang karena Leo dinilai Marcus punya servis yang bagus.
Dengan servis yang bagus, pemain bisa menekan di 2-3 pukulan awal.
Tapi yang terutama, untuk bisa mengalahkan Kim/Seo dibutuhkan kesabaran, ketenangan, dan fisik serta stamina yang luar biasa.
Karena tidak semua smash bisa langsung tembus. Jadi permainan bakal banyak diisi reli-reli yang menguji fokus dan konsistensi.
Hal itu pula yang kemudian membuat Marcus Gideon ikut penasaran ingin menjajal langsung kehebatan duet Kim/Seo di lapangan.
Status Marcus Fernaldi Gideon soal keinginan untuk comeback:
Marcus ingin comeback karena sang ayah, Kurniahu pernah berpesan agar Marcus main lagi. Pesan itu disampaikan ketika Kurniahu dirawat di ICU sebelum meninggal dunia.
Marcus mengaku serius mempertimbangkan keinginan untuk comeback. Namun masih ada banyak faktor yang mempengaruhi sampai akhirnya ia benar-benar bisa comeback.
Pertama, tentunya kesempatan. Bila ada kesempatan, Marcus juga bakal menimbang soal peluang.
Marcus sudah menegaskan bahwa comeback, andai benar-benar terjadi, tidak akan jadi comeback yang sekadar main-main belaka.
Begitu keputusan comeback benar-benar diambil, Marcus mau comeback itu harus diisi dengan target juara seperti yang biasa ia lakukan. Tak ada istilah 'sekadar comeback'.
Kondisi fisik Marcus Gideon:
- Tubuh Marcus Gideon saat ini terlihat lebih fit dibandingkan saat ia terakhir kali memutuskan pensiun. Bobot tubuhnya turun beberapa kg dan tidak llagi terlihat overweight
- Cedera kaki [tulang tumbuh] yang sempat jadi kendala utama di akhir karier Marcus tidak lagi mengganggu. Marcus menyatakan ia tak lagi mengalami sakit saat bermain.
- Marcus tidak akan benar-benar mulai dari nol soal persiapan fisik ataupun teknik. Ia selama ini rutin main/sparring di klub miliknya. Selain itu, Marcus juga rutin jadi sparring di Pelatnas Cipayung.
Menarik untuk dinanti.
Malam sebelum pertandingan, Hendra Setiawan sudah susah jalan. Kalau mau tidur pun kakinya berasa nyut-nyutan.
Herry IP sudah bilang bahwa kalau memang tidak bisa main, ya sudah mundur saja, daripada sakit.
Hendra lalu pergi ke fisioterapis dan setelah itu Hendra berkata mau coba dulu untuk main di final All England.
Main lawan Aaron Chia/Soh Wooi Yik, Ahsan/Hendra kalah di game pertama. Dengan kondisi cedera, jelas Ahsan/Hendra susah untuk bangkit.
Namun Herry IP kemudian mencoba strategi baru. Hendra diminta berdiam di depan saja dan Ahsan yang cover di belakang.
Tak perlu ada rotasi seperti lazimnya ganda putra. Jadi mereka main serti pola ganda campuran ketika pemain putri lebih banyak berdiam di depan.
Aaron/Soh kagok dengan perubahan itu. Ahsan/Hendra bisa bangkit dan jadi juara All England.
Herry IP menyimpulkan kemenangan itu sebagai: Pertolongan Tuhan dan Mental Juara Ahsan/Hendra.
Raymond/Joaquin Menang!!
Laga yang terbilang sengit dan menegangkan namun bisa berakhir dengan baik untuk Raymond/Joaquin.
Servis Joaquin di kedudukan 19-19 yang mengecoh lawan membuat Raymond/Joaquin bisa lebih tenang karena mendapat match point terlebih dulu.
Raymond/Joaquin pun bisa langsung menekan dan merebut poin ke-21.
#AllEngland
Raymond/Joaquin Menang!!
Laga yang terbilang sengit dan menegangkan namun bisa berakhir dengan baik untuk Raymond/Joaquin.
Servis Joaquin di kedudukan 19-19 yang mengecoh lawan membuat Raymond/Joaquin bisa lebih tenang karena mendapat match point terlebih dulu.
Raymond/Joaquin pun bisa langsung menekan dan merebut poin ke-21.
#AllEngland
Terry/Gloria kalah dari Feng/Huang.
Kekalahan ini adalah kekalahan yang patut disesali oleh Terry/Gloria.
Pasalnya, mereka punya peluang besar untuk membuat kejutan dan menang.
Unggul 14-10 lalu balik tertinggal. Kemudian bisa kembali memimpin 19-17 tapi akhirnya kalah 19-21.
Terry/Gloria benar-benar tampil luar biasa di laga ini.
Terry punya cover lapangan yang bagus di baseline dengan kinerja yang luar biasa.
Gloria juga bisa menekan di depan net sehingga rasanya tadi Terry/Gloria lebih banyak mendapat inisiatif untuk menyerang.
Sayang memang di saat akhir Feng/Huang bisa menemukan cara untuk memancing Terry/Gloria melakukan kesalahan.
#AllEngland
Hendrawan itu banyak dapat situasi sulit setelah Juara Dunia 2001 menuju Thomas Cup 2002 yang rentangnya cuma setahun.
Setelah juara dunia 2001, Hendrawan ranking 1 dunia. Tapi di Thomas Cup 2002 dia jadi tunggal ketiga.
Hal itu tak lepas dari ketidakmampuan Hendrawan beradaptasi dengan cepat pada sistem poin 5x7 yang jadi terobosan baru saat itu dari IBF.
Poin 5X7 masih menggunakan skema pindah bola tetapi jarak finis poin dipangkas setengahnya dan jumlah set adalah lima set alias butuh tiga set untuk meraih kemenangan.
Hendrawan tidak mampu mempertahankan permainan di level elite dan akhirnya peringkatnya terus merosot.
Permainan Hendrawan yang menurun bahkan membuatnya terpikir untuk tidak ikut skuad Thomas Cup lantaran merasa dirinya tidak ada di level terbaik.
Namun pada akhirnya, Hendrawan tetap berangkat berkat dorongan tim pelatih, rekan setim, dan juga PBSI.
Terkait skuad Thomas Cup, Hendrawan juga yang ikut meminta Chairul Tanjung yang jadi Ketua PBSI saat itu untuk membawa pulang kembali Taufik Hidayat dari Singapura bila ingin Indonesia bisa kembali mempertahankan trofi Thomas Cup.
Selain itu, di luar lapangan, Hendrawan juga dipusingkan oleh urusan SBKRI saat mengurus akta kelahiran anak.
Beberapa hari sebelum Megawati Soekarnoputri yang saat itu jadi Presiden Republik Indonesia melepas Tim Thomas Cup, Hendrawan menggelar konferensi pers untuk menceritakan permasalahan itu.
Megawati akhirnya baca berita itu dan meminta urusan tersebut segera diselesaikan. Urusan itu akhirnya beres sebelum Hendrawan berangkat.
Munculnya Hendrawan sebagai MS3 juga bisa dibilang berkah di tengah situasi penuh masalah. Saat laga berlanjut ke partai kelima, Indonesia punya Hendrawan yang berstatus sebagai juara dunia.
Hendrawan tampil di Thomas Cup 2002 dengan hati yang lebih tenang dan tekad kuat untuk terus berjuang.
Pada akhirnya Hendrawan dan kawan-kawan kembali pulang ke Indonesia dengan Thomas Cup di tangan.