Barisan tentara memblokade demonstran di sekitar Thamrin Plaza Jakarta yang akan menuju titik kumpul protes di Bundaran HI. Ini pertama kali militer diterjunkan mengadang demo publik sejak terakhir kali.
Tuntutan demo 12 Juni 2026 mengenai kenaikan BBM, proyek boros duit rakyat seperti MBG dan Kopdes Merah Putih, kementerin gemuk yang inkompeten, militerisasi di ruang sipil, dll.
Dokumentasi lapangan oleh tim redaksi Project Multatuli.
#AksiIndonesiaBangkrut #Mahasiswa
Nih denger para runners tone deaf.
Toh kalo kebijakan yang dikeluarkan bagus, nanti harga registrasi marathon elu gak semahal itu kocak.
Inget! Pukul ke atas bukan ke samping
rekan-rekan semua,
sebagai tanggung jawab moril profesi, kantor kami AMALGAM Law Office berencana akan memberikan layanan pendampingan hukum GRATIS bagi para demonstran yg berangkat aksi pada Jum’at, 12 Juni 2026 ini di Jakarta (jika ada yg membutuhkan)
tapi kami juga harus mengakui bahwa manpower dan resource kami terbatas. sehingga, apakah ada rekan-rekan sejawat lawyer atau kantor hukum yg berkenan untuk beraliansi bersama kami dalam hal ini? if so, please reach me out
thanks in advance!
tuhan melindungi setiap langkah mereka yang turun ke jalan hari ini. terima kasih sudah memperjuangkan kepentingan semua orang. doa baik selalu. ✊🇮🇩 tinju ke atas.
i did the same thing too! 🙋🏻♀️ aku rekap semuanya di sheets dulu 📝, baru nanti aku masukkan ke mendeley untuk disitasi & dafpus di word :3
dengan rapiin kayak gini di sheets, aku kalau sewaktu waktu butuh recall isi jurnalnya atau kalimat asli yang aku kutip, tinggal cari di sini. ini juga sekaligus bentuk integritasku di era yang apa-apa AI, aku tetap membaca jurnal yang aku kutip.
walaupun most of them skimming bacanya untuk memperkuat pernyataan di latar belakangku, tapi kalau untuk di bab 2 tinjauan pustaka tentu aku baca bener-bener! salah satunya adalah buku tentang PLS-SEM, yang mana metode TAku ada menggunakan SEM! 😼
Pertanyaan saya dua:
1) Kenapa semua bahasan "diplomasi" ini yang menjelaskan Seskab? Kenapa bukan Menlu? Apakah hanya karena "Teddy di-mention"?
2) Kenapa backsoundnya kenceng banget dah GANGGUUU!! (Terus apa banget shading jadi wamen 3 bulan dst sih, nggak professional banget)
Dalam tulisan ini, aku menjelaskan bgmn program B50 dpt berdampak scr khusus bagi perempuan di ranah produksi dan konsumsi. Tulisan ini tayang ketika aku sedang berada di desa di pedalaman Kalteng, yg mulai dikepung oleh sawit dan food estate. https://t.co/xDR0jukQcM
Beda retorika antiasing dulu dg skrg, salah satunya: Karno jelas nyebut asingnya mana: Amrik, Inggris, Jepun. Sekarang? Coba Prabowo berani gak bilang "anti Amerik/Inggris/Cina/Timteng/Israel"?
Ketidakjelasan siapa objek "asing" ini tuh disengaja, by design. Tujuannya adl....
Udah lihat sumbernya di instagram ybs, termasuk narasi yg menyertainya. Kok bisa ya, "staf ahli" yg dibayar dari pajak kita2 ini ngomongnya begitu. Menurutku sih, ada beberapa cacat pikir:
1. Analisanya tanpa metode. Klaim adanya konspirasi terkoordinasi untuk menjatuhkan Presiden berdiri di atas “informasi lapangan dan carut marut sosmed”, bukan metodologi analisis. Tidak ada satu sumber, data, atau dokumen yang bisa diverifikasi. Ini bukan analisa; ini opini berpakaian intelijen.
