"BADAN EKSEKUTIF MAHASEWA INDONESIA"
1. Beda pendapat, lgsg teriakin dan caci maki.
2. Sumber informasinya dr film, bkn dr data, fakta & kebenaran. Giliran diajak utk melihat kebenaranmya, malah menolak. Akibat cuci otak film.
3. Berjuang utk menurunkan harga BBM non subsidi.
🚨 𝐓𝐄𝐑𝐁𝐎𝐍𝐆𝐊𝐀𝐑 🚨
Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Bersatu membeberkan dugaan adanya keterlibatan mantan petinggi militer, Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso, di balik gerakan aksi mahasiswa yang menolak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) belakangan ini. Gerakan penolakan tersebut mengindikasikan telah disusupi agenda politik praktis dan difasilitasi oleh jejaring tokoh tertentu.
Juru Bicara BEM Bersatu, Rahmat Djimbula, mengungkapkan bahwa salah satu indikasi kuat terlihat dari fasilitas mewah berupa mobil Fortuner yang digunakan oleh pimpinan aksi penolakan, Tiyo Ardianto, yang diduga memiliki keterkaitan keluarga dengan mantan Irjen TNI tersebut.
"Kedua, kami melihat indikasi kuat keterlibatan aktor politik praktis dalam gerakan ini. Salah satu pimpinan aksi, Tiyo Ardianto, diduga memiliki kedekatan dengan jaringan politik tertentu. Mobil Fortuner yang digunakannya diduga terdaftar nama Siti Nuraeni, adik Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso, yang merupakan besan Jenderal TNI (Purn) Andhika Perkasa, tokoh tim pemenangan Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024. Dugaan ini diperkuat kehadiran politisi PDI Perjuangan, Andi Widjajanto, di tengah massa aksi," ujar Rahmat Djimbula saat membacakan pernyataan sikap dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa, 16 Juni 2026.
Menurut BEM Bersatu, indikasi keterlibatan Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso semakin menguat setelah pimpinan aksi mahasiswa tersebut diketahui menghadiri forum yang dengan sang purnawirawan di Bandung baru-baru ini. Jejaring Ini dinilai patut dicermati karena mencederai kemurnian pergerakan mahasiswa.
"Keterkaitan tersebut juga diperkuat oleh kehadiran Tiyo Ardianto dalam Dialog Nasional Kebangsaan di Bandung (18 Juni 2026) bersama sejumlah tokoh seperti Said Didu, Roy Suryo, Refly Harun, dan dr. Tifa. Dalam forum yang sama, Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso juga tercatat hadir, menunjukkan adanya jejaring yang patut dicermati," lanjut Rahmat.
Rahmat menyayangkan mengapa Program MBG yang memiliki dampak langsung terhadap gizi dan kesejahteraan masyarakat luas justru dijadikan sasaran penolakan oleh kelompok aksi tersebut. Kondisi ini memicu tanda tanya besar mengenai arah dan substansi gerakan yang sedang berjalan.
"Pertama, kami mempertanyakan prioritas isu yang diangkat. Di tengah kebutuhan mendasar masyarakat, perhatian justru tersedot pada isu yang tidak menjadi urgensi utama. Sementara itu, Program MBG yang berdampak langsung pada gizi dan kesejahteraan masyarakat justru menjadi sasaran penolakan, meski perbaikan tata kelola tetap diperlukan," tegasnya.
Atas dasar temuan tersebut, BEM Bersatu secara tegas menyatakan penolakannya terhadap segala bentuk intervensi eksternal dan mobilisasi mahasiswa yang ditunggangi oleh elite politik demi perebutan kekuasaan.
"Kami, BEM Bersatu, menolak segala bentuk penungangan gerakan mahasiswa oleh kepentingan politik praktis. Gerakan mahasiswa harus tetap menjadi suara rakyat, bukan alat elite. dalam perebutan kekuasaan," pungkas Rahmat.
Ijin copas @Metro_TV 🙏🏻
Sumber : https://t.co/IY84fPqmOD
🤣🤣🤣🤣🤣
Eros Jarot dipercaya...
🤣🤣🤣🤣🤣
Iya sih...kalian kan sgt percaya sm org yg satu suara dgn kalian.
Ketika ada yg berbeda lgsg ada bumbu cacian...
🤣🤣🤣🤣🤣
Guys, ada satu wawancara budayawan senior yang menurut gue paling jujur soal apa yang sebenarnya terjadi di lingkaran kekuasaan sekarang.
Dan ini bukan dari orang sembarangan ini Eros Jarot, yang sudah kenal Prabowo sejak masih jadi perwira, dan ngomongnya bukan dengan kebencian tapi justru sebagai sahabat lama.
Intinya satu: Prabowo sedang dininabobokan.
Dan 100 lebih menteri serta wakil menteri di sekelilingnya tidak ada satupun yang berani jujur kasih masukan ketika ada blunder.
