For second time
Keringat sebiji jagung bercucuran dengan telinga berdengung dan mata yang katanya kunang kunang padahal pandangannya hitam semua
Ternyata ada sesuatu yang kurindukan
Batin merespon otomatis ketika bagian dari diriku yang lain terancam
Oxytocin bahkan sering disebut
"emotional glue" karena membuat
manusia merasa terhubung
dengan partnernya
Biarlah kamu mekar dengan indah di pelataran asing daripada harus tumbuh ditanahku yang gersang,
Melihatmu layu dalam pelukanku adalah duka yang tak ingin kuabadikan,
Mentari yang kuusahakan itu belum mampu menyinarimu
Aku mencintaimu
Salah satu alasan mengapa mahasiswa teknik perlu lebih sering mengkaji persoalan sosial dan humaniora adalah karena 2 hal: Kredibilitas keilmuan mereka hampir selalu hanya bertumpu pada kemampuan memberi prediksi dan peringatan dini bukan komentar retrospektif. Dan yang paling penting: mereka terbiasa berakuntabilitas langsung akan hasil kerjanya.
Jika seorang insinyur sipil merancang bangunan dan bangunan itu roboh, ia bisa dipenjara. Ia harus memprediksi kegagalan struktural. Ia tidak bisa bersembunyi di balik niat baik, konteks sosial, atau alasan bahwa “implementasinya kurang sempurna”.
Sekarang bandingkan dengan seorang ekonom yang, melalui rekomendasi atau prediksinya, berkontribusi pada kebangkrutan sebuah negara. Apakah ia masuk penjara? Hampir tidak pernah. Kegagalan biasanya dijelaskan ulang sebagai kesalahan aktor, situasi global, atau kurangnya komitmen bukan kegagalan model analisisnya.
Ini BUKAN seruan untuk menutup fakultas-fakultas sosial dan humaniora. Ini adalah upaya menjelaskan apa yang seharusnya dihargai masyarakat sebagai mata uang keilmuan: Tantangan intelektual yang sesungguhnya bukanlah seberapa fasih kita menjelaskan setelah kejadian, melainkan apakah kerangka analisis yang kita gunakan mampu mengantisipasi hasil sebelum peristiwa itu terjadi. Akuntabilitas itu penting dan itu bukan hanya ranah orang teknik. In fact, sophisticated soshum scholars understand this very well.