“Semua pasangan yang akhirnya bercerai, dulu juga pernah berpikir, ‘Dia adalah orang yang tepat.’ Jadi, gimana kita tahu seseorang tepat sebelum menikah?”
Jawabannya kita tidak pernah bisa tahu dengan kepastian 100% sebelum menikah. Yang bisa kita lakukan adalah meningkatkan probabilitas bahwa kita memilih pasangan yang tepat dengan melihat apakah hubungan ini memiliki fondasi yang sehat untuk bertahan dalam jangka waktu yang panjang.
makin kesini makin sadar kalo relationship itu bukan cuma soal bucin-bucinan cringe. we need a partner yang bisa diajak grow bareng, diajak deeptalk, tuker pikiran tanpa ego war, saling backup di good and bad days, bisa ngobrolin apa aja, dan tetep jadi home to come back to.
seporsi adab
nyakitin orang itu pilihan. tapi nyalahin mereka karena bereaksi atas luka yang lo kasih, itu manipulatif. jangan dibalik seolah-olah mereka yang jadi masalah.
male-centered women love projecting. when you do everything for male attention and validation, you assume that’s the case for everyone. when in fact… wdgaf
cowo w emang ga perfect tapi yg bikin w cocok selama ini adalah w bener2 merasa aman dan jarang nangis (nilai plus bgt berdasarkan pengalaman🥲)
kompas moral kita sama (penting), suka jalan2, apapun gasss, selera musik + humor sebagian besar sama, dan ga bikin w anxiety