Kalau 10-15 tahun lalu, narasi yang beredar:
“Kantor gue standar banget.
Nggak ada training ke luar negeri, nggak ada vacation allowance, nggak ada saham karyawan, nggak ada housing support, nggak ada mental health support, nggak ada education allowance, nggak ada corporate retreat ke luar negeri."
Sekarang hal sesederhana itu sudah naik kelas jadi “kantor green flag”, karena perusahaan makin terbiasa menurunkan ekspektasi pekerja sampai hak paling dasar pun terlihat seperti benefit istimewa.
Guys, ada laporan baru dari lembaga riset Celios yang menurut gue adalah salah satu yang paling mengerikan yang pernah gue baca tentang kondisi ekonomi Indonesia.
Judulnya: Republik Oligarki Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026.
Dan datanya bukan dari sembarang sumber.
Dari Forbes.
Dari LHKPN.
Data yang sudah terverifikasi dan tidak bisa dibantah.
Fakta pertama yang langsung bikin gue sesak napas:
50 orang terkaya Indonesia hanya 50 orang total kekayaannya mencapai Rp4.600 triliun per 2026.
APBN Indonesia?
Rp3.800 triliun.
Artinya 50 orang itu lebih kaya dari seluruh anggaran negara yang digunakan untuk membiayai 270 juta rakyat Indonesia selama satu tahun penuh.
Satu tahun.
Gaji PNS, subsidi BBM, bayar utang, bangun jalan, biaya militer, semua program sosial semuanya masih kalah dari 50 orang itu.
Dan setiap harinya harta 50 orang itu naik Rp13 miliar per hari.
Sementara upah pekerja harian di Indonesia bergerak di kisaran Rp2.000 sampai Rp5.000 per jam.
Fakta kedua ketimpangan di antara pejabat negara sendiri:
Total kekayaan pejabat negara era Prabowo-Gibran: Rp1 triliun lebih.
Dan dari seluruh pejabat itu 73% kekayaannya hanya dikuasai oleh 12 orang.
Dua belas orang.
Yang masing-masing punya kekayaan di atas Rp1 triliun.
Siapa?
Salah satu yang terbesar adalah Menteri Pariwisata Widya Kusuma.
Ada juga Menteri Perumahan Rakyat.
Keduanya masuk dalam daftar lima pejabat terkaya.
Fakta ketigayang paling menohok soal TNI dan Polri:
Setiap tamtama TNI prajurit paling bawah butuh 252 tahun masa tugas untuk menyamai kekayaan Panglima TNI.
Dua ratus lima puluh dua tahun.
Kalau mulai kerja umur 20 baru bisa menyamai kekayaan atasannya di umur 272 tahun.
Itu bukan angka. Itu absurditas.
Di Polri sedikit "lebih baik" polisi golongan paling rendah butuh 139 tahun masa tugas untuk menyamai kekayaan Kapolri.
Ketimpangan ini bukan hanya antara rakyat dan orang kaya. Tapi di dalam institusi yang sama.
Di antara satu korps yang sama.
Fakta keempat anggota DPR versus konstituennya:
Anggota DPR Gorontalo kekayaannya 800 kali lipat dari rata-rata masyarakat Gorontalo yang mereka wakili.
Anggota DPR Yogyakarta 400 kali lipat dari rata-rata masyarakat Yogyakarta.
Orang-orang yang mengklaim mewakili rakyat hidupnya 400 sampai 800 kali lebih kaya dari rakyat yang katanya mereka wakili.
Dan mereka yang membuat undang-undang. Mereka yang memutuskan kebijakan pajak. Mereka yang menentukan siapa yang dapat subsidi dan siapa yang tidak.
Dan ini yang membuat seluruh gambar itu menjadi sangat gelap:
Celios mengajukan satu pertanyaan yang sangat sederhana: kalau 50 orang terkaya itu dipajaki hanya 2% dari total kekayaan mereka negara dapat berapa?
Rp93 triliun per tahun.
Sembilan puluh tiga triliun.
Setiap tahun.
Dari pajak 2% saja atas kekayaan 50 orang.
Itu lebih dari cukup untuk membiayai rekonstruksi bencana besar.
Untuk membenarkan semua perlintasan kereta berbahaya di Jawa yang butuh Rp4 triliun.
