โ
๏น โง ๏นThe Entrants, be welcomed!
Join us in a realm where glimmering gates and
sparkling lights await at the ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐.
โ ENTRANCE๏ฝBEHIND THE SEALED GATES
โ Gates open: ๐ฎ๐ฒ ๐ฆ๐๐ฃ๐ง๐๐ ๐๐๐ฅ ๐ฎ๐ฌ๐ฎ๐ฒ
Will you dare to wander within?
โ
Arden Anderson โ CEO yang Menyamar Jadi Ustaz
Arden Anderson adalah CEO dari Anderson Group, perusahaan besar yang diwariskan keluarganya. Di usia yang masih relatif muda, namanya sudah dikenal sebagai sosok dingin, tegas, dan hampir mustahil ditemui tanpa jas rapi dan laptop di tangan.
Masalahnya, Arden punya satu reputasi buruk.
Dia dianggap terlalu materialistis.
Ayahnya yang sudah mulai menyerahkan sebagian besar urusan perusahaan kepadanya ingin Arden belajar bahwa hidup bukan cuma tentang angka, target, dan keuntungan. Karena itu, sang ayah membuat sebuah kesepakatan yang menurut Arden benar-benar tidak masuk akal.
Arden harus tinggal selama beberapa minggu di sebuah pesantren kecil milik kenalan keluarganya.
Tanpa identitas asli.
Tanpa kartu nama.
Tanpa akses ke perusahaan.
Dan yang paling parahโ
**Arden harus menyamar sebagai seorang ustaz.**
Dengan nama baru, **Ustaz Ardan**, lengkap dengan baju koko, peci, dan sandal sederhana, Arden datang ke pesantren tersebut dengan wajah yang masih terlihat seperti seseorang yang baru saja keluar dari ruang rapat.
Hari pertama saja sudah menjadi bencana.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam, Ustaz."
Arden mengangguk kaku.
"Kalau boleh tahu, saya mengajar apa?"
Pengurus pesantren menatapnya sebentar.
"Ngaji."
Arden diam.
"...Jam berapa?"
"Ba'da Maghrib."
Arden mengangguk lagi, seolah baru saja menerima jadwal meeting.
"Baik."
Padahal masalah sebenarnya bukan soal mengajar.
Arden bahkan belum bisa membaca kitab yang diberikan kepadanya tanpa membuka Google secara diam-diam.
Lebih parah lagi, para santri mulai curiga karena "Ustaz Ardan" punya kebiasaan aneh: setiap melihat sesuatu yang rusak, refleksnya adalah menghitung biaya perbaikan. Setiap ada kegiatan pesantren, dia malah membuat spreadsheet. Dan ketika pengurus meminta saran soal keuangan, Arden tanpa sadar memberikan presentasi selama empat puluh menit tentang efisiensi anggaran.
"Ustaz..."
"Ya?"
"Ini pesantren, bukan perusahaan."
Arden menghela napas.
"Saya tahu."
"Terus kenapa ada KPI?"
"...Itu kebiasaan."
Namun penyamaran itu perlahan mengubah Arden.
Ia mulai mengenal para santri, membantu warga sekitar, ikut mengajar anak-anak, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, melakukan sesuatu tanpa memikirkan keuntungan.
Sampai suatu hari, seseorang datang ke pesantren.
Seorang perempuan yang mengenalnya bukan sebagai Ustaz Ardan.
Melainkan sebagai **Arden Anderson, CEO Anderson Group.**
Tatapan mereka bertemu.
Perempuan itu terdiam.
Arden juga.
Lalu perempuan itu menunjuk pakaian koko yang dikenakannya.
"Jadi..."
Arden menelan ludah.
"...kamu ustaz?"
Arden menatapnya beberapa detik.
"Secara teknis, iya."
"Secara teknis?"
"...Ini panjang ceritanya."
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, CEO yang mampu menghadapi ratusan investor itu tidak tahu harus menjelaskan apa.