Repost utk anak2 muda yg tanya apa maksud saya dgn "wisdom without fear". Intinya: menyuarakan kebenaran lebih nikmat dari mengejar kekuasaan. You should try it too. Boleh disebar.
pak faiz tadi ditanya audiens: “apa kalimat yang tepat, yang pengin didengerin orang2 yang lagi berduka?”
dijawab: “gak ada. gak perlu. mereka gak butuh itu. diam saja. kalau mau membantunya, pastikan aja kalau kamu selalu ada.”
mendengarkan seluruh wawancara, khususnya cuplikan ini, saya berpikir dan merenung panjang.
dan saya kira saya mesti mengoreksi catatan saya.
saya berpikir ini bukan lagi hanya tentang para pembisik atau orang-orang di sekitar pak prabowo. ini memang pak prabowo sendiri -dengan pendirian dan pandangannya sendiri. para pembisik dan orang dekat yg ABS hanya memperparah situasi ini. mungkin saya salah, tapi itu tercermin jelas dari wawancara sekian jam tersebut, dan cuplikan singkat ini.
and to all of you who have the responsibility of ensuring the president gets accurate information and acts accordingly, i bid you the best of luck and all the strength you need.
tetaplah sayang dan cinta pada negeri ini. tetaplah berisik. tetaplah kritik, bahkan protes, pada kebijakan pemerintah yang keliru -sembari terus berharap pemerintah mau memperbaiki diri dan memberi kesempatan orang-orang yang benar-benar mampu dan baik membantunya untuk itu.
kritik dan protes itu bukan makar. justru itu bentuk cinta terdalam kita pada republik ini.
Pernahkan Bapak/Ibu memandu anak untuk mengerjakan soal matematika/fisika dengan metode *diketahui*, *ditanya*, *jawab*?
Jika ya, pertahankan! Karena dengan metode seperti itu, anak menggunakan dasar *berpikir komputasional* atau *computational thinking/CT*.
CT adalah cara berpikir (a way of thinking) yang biasa digunakan oleh ilmuwan komputer untuk memecahkan masalah.
Mari kita bedah coretan pada gambar terlampir berdasarkan 4 fondasi utama Computational Thinking:
1. Dekomposisi (Decomposition)
Siswa tidak mencoba memecahkan masalah besar (menghitung volume bangun gabungan yang kompleks) sekaligus. Ia memecah masalah tersebut menjadi beberapa sub-masalah yang lebih kecil dan mudah dikelola:
Sub-masalah 1: Mencari tinggi limas yang belum diketahui.
Sub-masalah 2: Menghitung volume bagian limas.
Sub-masalah 3: Menghitung volume bagian kubus.
Sub-masalah 4: Menjumlahkan semuanya.
2. Pengenalan Pola (Pattern Recognition)
Siswa mengenali pola-pola yang ada di dalam gambar tersebut:
Ia menyadari bahwa bangun tersebut memiliki bentuk simetris, yaitu limas di atas dan di bawah ukurannya sama. Oleh karena itu, ia menerapkan pengenalan pola dengan tidak menghitung limas satu per satu, melainkan langsung menggunakan pengali dua V 2 limas = 2 x (...).
Ia juga mengenali pola segitiga siku-siku di dalam potongan limas, sehingga memicunya untuk menggunakan Teorema Pythagoras untuk mencari tinggi
3. Abstraksi (Abstraction)
Siswa menyaring informasi yang tidak penting dan hanya mengambil data yang esensial. Ia menerjemahkan gambar visual 3D tersebut ke dalam bentuk variabel-variabel inti yang dibutuhkan untuk perhitungan, yaitu tinggi segitiga, alas limas, dan rusuk kubus. Ia mengabaikan detail lain dari gambar dan hanya fokus pada model geometrisnya.
4. Berpikir Algoritmik (Algorithmic Thinking)
Siswa menyusun langkah-langkah penyelesaian (algoritma) yang sangat terstruktur, jelas, dan berurutan dari atas ke bawah.
Inisialisasi variabel: Menuliskan diketahui dan ditanya.
Proses 1: Cari dulu tinggi limas (proses ini seperti memanggil fungsi pembantu/ helper function sebelum masuk ke fungsi utama).
Proses 2: Menghitung Volume limas.
Proses 3: Menghitung Volume kubus.