Untuk menggaji 8 juta guru honorer setahun penuh.
Untuk menutup seluruh defisit BPJS Kesehatan.
Hanya dari 50 orang.
Hanya 2%. Per tahun.
Tapi itu tidak terjadi.
Dan Celios menjelaskan kenapa:
Karena orang-orang yang punya kekayaan itu — adalah orang-orang yang sama yang membiayai kampanye politik, yang duduk di dewan komisaris BUMN, yang punya akses langsung ke pengambil keputusan.
Pajak kekayaan sudah masuk dalam rencana Kementerian Keuangan paling lambat 2028 kata mereka. Tapi implementasinya? Masih "akan akan akan" saja. Tidak pernah benar-benar dieksekusi.
Sementara yang terus dipajaki adalah kelas menengah yang sudah ngos-ngosan. Kelas menengah Indonesia turun 1,1 juta orang dalam setahun tapi mereka yang paling mudah dikejar pajaknya karena datanya ada, penghasilannya kelihatan.
Seperti kata peneliti Celios: berburu di kebun binatang. Hewannya kelihatan, tinggal tembak. Sementara yang benar-benar harus dipajaki terlalu kuat untuk disentuh.
Dan ini yang paling mengerikan dari seluruh laporan ini:
Ketimpangan yang ekstrem ini bukan hanya masalah ekonomi. Ini adalah bahan bakar untuk sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Celios menelusuri pola historis dan hasilnya konsisten. Ketika ketimpangan mencapai titik ekstrem dan orang-orang hopeless tidak melihat jalan keluar yang rasional mereka tidak lari ke gerakan buruh atau gerakan sosial yang terorganisir.
Mereka lari ke kelompok-kelompok yang menawarkan identitas, musuh bersama, dan rasa memiliki.
Di Italia 1930-an orang yang di-PHK direkrut oleh Black Shirt. Di Jerman industri tutup, pengangguran meledak, orang mencari pegangan.
Di Indonesia sendiri kerusuhan 1998 dan berbagai gejolak sosial sesudahnya, ketika ditelusuri, akar masalahnya selalu sama: ketimpangan ekonomi yang dibalut isu identitas.
Dan tanda-tandanya sudah mulai terlihat sekarang ormas-ormas yang berdemo bukan ke instansi pemerintah tapi ke lembaga bantuan hukum masyarakat sipil, bayaran demo yang menjadi solusi pengangguran, program-program besar yang menyerap tenaga kerja tapi dengan cara yang menciptakan ketergantungan bukan kemandirian.
Solusi yang Celios rekomendasikan dan ini sangat konkret:
Satu — pajak kekayaan 2% untuk 50 orang terkaya. Langsung hasilkan Rp93 triliun per tahun. Bukan mimpi Brazil dan Colombia sudah melakukannya dengan komite audit independen.
Dua — moratorium MBG. Hentikan sementara, perbaiki tata kelola dari akar, baru jalankan lagi dengan tepat sasaran fokus ke daerah 3T dan keluarga miskin ekstrem, bukan merata ke semua sekolah termasuk swasta di Jabodetabek.
Tiga — kembalikan 20 triliun yang diambil dari anggaran kesehatan ke Kementerian Kesehatan untuk program stunting yang sudah terbukti efektif. Benefit yang dihasilkan: Rp400 triliun. Versus MBG yang belum jelas benefit konkretnya.
Empat — pajak windfall untuk komoditas yang sedang untung besar batu bara, sawit, nikel, minyak. Mereka untung dari harga global yang tinggi, sementara rakyat menanggung subsidi energi. Ini bukan soal nasionalisasi ini soal keadilan distribusi keuntungan.
Indonesia bukan negara miskin. Indonesia adalah negara yang kekayaannya terkonsentrasi pada sangat sedikit orang, yang sistem pajaknya melindungi orang kaya dan membebani kelas menengah, dan yang program-program besarnya lebih banyak menciptakan celah korupsi baru daripada menyelesaikan masalah lama.
50 orang lebih kaya dari APBN. 12 pejabat kuasai 73% kekayaan seluruh pejabat negara. Tamtama butuh 252 tahun untuk menyamai Panglima. Anggota DPR 800 kali lebih kaya dari konstituennya.