Yang pertama harus dipahami:
kata Eros, kebenaran, kebenaran itu sendiri, dan pembenaran tiga hal yang seharusnya berdiri di tiga lembaga berbeda sesuai ajaran Montesquieu sekarang sudah berada di satu level dan dikooptasi oleh satu kekuatan yang sama.
DPR yang seharusnya merumuskan kebenaran dari aspirasi rakyat sekarang yang menentukan "kata benar" cuma eksekutif.
Yudikatif yang seharusnya melakukan pembenaran atas nama konstitusi malah ada lembaga tambahan bernama buzzer yang tugasnya memperkuat pembenaran apapun yang sudah diputuskan pemerintah.
Begitu tiga hal ini sudah satu level dan dikooptasi kekuasaan ini bukan lagi negara hukum.
Ini negara kekuasaan.
Dan ini yang paling penting soal demo mahasiswa:
Eros dengan tegas bilang dia bersimpati dan mendukung gerakan mahasiswa.
Bukan karena ditunggangi asing seperti yang sering dituduhkan.
Tapi dia juga kasih peringatan keras ke Prabowo:
"Dia ngusir para mahasiswa demo itu bukan dengan menurunkan ribuan dan ratusan ribu tentara dan polisi. Enggak akan mereka enggak akan surut. Mereka akan bertambah besar."
Caranya bukan represi.
Kalau mau mahasiswa berhenti turun ke jalan benahi kabinetnya.
Benahi cara bicara sebagai presiden supaya tidak gampang mengeluarkan janji yang tidak bisa dipegang.
Dan inilah inti masalahnya:
ada Super Menko di dalam kabinet.
Orang paling dekat dengan Prabowo yang bisa di-reach langsung lewat satu pintu sementara menteri lain dan bahkan duta besar harus lewat dia dulu.
Eros mempertanyakan ini dengan jujur:
levelnya menteri apa?
Kapasitasnya apa?
Bandingkan dengan era Soeharto yang meskipun banyak kesalahannya, tapi dalam memilih pembantu ada proses seleksi yang berat.
Sekarang?
Orang dengan pangkat menengah tiba-tiba jadi menteri tanpa jenjang yang jelas.
Bahkan ada yang baru menjabat beberapa bulan langsung dapat Bintang Mahaputra.
"Ini kan satu pertanyaan.
Bintang Mahaputra itu yang dicetak diren atau apa sudah serdadu sekarang?"
Dan ini bagian yang paling menohok soal pola yang berulang: setiap kali Prabowo bikin blunder entah soal dolar, rupiah, saham, atau kebijakan yang merugikan rakyat selalu dibela habis-habisan oleh menterinya sendiri. Bukan dikoreksi. Dibela.
"Katanya bensin enggak naik-naik.
Kalau enggak naik jangan terlalu cepat-cepat bilang enggak naik dong.
Lihat menteri-menteri Anda."
Para menteri yang seharusnya berani bilang "Pak, ini salah, harus dikoreksi" malah dengan mudahnya bicara "nanti rupiah akan menguat" padahal tidak terjadi.
Dan ketika itu tidak terjadi yang jadi sasaran tetap kepala. Bukan menterinya.
Kasus Dadan dan BGN jadi contoh paling nyata. Seorang profesor, intelektual, yang harusnya punya integritas moral lebih baik justru terbukti korupsi besar-besaran.
Tapi Eros melihat ini lebih dalam dari sekadar karakter satu orang:
"Dia nyemplung ke laut, ya pasti basah.
Tapi begitu laut besar penuh tantangan dicemplungin tanpa persiapan seharusnya bikin dermaga-dermaga dulu, pilot project dulu, baru perlahan diperbesar."
Yang terjadi malah sebaliknya dari nol langsung digelontorkan ribuan dapur SPPG sekaligus, tanpa infrastruktur yang matang, tanpa pengawasan yang ketat. Dan ketika hasilnya berantakan yang disalahkan cuma satu kepala BGN, sementara desain sistem yang cacat dari awal tidak pernah benar-benar diperbaiki.
Dan ini analisis paling tajam dari Eros:
dia menduga ini bukan kebetulan.
Mungkin memang ada yang sengaja tidak menerjemahkan niat baik Prabowo dengan benar supaya semua kebusukan jatuh ke tangan dia, padahal sistemnya sendiri sudah bobrok dari sebelumnya.
"Tonggak-tonggaknya memang sudah didesain bahwa itu akan runtuh.
Cuma karena orang baik ini saking baiknya sampai tidak melihat itu dan memang sengaja ditutup matanya."
Orang-orang baik di sekitar Prabowo termasuk yang disebut Eros sebagai kenalan dekatnya justru lebih mudah dimanfaatkan karena terlalu baik dan tidak punya pikiran buruk.
Dan itu yang membuat tikus-tikus di sekitarnya bisa menggerogoti tanpa terdeteksi.
Soal geopolitik dan ketergantungan asing juga disinggung tajam. Eros membandingkan: Prabowo sering menuduh demo mahasiswa ditunggangi asing.