Output: Menjumlahkan hasil proses 2 dan 3 ke dalam Volume Gabungan.
*Konsep Debugging*
Sebagai pendidik, gambar ini juga memberikan momen untuk mengajarkan konsep CT kelima, yaitu Debugging.
Jika diperhatikan pada bagian Volume kubus, kerangka algoritmanya sudah sangat benar, tetapi ada "logical error" atau bug pada rumus yang dimasukkan. Siswa menggunakan rumus Luas Permukaan Kubus, padahal yang dibutuhkan adalah rumus Volume.
Menganalisis jawaban ini di kelas bisa melatih anak-anak untuk tidak hanya peduli pada "hasil akhir", tetapi juga melacak bug baris-demi-baris pada sebuah sistem yang secara alur sudah logis, namun outputnya keliru.
Orang Cerdas itu kayak gimana sih?
Apa sih orang cerdas itu? Rasulullah memberi jawaban menohok:
“Al-kayyisu man dāna nafsahu wa ‘amila limā ba‘da al-mawt” (HR. Tirmidzi) — “Orang cerdas adalah yang menundukkan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.”
Kita sering memahami dāna nafsahu sebatas pengendalian syahwat. Padahal, nafs dalam Al-Qur’an dan hadis jauh lebih luas. Ia mencakup bukan hanya keinginan jasmani, tetapi juga ego, keangkuhan, dan rasa ingin berkuasa.
Menahan syahwat memang berat, tetapi menundukkan ego jauh lebih sulit. Syahwat bisa terpuaskan bila tersalurkan, tapi ego tak bisa disalurkan—ia harus dinihilkan. Imam al-Ghazālī dalam Iḥyā’ menegaskan: penyakit hati paling berbahaya adalah kibr (kesombongan) dan ‘ujb (kagum pada diri sendiri), karena keduanya menutup jalan kerendahan hati dan penerimaan kebenaran. Hawa nafsu bisa menjerumuskan pada maksiat, tapi ego bisa menutup pintu taubat.
Al-Qur’an memberi contoh kontras: Iblis jatuh bukan karena syahwat, tetapi ego—ia enggan sujud kepada Adam karena merasa lebih baik (QS. al-Baqarah [2]:34). Adam memang tergoda syahwat buah terlarang, tetapi selamat karena ia menundukkan egonya dengan taubat.
Para sufi menekankan jihad terbesar adalah jihad al-nafs: bukan hanya mengekang tubuh, tetapi menundukkan keakuan. Rumi pernah berkata: “Musuh terbesarmu bukan di luar dirimu, tetapi dalam dirimu.” Inilah inti dāna nafsahu: menghukum ego sebelum ia menghancurkan jiwa.
Orang cerdas bukan yang selalu memenangkan debat, melainkan yang berani kalah demi kebenaran. Ia bukan yang dipuja karena pengetahuan, tetapi yang rela merendah agar hatinya bersih. Inilah akal yang bercahaya: akal yang membawa manusia pada pengenalan diri, pengendalian hawa nafsu, dan pelepasan ego menuju Allah.
Orang cerdas yang tak mampu mengendalikan egonya justru paling berbahaya: politisi mumpuni bisa menjadikan retorika sebagai alat tirani, ilmuwan brilian bisa membenarkan kezaliman, bahkan seorang alim bisa tergelincir menjilat pemerintah bila haus menambang pujian dan cuan.
Jadi secerdas apa anda sih? Kalau menurut Nabi, ya sejauh anda mampu menaklukkan ego diri. Duh, kena deh diriku 😰🤦🏻♂️
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Gue berdiri 2 KM dari Istana Negara, dimana potret ketidaksejahteraan terlihat. Tapi pejabatnya asik joget-joget di Istana
Kemerdekaan bukan seharusnya diperingati dan dirayakan doang, kemerdekaan harus selalu diperjuangkan setiap saat
Bung Karno pernah bilang bahwa kemerdekaan 17 Agustus 1945 hanya jembatan
Belum, merdeka kita belum tuntas. Kita masih harus melawan penindasan, diskriminasi, kekerasan, dan kemiskinan struktural yang dipertahankan kekuasaan
Merdeka itu artinya jangan pernah lelah mencintai Indonesia dan jangan pernah lelah bersuara melawan ketidakadilan!