@KelvinMP_WWE JAngan pernah langganan folaplay, sedikit menyesal walau cuma 25k ini juga cashback gopay tetap saja jangan, mau fullscreen aja mesti pake iklan dulu gabisa pilih kualitas, sama suara soudnnya pecah
Efek MBG di stop sementara:
1. Harga telur turun jd 24k
2. Harga ayam turun jd 30k
3. Susu uht plain tidak langka
4. Rupiah menguat sedikit
5. IHSG cetak +5%
6. Tidak ada siswa keracunan
7. Para Ka SPPG yg joget2 di bogor, pada gigit jari
8. Guru jadi ga sibuk buang sisa makanan dan ngitung ompreng
Ini baru stop semntara dalam beberapa hari, ekonomi langsung lebih baik.
Apalagi STOP TOTAL?
SETUJU MBG STOP TOTAL?
@IndosFC Kemarin salfok pas perayaan after match ternyata bojan punya CGM (alat check glukosa) di lengannya, mungkin itu jadi pertimbangan kondisinya juga
Tapi lucu sih. Ada mahasiswa marah-marah karena gak bisa makan gara-gara gak ada driver yg ambil pesenan online foodnya. Padahal ya manusia teh diciptakan dengan akal, diberi otak dan sepasang kaki. Tinggal mikir lamun euweuh nu nganterkeun berarti ngikreuh. Da lain di hutan. 😌
@ardynshufi Medio kuliah di nangor tahun 2013 mah boro boro aya gopud, neang dahar ge ti cisaladah nepi ka gemass leumpang, hujan dipayungan, delivery paling ayana Munjul, hipotesa jeung BKI hahaha
They say most Persib fans are just low-income, uneducated cuanki sellers. We embrace it because this club belongs to everyone
They say the biggest clubs should never have been relegated. We embrace it because the journey back to the top means so much more when you’ve started from the bottom
Three-peats, though? That’s something they’ll never be able to say
BANDUNG. HISTORICAL MOMENT. TIGA GELAR JUARA BERUNTUN. TIGA MUSIM, SATU NAMA, ABADI DALAM SEJARAH, PERSIB BANDUNG! ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️
SEGALA PUJI KEPADA TUHAN SEMESTA ALAM! BARUDAAAAAAAKSSSSSS 🥹🥹🥹🥹🥹🥹🥹🥹🥹💙💙💙💙💙💙💙💙💙
#BandungFootball#BFCOM#Persib#Bobotoh#PersibDay
"Apakah benar Persib bukan bagian dari budaya dan identitas masyarakat Sunda dan cuma sekedar klub bola biasa?"
Menurut Koentjaraningrat melalui bukunya dalam Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia yang diwariskan secara sosial dalam kehidupan bermasyarakat dari generasi ke generasi. Definisi ini penting sebagai titik awal, karena dari sinilah kita bisa mulai mempertanyakan "apakah Persib memenuhi syarat itu?"
Sebagai klub, Persib yang lahir di tanggal 14 Maret 1933 ini merupakan peleburan dari BIVB (Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond, 1919) yang dibentuk di era kolonial Belanda sebagai salah satu wadah sepakbola Pribumi (bumi putera) di Bandung.
Fakta historis ini yang membuat Persib tidak bisa disebut sekadar klub bola biasa dan secara tidak langsung menjadikan Persib menjadi simbol perlawanan dan persatuan melawan penjajah di era itu yang mencerminkan "nilai & kepercayaan" serta "perilaku kolektif" dalam definisi budaya.
Suka tidak suka, pada akhirnya dukungan dan rasa yang muncul untuk Persib (lewat Bobotoh) ini sudah menjadi warisan keluarga untuk mayoritas warga Jawa Barat.
Dari kakek ke ayah, ayah ke anak, anak ke cucu, rasa yang diturunkan sudah menjadi seperti adat. Dari buku PERSIB: Sepak Bola dan Identitas Sunda menyebut Persib sebagai "episentrum kebudayaan" dan "warisan yang terus beregenerasi".
Klaim ini juga bukan klaim yang berlebihan, mengingat betapa dalam Persib tertanam dalam rutinitas sosial mayoritas masyarakat Jawa Barat yang bukan hanya saat pertandingan, tapi dalam bahasan sehari-hari, dalam mural, dalam lagu, bahkan dalam pilihan warna baju.
Lalu secara akademik, jurnal karya Tisna Prabasmoro (2020) dan penelitian lain melihat Persib sebagai medium pembentukan identitas kolektif Sunda yang mirip bagaimana Clifford Geertz bicara soal "sistem makna dan simbol" yang hidup dalam masyarakat.
Pada akhirnya hal-hal tersebut membuat Persib bukan hanya olahraga, tapi cara mayoritas orang Sunda mengekspresikan diri, melepas penat, dan menjaga harga diri daerah.
Dari sini, dengan sejarah yang begitu panjang, rasanya sulit untuk tidak menganggap Persib sudah menjadi bagian dari Budaya mayortias masyarakat Sunda pada umumnya, dan Jawa Barat pada khususnya.
Perihal konvoi dan sebagian masyarakat yang kelewat batas dalam melakukannya memang tidak bisa dihindarkan. Pun untuk hal-hal yang amat merugikan dan menuju anarkis, amat sangat tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun.
Makannya, saya bilang di awal kalo hal-hal kaya gini tuh sudah masuk ranahnya pihak keamanan. Karena penertiban dan pencegahan sudah seharusnya menjadi tanggung jawab aparat keamanan, yang memang tugasnya menjamin agar ekspresi kolektif seperti ini tidak melebar ke arah yang merugikan.
Dan jangan dilupakan kalau ada bagian yang sering luput dari diskusi perihal konteks ini. Di mana banyak dari mereka yang turun ke jalan adalah bagian dari kelompok rentan. Orang-orang yang tidak punya banyak pilihan hiburan yang terjangkau yang menjadikan Persib jadi salah satu dari sedikit hal yang mereka punya. Dan itu bukan sesuatu yang seharusnya dikriminalisasi begitu saja.
Terlalu banyak variabel di sini untuk bisa disederhanakan dalam satu narasi yang sejalan.
Yang bisa kita sepakati pada akhirnya adalah...
"Persib bukan sekadar klub bola. Ia adalah bagian dari cara masyarakat Sunda mengenali dirinya sendiri."
-
Sumber:
1. Koentjaraningrat. Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Gramedia, 1974.
2. Dadan Kurniawan. PERSIB: Sepak Bola dan Identitas Sunda. Afdan Rojabi Publisher
3. Tisna Prabasmoro & Randy Ridwansyah. "Fan Culture and Masculinity: Identity Construction of Persib Supporters." Gender Studies, 18(1), 2019
4. Tisna Prabasmoro et al. "Baster dan Identitas Penutur." Metalingua, Vol. 18 No. 1, 2020
5. Clifford Geertz. The Interpretation of Cultures. Basic Books, 1973.
How do you even put this into fukcing words?
Persib and Borneo are both chasing the title, and literally one goal, whether scored or conceded against their respective opponents, changes everything. Everything
And then Persib score in injury time against the one team they had never beaten at their new home. The winning goal came from the very player who had probably received the most criticism all year
What a ridiculous, phenomenal storyline. Football is unbelievable sometimes
Si Julio Cesar bieu sigah Materazzi di final Piala Dunia. Matrix maen gara-gara Nesta cedera, Julio maen gara2 Barba absen. Ternyata mereka memang dikirim Tuhan untuk mencetak gol penentu.