2. Referensi Joseph Nye pun nggak tepat. Nye justru menjelaskan bahwa CSO independen adalah aset soft power sebuah negara, bukan instrumen destabilisasi otomatis.
3. Konflik kepentingan
Jika ybs adalah figur yang berafiliasi dengan pemerintah, ia menyerang CSO dari posisi yang memiliki akses sumber daya negara, platform kekuasaan, dan potensi backing aparat. CSO yang diserang tidak punya satu pun dari itu. Pertarungan ini asimetris secara struktural. Di sisi lain, ybs dibayar dari anggaran negara, salah satunya mungkin dari pajak yg dibayar staf CSO itu lho.
4. Logika “tidak ada makan siang gratis” yang ia tembakkan ke NGO seharusnya diterapkan konsisten, termasuk ke dirinya sendiri: dibayar dari APBN, ditunjuk oleh siapa, atas dasar apa?
5. Ancaman terhadap individu aktivis
Kalimat “mungkin next dana-dana yang diterima per-orang ada kali yah?” bukan sekadar pertanyaan retoris, ini sinyal intimidasi doxxing finansial. Dalam iklim UU Ormas dan kriminalisasi berbasis tuduhan pendanaan asing, ancaman seperti ini punya konsekuensi nyata di luar layar ponsel.
6. Argumen “masih bebas berteriak” yang cacat
“Yang teriak pembungkaman bebas-bebas aja tuh teriak” adalah logika yang gugur sendiri. Chilling effect bekerja justru karena sebagian orang memilih diam melihat yang lain diproses hukum. Kebebasan berbicara bukan soal apakah seseorang masih bernapas setelah bicara, tapi soal biaya yang harus dibayar untuk bicara.
Kekuasaan lagi terganggu dan mulai nyerang NGO
Ini lagu lama dan usang. Elite Global, Deep state dan teori konspirasi lain yang masih dipake aja di tahun 2026😅
Ini arahnya mau memframing kalau pihak-pihak yang mengkritisi pemerintah tidak murni berasal dari rakyat, pasti menerima dana asing dan tidak independen yang bertujuan ingin menjatuhkan presiden.
ini perspektif yang juga salah,
Menerima pendanaan dari luar negeri bukan berarti tidak independen. Yang menentukan independensi adalah bagaimana keputusan diambil, bukan dari mana sumber dananya.
Sebagai orang NGO, justru NGO itu pencatatan keuangannya sangat transparan dan terperinci.
Kalau logikanya setiap yang menerima dana asing tidak independen, maka banyak lembaga internasional dan bahkan pemerintah yang bekerja sama lintas negara juga harus dianggap tidak independen. Itu jelas tidak tepat.
Padahal kehadiran NGO itu adalah salah satu tanda demokratisnya suatu negara. NGO itu adalah wadah masyarakat sipil untuk memperjuangkan hak-haknya.
Masyarakat sipil itu yang akan membentuk peradaban suatu bangsa.
Silahkan di debat.
Sumber IG: @ leveenia
Gambar 1: Feed @magdaleneid di IG ada berita investigasi TAUD tentang 16+ pelaku percobaan pembunuhan Andrie Yunus.
Gambar 2: Beritanya hilang dari feed Magdalene kemarin.
Gambar 3: Notifikasi jika klik berita itu dari link yang ada sebelumnya.
Apa yang coba disembunyikan?
Tentang matinya teknokratisme, tentang kembalinya militerisme, tentang teror kepada aktivis, tentang 'antek asing', tentang merosotnya kualitas bernegara, tentang demokrasi yang semakin gelap.
The Darkening Face of Indonesia's Democracy
https://t.co/oymxcOBOXB
Keadilan terasa dipermainkan. Korban pelecehan JS (20) nekat mencoba bunuh diri di depan Istana karena pelaku tak ditindak. Bukannya dilindungi, ia justru dipaksa berdamai dan dinikahkan dengan pelaku—potret sistem yang gagal melindungi korban.
Link: https://t.co/1pMBy87yck