Tiap ke negara lain trus liat kota non ibukota punya public transportation yg ok tu selalu kesel.
Aku lagi di İzmir trus bepergian pake tram yg nyaman dan murah. Tram di sini mengangkut ratusan ribu penumpang/hari. Pas cek biaya pembangunan cuma 1.7 hari MBG.
Sialan.
Ga punya aslinya, udah cutting anggaran sana sini pun masih ga kuat gendong mbg
Jadi ya kereta tolol, kota sarang demit sama mbg itu sama gobloknya, 10 taun digoblokin mulyono kudisan rupanya org indo ga kapok, nambah lagi 5 taun digobloki wowok
Sopir truk & bus TNI & Polri sama saja kelakuannya di jalan.
Merasa paling berhak, paling berkuasa.
Pakai strobo, pakai sirine padahal tidak ada kepentingan mendesak.
Kadang kosong, kadang bawa pulang pasukan usai tugas.
Mobil saya pernah ditabrak truk Polisi di Komplek DPR Senayan.
Sopir saya malah yg digamparin.
Saya lihat langsung karena saya ada di dalam mobil.
Ketika saya keluar, baru Sopir Polisi itu minta maaf.
Tapi mobil saya udah rusak & sopir saya kena gampar.
> bikin tuntutan asal-asalan
> merebut atensi
> menggembosi momentum
> demo gagal
> 11 orang mati tapi terlepas dari hasilnya kelas menengah ngepet dapat pendidikan politik?
> balik ke kerjaan, keluarga, stabilitas
> nyuruh orang jangan lempar tanggung jawab ke dia doang
lintah.
@fhsk_aeri Kemungkinan peluru di pistolnya masih hampa, kemudian beberapa tembakan kemudian masih karet, baru kemudian tajam, yang kalau si polisi ambil posisi di depan kap mobil untuk collateral yang minimal (ingat, di samping ada penumpang), dia duluan yang menjadi korban tabrak pelaku.
dasar berpikirnya saja sudah terbalik, koperasi itu tumbuh dari bawah, kalau tumbuh dari atas bukan koperasi tetapi oligarki yg sedang membuat alat manipulasi mengeksploitasi hajat hidup orang banyak
ada ratusan ribu guru digaji tdk layak. lalu negara rekrut 96 guru untuk digaji layak.
lalu dipakai untuk validasi, bahwa negara hadir untuk guru.
mau sampai kapan, cara politis macam ini dipakai?
Padahal dulu gigih banget ngerusak KPK sampai semua orang disuruh akrobat logika nyari pembenaran, buzzer dikerahkan buat meyakinkan ada Taliban di KPK, sampai pemred-pemred diundang makan-makan melulu buat memengaruhi berita.
Inilah mengapa pas sekolah diajarin bahwa kalau sebaran data tidak normal, misalnya ada nilai ekstrim, yang digunakan adalah median (nilai tengah), bukan mean (rerata). 99 orang tidak bekerja plus 1 orang berpenghasilan 700 juta, ya reratanya 7 juta, tapi nilai tengahnya 0 juta.