@Carbaroxabane@Annrran_@supersugon666 loh kan anda tinggal cari sumber kredibel, bukan dari buzzer/media click bait.
kalau anda pakai media clickbait, dan ga bisa menemukan informasi sebenernya, apa bedanya sama buzzer?
@NSyamsuddin@sampingfore@udarida adasih wacana untuk sampai Tawangmangu, tapi Solo gakuat kalau harus main sendiri, kabupaten sebelah" e itu diajak katanya angel...
Sejujurnya boleh2 aja kita diskusi soal breakdown cost. tapi ingat, Setiap keluarga, setiap individu itu unik.
Thread gw soal breakdown cost itu untuk menjawab apakah UMR boleh nikah dan ternyata oke2 aja kalo dilihat general.
Tapi banyak komen yg fokus ke rincian juga. Ada yg bilang 2juta itu kebanyakan ada yg bilang kurang. Yg kurang ternyata bandingin ama kebutuhan proteinnya yg sampe 150gr per hari karena ternyata lagi body building. Thats fine. Memang kebutuhannya.
Itulah mengapa gw ga bicara detail. Karena tiap orang, tiap keluarga itu unik.
Orang punya anak itu silatnya beda2. Persis gimana silat ortu ke elu dan adik2 elu. Di postingan lain lu bilang kalo lu trauma karena ortu fokus ke anak yg lain daripada elu. Ya itu valid. Tapi kan gw ga bicara soal itu. Gw fokus ngejawab apa yg jadi berdebatan publik, period.
Ketika gw breakdown biaya "pampers alokasinya segini" bakal banyak yg bales "ya ga cukup, harga pampers segini" ternyata yg di maksud pampers premium. Sedang kelas menengah kebawah pasti ga bisa afford itu, yg bisa diraih ya yang sesuai dengan kemampuan
Itulah tugas financial planner. Kita bicaranya scope keluarga yg punya kebutuhan dan keunikan masing2.
Gw pernah cerita ada mbak2 single gaji 5 juta tapi bisa ngirim duit ke ortunya di kampung. Tapi ada juga direktur gaji 100juta yg ga punya tabungan sama sekali padahal belom punya anak.
Belajarlah untuk membuka mata, bertanya pada yg pengalaman. Bukan mematok sesuatu dari sosmed dan mempercayainya sebagai kebenaran. Ketidakseimbangan logika dan emosi kadang menyesatkan. Maka tenangkan pikiran lalu mulai belajar menatap dunia layaknya gelas kosong.