Motor Viola ilang di Bekasi Utara.
Dia gak nunggu polisi doang, dia cek CCTV warung sendiri sampe berhasil kenalin pelakunya.
Salut sih effort-nya.
Tapi ending-nya bikin geram.
Pas didatengin buat dimediasi, pelaku malah manggil rombongan.
RT setempat diduga malah lepas pelakunya gitu aja — bukan diserahin ke polisi.
20 menit kemudian, Viola dan temennya malah didorong-dorong rame-rame, motor yang udah keamanan direbut lagi.
Ini bukan cuma soal motor ilang.
Ini soal gimana korban yang udah capek nyari keadilan sendiri malah ditinggal sama orang yang harusnya lindungin dia.
Kasus udah dilaporkan ke polisi.
Semoga proses hukumnya jalan dan RT yang diduga lepasin pelaku juga ikut diperiksa. 🙏
Naik Gojek.
🤡: "Udah nikah mbak? Dosen di sini ya?"
👩: "Belum pak. Bukan, saya lagi kuliah S2."
🤡: "Ngapain kuliah tinggi, perempuan juga ujung-ujungnya di dapur. Mending nikah."
👩: "Kalau nikah sama laki-laki yang bisa ngasih penghasilan setara waktu saya kerja sih nggak masalah. Tapi kalau nikah cuma buat disuruh masak di dapur, ya buat apa?"
🤡: "Maksud saya daripada hidup sendiri gitu, mbak."
👩: "Mending sendiri tapi punya banyak uang daripada nikah tapi buat makan aja susah dan tiap hari harus masak."
Habis itu suasana di jalan langsung hening. Mantap. 😂
flashback kronologi kasus si dul:
- kecelakaan dul jaelani di tol jagorawi 2013
- dul masih 13 tahun tapi udah nyetir
- 6 orang tew4s seketika
- 1 orang lagi meninggal setelah dirawat
- keluarga korban diminta enggak menuntut
- dhani janji santunan lewat yayasan
- dhani janji nyekolahin anak-anak korban setinggi apapun
- dul sendiri di pengadilan dinyatakan bersalah
- tapi dibebaskan dari hukuman karena ada perdamaian keluarga
- santunan dikabarkan macet sejak dhani dipenjara kasus ujaran kebencian (vonis 1,5 tahun, januari 2019)
- devi (keluarga 4 anak yatim piatu korban) bilang dhani ingkar janji
- gatau sampe sekrang apakah masih disekolahin apa kagak
Yang lg viral di sebelah...
Meet Nabila Gardena.
Menantu Koruptor Timah 300 Triliun, Alwin Albar.
Siapa sangka selebgram yang kehidupannya sempurna ini & punya rumah mewah di Simprug after menikah, ternyata menantu KORUPTOR 🫣🤯
Namanya Mbah Mien Sri Wahyuni (74), warga Desa Kalierang, Kec Selomerto, Kab Wonosobo.
Tiba2 ditagih BRI 2,5 M karena kredit.
Gk pernah ajukan kredit, gk punya rekening BRI, ATM Buku rekening.
Di dokumen dia ada pengajuan kredit lewat notaris.
Lapor ke polisi, 3 tahun mandeg.
Sambil memberikan laporan-laporan bohong seperti 19 ribu sapi dipotong dalam sehari untuk MBG, dia dapat 1M/hari, 356M/tahun. Kalian bayangin presiden kayak Prabowo dengan mudahnya dikibuli bawahannya sendiri.
Guys, lu pada tahu enggak ada yang baru terjadi di Indonesia yang menurut gue gila banget?
Bukan soal rupiah.
Bukan soal korupsi triliunan.
Bukan soal pejabat mewah.
Ini soal Josepha Alexandra siswi SMAN 1 Pontianak
yang viral beberapa waktu yang lalu
ada cerita dari keluarga
beberapa waktu setalah pulang dari lomba itu
banyak nomor asing masuk ke WhatsApp-nya.
Pesannya begini:
"Selamat pagi, kami infokan kembali untuk hapus video yang ada di IG, jika tidak kami akan layangkan somasi."
Seseorang atau sekelompok orang yang tidak mau diketahui identitasnya, mengancam anak SMA lewat WhatsApp. Minta dia hapus video. Ancam somasi.
Siswi SMA.
Diancam somasi.
