Binge-watch series lama yang mungkin jarang terdengar atau terlupakan, here we go!
1. House
Dokter pecandu yg obses sama kasus aneh, labrak aturan sana-sini, bahkan bobol rumah pasien udah jd rutinitas. Tiap eps beda case tapi selalu bikin penasaran utk pencet next episode!
Masih banyak aja kekerasan ke pekerja migran Indonesia di Malaysia. Mana yang katanya SEAbling? Saudara katanya, gak ada program apa gitu ASEAN? Udah 2026 lho ini. Bukan priority ya kalo korbannya orang Indonesia? @ASEAN
Warga Aceh Utara, Rully, memanfaatkan pelepah pinang untuk membuat piring situk. Produknya kini sudah dijual sampai ke luar Aceh.
Rully mengklaim piring situk ramah lingkungan karena bisa terurai kembali. Selain itu, piring ini disebut aman untuk kesehatan dan bebas BPA.
Jawaban buat pertanyaan zee sebenernya udah jelas, namanya Telkomsel. Operator paling gede, paling kaya, paling banyak pelanggan di negeri ini, yang paling pertama maju dan paling lantang soal masa aktif 28 hari, lalu dengan entengnya bilang ini semua demi kebiasaan pelanggan. Seakan-akan jutaan orang Indonesia ngantri minta jatah internetnya dipotong dua hari tiap bulan.
Indosat ikut nimbrung, XL katanya ikut di sebagian paket walau katanya mayoritas paketnya masih 30 hari. Tapi yang ngebuka pintunya Telkomsel, dan mereka ngebungkusnya pakai kata manis soal customer behaviour. Padahal lo ga butuh gelar ekonomi buat ngerti, ga ada satu pun pelanggan yang behaviour-nya pengen bayar lebih sering buat barang yang sama.
Mainnya halus, makanya jarang ada yang ngeh. Setahun ada 365 hari. Masa aktif 30 hari berarti lo beli 12 kali. Begitu jadi 28 hari, lo dipaksa beli 13 kali buat nutup tahun yang sama. Satu belanja ekstra, tiap tahun, dikali puluhan juta pelanggan. Simulasi IDN Times nyebut selisihnya bisa sekitar Rp100 ribu per orang per tahun, walau angkanya tergantung ke paket dan pola pakai, jadi cek lagi sesuai kasus lo. Kecil di kantong lo, tapi jadi gunung everest di laporan keuangan mereka.
Belum kelar di situ. Sisa kuota yang udah lo bayar bakal hangus begitu masa aktif lewat. Operator ngotot istilah hangus itu ga tepat, katanya yang lo beli cuma hak akses jaringan buat periode tertentu, dianalogiin kayak obat yang ada tanggal kadaluarsa. Tapi pas PLN diseret ke sidang, mereka jelasin token listrik ga pernah hangus, karena yang ngurangin saldo itu pemakaian, bukan jam dinding. Pertanyaannya, kenapa listrik bisa, internet enggak?
Soal hukum gw ga mau lebay, sampe detik ini belum ada putusan yang nyatain operator bersalah, karena perkaranya emang masih jalan. Yang nggugat bukan orang gede, cuman pengemudi ojol Didi Supandi dan kawan-kawan, plus sekelompok mahasiswa hukum, yang nilai kuota dihapus sepihak tanpa kompensasi adil itu nabrak hak atas harta benda di UUD 1945. Dan lo tau siapa yang pasang badan belain operator? Pemerintah sendiri, lewat Komdigi, yang bilang rollover atau refund bakal nambah beban biaya.
Jalannya berdarah-darah. Satu gugatan emang udah dipentalin MK pertengahan Mei 2026, tapi gugurnya gara-gara berkasnya dianggap kabur, bukan karena isunya kalah. Ibarat lamaran ditolak gara-gara formulirnya nggak lengkap, bukan gara-gara orangnya nggak layak, hakim bahkan belum sempet nimbang inti perkaranya. Tiga gugatan lain masih bertahan dan lagi diperiksa isinya. Di sidang, ada hakim yang nanya tajem ke operator, "kok kuota belum habis tapi udah hilang". Dari luar, YLKI ikut ndorong. Jadi tekanannya datang dari dua arah sekaligus.
Tapi apakah bisa menang?
Di Afrika Selatan, rakyatnya ngeluh soal hal yang sama persis bertahun-tahun, kalah terus, sampe akhirnya regulatornya nyerah dan maksa operator ngerollover otomatis kuota yang belum kepake mulai 2027. Bedanya, di sana yang ngalah duluan itu lembaga pengawasnya yang bikin aturan baru, bukan hakim lewat pengadilan. Di kita malah sebaliknya, lagi diperjuangkan lewat gugatan ke MK. Beda pintu masuk, jadi belum tentu hasilnya bakal sama.
Sejarah udah berkali-kali ngebuktiin, raksasa kayak gini tunduk bukan gara-gara digoyang orang gede. Tapi karena orang-orang biasa yang capek haknya dirampok diam-diam, lalu mutusin buat ga diem. Pertanyaannya tinggal satu, dia bakal menang, atau jadi tumbal yang namanya kita lupain begitu palu diketok?
Presiden Prabowo menginstruksikan agar semua tingkatan sekolah di Indonesia mulai mempelajari bahasa Prancis.
Kebijakan ini disampaikan langsung oleh beliau di hadapan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Elysee, Paris, pada 28 Mei 2026.
Source: https://t.co/Rnq1CoKirF
Aku (versi diplomatis): Indonesia itu potensi suryanya GEDE banget > 3 RIBU gigawatt tapi kepake baru DUA aja weh
Lord Adair Turner (versi aristrokrat):
Indonesia is the most extraordinary OUTLIER in terms of ITS FAILURE to develop solar PV and not because of lack of sunshine
👀
Kabar duka dari Papua. Aliko Walia (Laki-laki, 8 tahun) meninggal dunia setelah berjuang 36 hari dengan luka tembak tembus di dada kanan. Ia menjadi korban saat operasi militer di Puncak pada 14 April lalu.
Ibunya, Wundilina Tabuni (Perempuan, 40 tahun), tewas di tempat pada hari kejadian. 🥀
Selengkapnya: https://t.co/9uUt6xwlBJ
#PengungsiInternalPapua #IDPsPapua #Papua #Indonesia #WestPapua #PapuanLivesMatter
https://t.co/EsqCQuqsFY | FB: JubiNews | X: @News_jubi | IG: newsjubi | Tiktok: @jubinews | Youtube: @jubinews
Habis ngelewatin masa berdarah, di tahun 1967 para bandit ini akhirnya sadar diri "Kalo negaranya hancur total, kita mau nyolong apa dong?"
Mereka pun nerapin strategi baru yang agak licik. Mereka berhenti sok tahu dan nyewa teknokrat (ahli ekonomi).
"Kita yang tolol ini diem aja deh. Biar si pinter yang kerja keras, kita duduk manis nunggu cuan, baru kita palak hasil kerjanya."
Jadi ibarat kayak ekonomi itu ayam. Jangan langsung dipotong. Biarin dia bertelur dan beranak-pinak dulu, baru hasil ternaknya kita sikat.
Nah, yang bikin miris, pelajaran emas dari tahun 1967 itu udah completely missed sama gerombolan elit sekarang.
Generasi bandit hari ini tuh belagu, sok tahu, dan rakusnya di luar nalar.
Proyek-proyek triliunan kayak sekarang jadi bukti nyata praktik bancakan ugal-ugalan.
Nyolong ratusan triliun tanpa planning yang jelas dan ngerobohin sistem dari dalam.