inilah yang disebut visual colonialism, cara menggambarkan suatu tempat secara visual dengan cara yang secara ga langsung memperkuat hierarki antara negara maju dan negara berkembang.
gacuma turki loh ya, meksiko juga kena filter ini, malah saking seringnya bikin orang meksiko gedeg.
perhatiin deh, kalo setnya di meksiko, amerika latin, afrika atau timur tengah, sinematografernya bakal nambahin filter kuning kecoklatan ke seluruh gambar.
karna filter itu, banyak dari kita mikir tempat itutuh panas banget, berdebu, kering dan kadang kek kumuh aja.
sementara scene di amrik filternya biru, sejuk, bersih dan modern.
Guadalajara itu salah satu kota paling hijau dan modern di amerika latin loh ya. Mexico city punya arsitektur yang keren. Oaxaca punya landskap hijau dan pegunungan yang ga kalah sama negara lain.
tapi, kita gapernah lihat itu semua di film hollywood. yang kita lihat justru jalanan berdebu, orang miskin, kumuh, kartel.
Hari ini dalam sejarah, 12 Maret 1619, benteng yang didirikan Gubernur Jenderal VOC Jan Pietezoon Coen di dekat muara Sungai Ciliwung diberi nama Batavia. Nama Batavia diusulkan oleh pegawai VOC bernama Van Raai. Batavia berasal dari Batavieren, nama suku bangsa nenek moyang bangsa Belanda.
Coen tidak suka nama Batavia dan menamai bentengnya itu Nieuw Hoorn (Hoorn Baru) sesuai nama tempat kelahirannya, Hoorn di Belanda. Bahkan, daripada menyebut Batavia, Coen lebih baik menyebut Jacatra dari Xacatara, nama yang disebut dalam dokumen Portugis.
Akhirnya, Coen harus mengalah karena nama Batavia disetujui dan diresmikan oleh dewan pimpinan VOC yang disebut Heeren XVII (Heeren Zeventien) atau Dewan Tujuh Belas pada 4 Maret 1621.*
🔗https://t.co/WZKngh1GvJ
📷Lukisan Kastil Batavia sekitar 1662 karya Andries Beeckman. (Rijksmuesum Amsterdam).
ingat nokia?
hape yang sering dipakai orangtua kita.
Nokia adalah merk yang besar.
katanya tahun 2000an, penjualan hape ini tembus 5.4 juta unit.
Wow itu banyak banget.
ada riset yang di publikasi di univ havard, membahas alasan rubuhnya ekosistem Nokia.
begini rangkumannya :
• Terlalu kaku, Nokia itu jagonya bikin bodi HP yang kuat dan baterai awet. Zaman berubah, nokia tidak berbenah. alias kaku banget manajemennya.
• Orang bukan lagi cari HP yang bisa buat nimpuk maling, soalnya kalau mukul maling bisa jadi tersangka. bahaya banget.
• Kebanyakan Rapat
Di dalam internal Nokia, birokrasinya ribet. Mau mutusin satu hal saja butuh proses panjang dan persetujuan banyak orang. mirip anime "Rimuru Tempest" rapat mulu isinya. heran. Sementara itu, @Apple dan @Google geraknya sat-set.
• Budaya "Asal Bapak Senang", Ini yang paling fatal. Para bos di level atas sering dikasih laporan yang bagus-bagus saja.
"...Tenang Bos, aman, jadi tuh barang..."
Padahal, manajer di level bawah tahu kalau software mereka (Symbian) itu sudah bapuk dan kalah saing.
• Remehin Lawan, manakala iPhone pertama kali keluar (2007), Nokia agak sombong.
Mereka mikir,
"...Ah, itu cuma HP mahal yang layarnya gampang pecah dan baterainya boros, nggak bakal laku....".
• Mereka terlalu Pede dg angka penjualan mereka yang masih tinggi saat itu, padahal badai sudah di depan mata.
• Ekosistem purba, Apple punya @AppStore, Android punya Play Store.
Nokia?
Mereka punya banyak model HP (ratusan!), tapi setiap ganti model, pengembang aplikasi harus kerja ekstra lagi buat menyesuaikan.
• Akhirnya, pembuat aplikasi malas bikin aplikasi buat Nokia dan lebih milih fokus ke iPhone atau Android.
jadi bapakmu pake nokia apa?
link jurnal :
https://t.co/zu9mdh6MJt
Tera tangan di Leang Lompoa menggambarkan dua jari tangan yang dimutilasi. Modifikasi yang sangat ekstrim
Skenario lain: jari manis dan kelingking dilipat ke telapak tangan. Agak sulit ya menyemburkan oker sambil menempatkan tangan kanan di langit-langit lorong yang sempit, dan pencahayaan remang-remang. Coba aja dua jari dilipat sambil jari kelingking agak direnggangkan 🤷🏽
Kenapa Banyak Pejabat Asal Bicara Soal Bencana Sumatera?
Situasi ini menggambarkan apa yang diperingatkan W. Timothy Coombs dalam Situational Crisis Communication (SCC) Theory (2007), dalam krisis, pesan yang tidak empatik dan tidak terkoordinasi akan memperbesar kerusakan reputasi lembaga dan memicu hilangnya kepercayaan publik.
Teorinya sederhana,
tetapi justru tidak pernah sungguh-sungguh dihayati oleh para pejabat kita.
Para Kepala Biro Humas, nampaknya cuma bisa duduk melihat, sambil kaki sedikit lemas.
Dalam setiap bencana besar, termasuk yang baru melanda Sumatera, kita kembali disuguhi pola lama.
Negara terkesan lambat & mulut pejabatnya tak berempati.
Mereka sibuk ikut lomba bela diri & bela institusi.
Akibatnya, siaran pers yang seharusnya meredakan justru jadi ajang akrobatik nalar, yang membuat suasana duka, makin terasa menyedihkan.
Pernyataan defensif para pejabat,
mempertegas fakta, bahwa pejabat dan rakyat hidup di dunia yang berbeda.
Sebenarnya,
publik bisa memahami bahwa negara punya keterbatasan.
Asalkan, negara bicara apa adanya,
hadir dengan empati,
dan mengutamakan keselamatan warga ketimbang citra kolega & lembaga.
In La La Land (2016), a single camera recorded the scene with Emma Stone dancing and Ryan Gosling playing the piano.
More brilliant film details: https://t.co/oAPvViTpbh