@IIlIIIllIll Beberapa kemungkinan: 1) bubble, 2) spekulan, 3) investor asing meningkatkan demand. Kemungkinan 3 kecil banget sih kayanya ngeliat ada capital flight juga bbrp waktu lalu
@nonyahasyim@Sofianpalupi Cari faskes 1 yg bukan BPJSnya mba, bayar. Kalau BPJS memang standarnya obyektif sesuai kebutuhan klinis pasien, tp kalau swasta mungkin bisa memberikan terapi dengan indikasi sosial (preferensi pasien)
Penanggulangan HIV ga harus nge-judge dan ngurusin hidup orang lain. Mulai aja dr diri sendiri, bagaimana memanusiakan manusia ketia berpraktik jd nakes
Ada koas, calon nakes, yg dgn jumawanya menyampaikan opini homofobik, judgemental, dan cenderung memberi stigma thd HIV dan LGBTQ+. Ini cerminan nakes kita? Ya ga heran kalo ODHA dan ponci lain takut periksa, ga terobati, dan akhirnya membantu penyebaran HIV.
Saya (coass salah satu rs) juga mau share beberapa pengalaman yang saya temuin di IGD
Pasien laki-laki (19) datang dengan keluhan benjolan besar daerah kelamin ke IGD. Ketika saya mendekati pasien untuk dilakukan tanya jawab bau amis sudah tercium bahkan sebelum saya menyentuh 1 meter pada posisi pasien.
Ya, sudah diduga, pasien ini memiliki riwayat berhubungan dengan sesama jenis. Selain itu, pasien mengaku memberikan zat-zat lain seperti minyak kayu putih pada area kelaminnya, alhasil semakin membesar. Mau dilakukan operasi juga tidak memungkinkan
Sudah pasti kita curiga kearah HIV, ternyata HIV nya positif. Ya anak 19 tahun.
@meidiawancs@madHink Susah diterapin di Indonesia krn besarnya ekonomi informal. Di Aussie, pegawai UMKM pun harus punya NPWP dan pajaknya langsung dipotong dr slip gaji. Mana UMKM Indonesia yg potong pajak di slip gaji? Knp? Krn kita mau bayar pajak aja repot di birokrasi
Coba bandingin sm laporan keuangan UNSW yg ternyata 43% dari APBN (termasuk hibah riset dan operasional) dan 41% dr #UKT. Jadi proporsi financing #PTNBH di Indonesia masih wajar, malah #ITB lebih hebat dr UNSW soal kemandirian financing (cont...)
@BaseAnakFK Itu bukan double degree. Disini ada jalur studi Medicine as a Postgrad. Jadi sarjana kesehatan (ners, farmasi) bs ambil pascasarjana kedokteran dan lulusnya jadi dokter. Doi tu udh ners (RN) lalu ngambil kedokteran.
@JAndrean212@engkoh_chasiu Tetep brain drain min, karena walopun di LN mrk serabutan, banyak orang" ini sebenarnya lumayan potensial kalau di Indonesia. Mrk bisa Bhs Inggris, high proportion punya pendidikan tinggi (minimal pernah kuliah). Bandingkan dgn rata" warga Indo yg cm ~15% tamat kuliah
@pekerjalab Bener sih, kadang liat syarat berkas lembaga pemerintah Indonesia tu keliatan bgt semua pakai ukuran lokal, tapi minta SDM yg pengalaman internasional π
Di lain pihak, wkt kita pindah ke LN dari Indonesia kok ga pernah dimintain list barang pindahan sm becuk sini? Kok becuk negara sendiri lebih nyusahin dan curigaan sm orang WNI dr pada becuk negara orang? Aneh
Ini keliatan bgt yg buat aturan ga pernah tinggal di LN. KBRI/KJRI sering slow response. Orang tinggal di LN jg susah cari jadwal ke KBRI/KJRI setempat karena jam operasionalnya bentrok dgn jam kerja sementara gaji dibayar hourly (kalo izin, ga digaji 1 hari).
Apa saja dokumen pendukungnya?
1. Boarding Pass
2.Pasport
3.Sertifikat kelulusan/ Surat Keterangan Selesai Bekerja
4.Surat Pindah dari KBRI/KJRI setempat
5. Packing List / Daftar Rincian Barang yang sudah di legalisir oleh KBRI/KJRI setempat.
@pekerjalab Syukurnya so far blm pernah jadi korban rasisme sih, walaupun di tempat kerja yg majority white dan citizen. Diskriminasi nya nya lebih kerasa wkt recruitment, terutama berkaitan dgn status imigrasi dan visa. Ada kasta-kastanya wkwk
Hibah ditutup April, penelitian harus mulai Mei. Per November udh harus under review di jurnal. Berarti September udh harus mulai submit2. Berarti manuscript harus kelar Agustus. Berarti Juni atau Juli harus ada hasil. Dari Mei ke Juli tu cuma 2 bulan. Efektif paling 1 bulan