Dan solusinya sudah ada. Jelas. Terukur. Bisa dijalankan hari ini.
Yang tidak ada adalah kemauan politik untuk melakukannya. Karena yang harus meloloskan kebijakan pajak kekayaan itu adalah orang-orang yang sama yang akan paling terdampak olehnya.
Itu bukan korupsi yang bisa ditangkap KPK. Itu adalah struktur. Dan struktur hanya bisa diubah kalau tekanan dari bawah lebih kuat dari kenyamanan di atas.
⚠️ Disclaimer: Berdasarkan laporan Celios "Republik Oligarki Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026" dan wawancara peneliti Celios Bima Yudistira. Data bersumber dari Forbes dan LHKPN yang dapat diverifikasi publik. Ini analisis berbasis riset independen bukan tuduhan hukum kepada individu manapun.
#intinyadeh Walikota Surabaya Eri Cahyadi jd sorotan krn ucapan terima kasih serentak dr Dinas2 Pemkot kepada Eri atas kelancaran THR.
Dikritik keras krn dianggap narsis, jg krn pemberian THR adalah kewajiban Pemkot, bkn prestasi yg layak diberi ucapan terima kasih berlebihan.
Geser dikit dari Surabaya, ada kabupaten yg masih tergenang banjir. Dan menurut beberapa informasi, belum ada bantuan apapun yang diberikan oleh pemda setempat
Mari bantu ramaikan supaya bisa dinotice pemerintah rek!
- kasih nama RSUD baru, jd nama istri
- bikin program 1 RW 1 Nakes, tapi namanya R1N1
- pas banjir, semua damkar kirim pompa ke rumah mertua
- Istrinya jadi ketua PKK wajar, tapi jg jadi Bunda PAUD
- buku ajar PAUD wajib pake hasil karya istrinya
- bikin boezem dekat rumah mertua
“Macetnya Surabaya itu ga sama kaya Jakarta”
Iya, se-macetnya Jakarta masih ada opsi transportasi umum yang beragam.
Macet di Surabaya cuma bisa berpasrah diri sambil misuhin Eri
Ada cerita unik (sebenernya miris). Pernah naik Suroboyo Bus siang-siang, kondisi rame sampai banyak yang berdiri termasuk aku, tapi masih ada banyak space buat berdiri. Pas sampai halte transit, ada 3–4 ibu-ibu yang kelihatan lansia mau naik tapi ditolak helper dengan alasan penuh. Padahal di depan ada kursi prioritas lansia yang didudukin mahasiswa. harusnya helper bisa tegas nyuruh yang duduk di kursi prioritas buat berdiri.
Emang transum di sby ini banyak evaluasinya
Baru tau ternyata kalo ditetapkan jadi “bencana nasional” akan terpaksa ada audit besar-besaran penyebab kerusakan, struktur tata ruang & izin lingkungan sampe siapa yang menyebabkan kerusakan harus dicari😌 Lalu smua proyek milyaran dolar jg harus dihentikan😌 PANTESAAAANN😌😌😌
Makasih tipsnya. It does work. I definitely see significant improvements: bantu rambut yg udah hampir nonexistent ini ga terlalu lepek dan kulit kepala jadi less itchy. Minus bakal lebih cepet abis aja sampo eug.
Mari kita analisa satu per satu ya soal kelayakan Surabaya jadi "Kota Paling Berkelanjutan di Indonesia"
Karena.. ayolah.. yakin gak mau mempertanyakan?
kita mulai deh ya
1. Penataan Ruang & Infrastruktur
Ruang yang kayak apa yang ditata dan infrastruktur apa yang bikin juara?
Nepal berhasil karena polisinya ada di pihak rakyat, Korsel berhasil karena DPRnya ada di pihak rakyat, dan kita gagal karena polisi dan DPRnya gak berpihak ke kita :(
rakyat cuma punya rakyat itu juga kepecah belah
Ga ada dialog, ga membuka ruang aspirasi, ga ada upaya perbaikan secara internal, ga ada evaluasi, langsung ambil jalan kekerasan.
Gatau dah, mungkin bakal makin mencekam situasinya. Pemerintah ga tau cara handle situasi krisis.