Abang gue kerja di kapal di Eropa, gajinya sekitar 40 juta per bulan. Setiap gajian hampir selalu dikirim ke istrinya yang tinggal di pelosok Sumut.
Udah puluhan tahun kerja, tapi sampai hari ini rasanya nggak ada hasil yang bisa dinikmati atau dikumpulkan.
Kemarin mereka berantem besar sampai akhirnya abang gue minta cerai.
Masalahnya karena uang yang selama ini dikirim habis entah ke mana. Nyaris nggak ada sisa atau aset yang kelihatan.
Belakangan baru ketahuan kalau sebagian besar uang tersebut juga dipakai untuk membiayai keluarga besar istrinya di kampung.
Padahal abang gue cuma punya satu anak, sekarang umur 10 tahun.
Gue cuma bisa bilang, perempuan juga harus punya kesadaran buat mandiri dan ngerti susahnya cari uang.
Jangan mentang-mentang pasangan punya penghasilan, terus merasa semua orang di keluarga kita bisa ikut bergantung.
Kasihan banget orang yang banting tulang bertahun-tahun, tapi akhirnya sadar dirinya nggak punya apa-apa.
Menurut kalian, dalam rumah tangga, seberapa penting sih transparansi dan kesepakatan soal penggunaan uang?
Tes kesehatan pasangan sebelum nikah:
1. Tes HIV
2. Tes golongan darah
3. Tes Genotype
4. Tes Hepatitis B dan C
5. Tes penyakit menular seksual (PMS)
6. Tes kesuburan
7. Pemeriksaan potensi kelainan genetik kronis
8. Tes Thalassemia
9. kesehatan mental
10. Cek bi checking (diluar tes kesehatan)
Pernah nolak lamaran A, karena mau nerima lamaran B (orang yang kusuka). Tapi ternyata aku nggak jadi lamaran sama B.
Yang aku sedihin bukan gagal sama B, tapi sedih karena aku tolak si A, padahal si A ini udah suka ke aku dari 2022. 🙂
Dan sekarang aku sadar, kalau si A itu green flag, hanya saja nggak jago flirting. Mungkin dulu aku kurang ngeh sama dia karena dia nggak love bombing.
Sekarang mataku bener-bener baru terbuka, tapi waktu nggak bisa diulang hehe.
Aku dan A masih saling save WA, Instagram juga mutualan. Kami masih saling lihat story, tapi nggak pernah chat-chat lagi hehee. Aku ngerti betapa kecewanya dia, jadi aku juga nggak berani hubungi lagi.
Waktu aku tolak lamarannya, dia nggak mengeluarkan satu kalimat pun yang isinya menyalahkanku, menyerangku, atau merendahkanku. Bener-bener dia sebaik itu huhu. Padahal aku yakin banget dia kecewa ke aku, dan pasti dia juga butuh waktu buat sembuh.
Entah kenapa aku kadang-kadang masih berharap bisa menikah sama A, hehe. Cuma ya nggak tahu gimana caranya.
Aku sungkan nanyain dia lagi. Bukan karena aku gengsi yaa, tapi aku nggak mau egois. Aku mau mikirin perasaannya juga. Pasti nggak mudah buat dia menyembuhkan luka sebelumnya. Masa aku pengen diperjuangkan lagi, sedangkan aku udah menyia-nyiakan dia sebelumnya. :)
Menyesal, but, gimana lagi ya hehe. Kami udah saling memaafkan btw. Waktu itu diakhiri dengan baik, nggak ada musuh-musuhan.
Kalau kalian ada di posisi A, setelah pernah ditolak, masih mau membuka kesempatan lagi atau memilih benar-benar move on?
Ini serius KDM bagiin bantuan uang sampai diteriakin “Ini baru pemimpin?”
Hati-hati, Presiden belum ke NTT loh..
Ingat Hukum ke 1 kekuasaan menurut Robert Greene.
“JANGAN PERNAH TAMPIL LEBIH CEMERLANG DARI ATASAN”
Atau, kau akan dianggap sebagai ancaman.
Itulah kenapa Bahlil pernah mengingatkan….
Jangan keseringan injak gas, sekali-sekali kita perlu ngerem.
Foto: 48 Laws of Power