Tapi bagaimana dengan kebijakan investasi asing yang membuka pintu dapur, lalu pintu tengah, lalu pintu depan, sampai semua jendela dan atap dibuka untuk modal asing?
"Negara kita dijadikan negara subordinat dari negara lain. Ini bukan lebih ngeri daripada orang per orang? Kalau orang per orang bisa kita tangkap. Kalau negara gimana?"
Dan soal reformasi 98 Eros yang waktu itu ada di lingkaran dekat sendiri mengakui dengan jujur: reformasi waktu itu cuma pergantian, bukan perubahan. Pijakan dasarnya tidak pernah benar-benar diubah.
Itulah kenapa pola yang sama terus berulang sampai sekarang ganti orang, tapi sistem yang busuk di bawahnya tetap sama.
Eros tidak sedang menyerang Prabowo secara personal. Dia justru bilang niatnya bagus, masih kenal dia sebagai sosok yang ingin baik.
Tapi niat baik saja tidak cukup kalau orang-orang di sekelilingnya para menteri, super menko, sampai aparat penegak hukum tidak berani jujur mengkritik, dan malah terus membela setiap blunder yang terjadi.
Dan kalau pola "dininabobokan" ini terus berlanjut di mana tidak ada satupun dari ratusan menteri dan wakil menteri yang berani kasih masukan jujur,
sementara aparat keamanan terus dipakai untuk membungkam suara kritik bukan mendengarkannya maka demo mahasiswa bukan akan surut. Justru akan terus bertambah besar.
Karena yang membuat rakyat marah bukan mahasiswanya yang turun ke jalan. Yang membuat rakyat marah adalah cara kekuasaan ini dikelola.
Makin keliatan bodohnya nih mahasiswi UI, padahal dia calon dokter tapi punya pemikiran kaya gini " Ada yang lebih penting dari sekedar mengisi perut yang lapar ".
Pemikiran kaya gini kok ya bisa masuk UI ? apa karena punya duit, punya koneksi atau karena bodoh ?
Blacklist lulusan UI karena bodoh bodoh.
Agustus 1989, sekelompok mahasiswa ITB demo di depan rektorat. Mereka menolak kedatangan Menteri Dalam Negeri. Waktu itu, namanya Rudini. Jenderal Angkatan Darat.
Para mahasiswa yg terlibat ditangkap. Diadili. Dan dipenjara.
Salah satu pelakunya sekarang jadi Menteri. Namanya Jumhur Hidayat.
Mereka yang ngecam aksi mahasiswa mengusir para menteri di UGM, mesti tahu sejarah ini.
Mahasiswa menolak dan mengusir pejabat politisi dari kampus, itu biasa aja.
Dengar teriakan "REVOLUSI" hati ini menangis. Ketika kata "REVOLUSI" diteriakan mahasiswa maupun rakyat, itu artinya negara sedang tdk baik2 saja. Rakyat sdh muak dengan pemerintah yg semaunya. Di negara yg kaya SDA, justru rakyatnya miskin krn korupsi di semua lini pemerintahan.
Ini org kalau punya anak, mk akn memberi apresiasi kpd anaknya klau sdh jd juara 1.
Kalau hanya rangking 10 besar gak bakal mengapresiasi anaknya. Bahkan mungkin dicuekin aja.
Apresiasi adalah hembusan angin lembut yang menyalakan kembali api semangat manusia." — Oliver Westwood
Rupiah menguat dikit harus banget diapresiasi, bahkan level sekarang aja masih diatas tahun 1998. Klo bisa balik under 15 ribu baru dah tuh minta apresiasi, masalahnya apakah bisa? ehhehe
Kata-kata Megawati soal demo mahasiswa:
- Pertanyakan pengawalan ketat aparat heran kenapa demo BEM UI sampai dikawal polisi dan Angkatan Darat
- Tegaskan mahasiswa adalah warga negara "Mahasiswa itu masuk tidak sebagai warga negara Indonesia? Masuk!" jadi mereka punya hak yang sama untuk bersuara
- Sindir yang takut bersuara "Itu menunjukkan apa? Hati kalian itu tidak teguh! Jadi mestinya jangan takut. Kalau iya ya iya, kalau tidak ya tidak"
- Berani tantang balik "Nah saya berani ngomong gini, terus saya mau ditangkap? Ayo! Mana di sini ada polisi? Panggil sini!"
- Posisikan PDIP di luar pemerintahan kritik dan aspirasi rakyat disalurkan lewat jalur konstitusional, yaitu fraksi PDIP di DPR, bukan ikut turun ke jalan
Intinya: Megawati membela hak mahasiswa untuk berdemo sebagai bagian dari demokrasi,
sekaligus menyindir ketatnya pengamanan aparat terhadap aksi tersebut tapi dia sendiri tidak mengajak PDIP ikut demo, melainkan lewat jalur DPR.