Sejujurnya saya merasa amat-sangat terguncang ketika melihat bagaimana manusia bisa sampai membenarkan kekerasan terhadap sesamanya atas nama agama, ideologi, politik, etnis, atau identitas apa pun.
Orang-orang kita cenderung membagi dunia menjadi “kami” dan “mereka”. Ketika seseorang dianggap bagian dari “mereka”, empati menurun. Jika suatu kelompok dianggap ancaman moral, agama, atau sosial, sebagian orang merasa kekerasan menjadi dapat dibenarkan.
Kita ga lagi ngomongin pemrakteknya ya. Tapi menurutku by sistem by design, a tersebut memang mengopresi dan mereduksi wanita. Gimana pria ga punya pandangan bla bla kalau secara komposisi a tersebut seperti itu.
Kenapa “Knowing yourself is the beginning of all wisdom”?
Karena kalo kita enggak mengenal diri sendiri, maka kita ngliat hidup kayak melalui lensa ketakutan, kecemasan, luka batin masa lalu, dan berbagai kondisi psikologis yang enggak kita sadari.