Karena mempertanyakan ketidakadilan di lomba cerdas cermat.
Dan ini yang paling menyayat hati dari seluruh kejadian ini:
Josepha stres berat.
Hari-hari tidur terus.
Pendiam.
Berubah drastis.
Dan di tengah semua tekanan itu dia bertanya kepada kakaknya:
"Kak, apa aku harus minta maaf?
Katanya aku yang bikin gaduh..."
Baca itu sekali lagi.
Anak yang diperlakukan tidak adil yang diancam lewat WhatsApp oleh pihak tak dikenal malah bertanya apakah dia yang harus minta maaf.
Karena sistem berhasil membuatnya merasa bahwa dia yang salah.
Bahwa dia yang bikin masalah.
Bahwa keberaniannya mempertanyakan ketidakadilan adalah sebuah kesalahan yang perlu dimintakan maaf.
Dan sementara Josepha stres di rumah apa yang dilakukan juri yang kontroversial itu?
Status WhatsApp-nya bocor ke publik.
Isinya: "Nggak akan bikin gue jatuh!"
Orang yang keputusannya dipermasalahkan pamer kekayaan di status WhatsApp.
Sementara anak yang mempertanyakannya stres dan tidur terus di rumah.
Ini bukan soal menang kalah lomba:
Ini soal apa yang terjadi ketika seorang anak muda Indonesia berani bersuara.
Josepha tidak melakukan apa-apa yang salah.
Dia mempertanyakan keputusan yang tidak konsisten.
Itu bukan bikin gaduh.
Itu adalah hak dasar setiap peserta dalam kompetisi apapun di seluruh dunia.
Tapi di sini itu direspons dengan ancaman.
Dengan intimidasi.
Dengan pesan WhatsApp dari nomor asing yang memintanya diam.
Dan pertanyaan yang belum dijawab sampai sekarang:
Siapa yang mengirim pesan ancaman itu?
Dari nomor asing.
Mengatasnamakan siapa?
Dengan kewenangan apa untuk melayangkan somasi?
Kalau memang tidak ada yang salah dalam lomba itu kenapa harus ada ancaman?
Kenapa video harus dihapus?
Kenapa tidak cukup dengan klarifikasi terbuka?
Yang minta video dihapus adalah orang yang takut video itu terus ditonton.
Yang takut kebenaran terus beredar.
Josepha hafal konstitusi sampai tidur komat-kamit. Dia mempelajari nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika dengan serius dan penuh dedikasi.
Dan pengalaman pertamanya mempraktikkan nilai-nilai itu di hadapan lembaga negara adalah ini: ancaman WhatsApp dari nomor tak dikenal.
Tekanan untuk diam.
Pertanyaan di dalam hatinya apakah dia yang harus minta maaf.
Kalau anak sekecil Josepha saja sudah diajarkan bahwa kejujuran itu berbahaya kita tidak perlu heran kenapa generasi berikutnya memilih untuk tidak peduli.
Kita yang mengajarkan mereka untuk tidak peduli. Dengan cara seperti ini.
⚠️ Disclaimer: Berdasarkan berita https://t.co/NzjIn3zG4K 16 Mei 2026. Kasus masih dalam proses penanganan MPR RI. Identitas oknum yang melakukan intimidasi belum diungkap resmi.
Padang — Duka mendalam menyelimuti keluarga Karim Sukma Satria (32), seorang pengamen yang dilaporkan meninggal dunia usai sebelumnya diamankan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Padang. Kasus ini memicu sorotan publik, terlebih setelah muncul dugaan kekerasan serta polemik pelabelan sebagai orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).
Rafles, ayah korban, mendatangi Kantor Satpol PP Kota Padang pada 27 April 2026 untuk meminta klarifikasi atas kematian anaknya. Dengan nada emosional, ia mempertanyakan kondisi terakhir Karim sebelum meninggal dunia.
“Anak saya Anda bawa dalam kondisi sehat, kenapa bisa meninggal? Anda apakan dia, Anda pukul dia?” ujar Rafles di kantor Satpol PP di Jalan Tan Malaka.
Menurut keterangan keluarga, Karim sebelumnya diamankan pada 23 Maret 2026 saat tengah mengamen. Namun, saat jenazah diambil, pihak keluarga mengaku menemukan sejumlah luka lebam di tubuh korban, yang memicu dugaan adanya tindak kekerasan selama proses penanganan.