REFORMASI JILID 2 BUKAN SOLUSI!
Bangsa ini pernah merasakan pahitnya krisis 1998. Nilai rupiah anjlok, harga kebutuhan pokok melonjak.
Jangan sampai sejarah yang merugikan bangsa kembali terulang.
#ReformasiBukanSolusi#JagaIndonesia#EkonomiKuat#AksiDamai
MELAWAN NEOLIBERALISME DENGAN PRABOWONOMICS
Saatnya Indonesia berdiri di atas kaki sendiri.
Melalui hilirisasi, industrialisasi, dan pembangunan SDM unggul, Prabowonomics mendorong ekonomi yang berdaulat.
#Prabowo#Prabowonomics#IndonesiaMaju#IndonesiaEmas2045
Tidak semua yang ditampilkan dalam film atau dokumenter harus diterima mentah-mentah. Visual, narasi, dan emosi yang dibangun bisa membentuk opini publik bahkan memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap suatu isu.
#Papua#PapuaDamai#WaspadaCuciOtak#TolakFilmPestaBabi
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran.
Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini.
Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan.
Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja.
Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya.
Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia.
Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”.
Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal.
Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;)
Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan.
Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa.
Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri.
Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok.
Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
kalian boleh ndak suka sama mutualku ini, tapi coba dengerin aja dulu👂
kalo ada yg merasa sukses karir akademiknya, karir kerjanya, ceritakan dan mention sekolahmu dulu.
please guys, anak-anak kita beneran sedang butuh inspirasi 🙏
Salah satu tim perumus JAKI disini 🙋🏻♂️
Ada yg mau denger gimana cerita awal JAKI diinisiasi (2019) dan kenapa di awal kemunculan apps ini ditakuti seluruh dinas?
Kalau biasanya “oleh-oleh” itu makanan, kali ini beda, pak prabowo bawa Rp575 Triliun buat masa depan ekonomi 🇮🇩
Danantara Harapan Bangsa jadi harapan baru #OlehOlehPrabowo
Anak Saya Putri Papuana Melanesiani Pigai akhirnya sudah wisuda di Sekolah Kuliner Bergengsi Terbaik Nomor 1 Dunia Le Cordon Bleu di Eropa. Dulu dia sekolah di Amerika Serikat dan Sekarang di Eropa. Akhirnya lulus di Sekolah Top Dunia.
Anak Sy Putra salah satu generasi muda brilian, alumni Pangudi Luhur Jakarta sering juara dan siswa berprestasi dan saat ini kuliah S1 di salah satu sekolah terbaik dan tersulit dunia di Tokyo Jepang, yang suatu saat akan dilirik atau minimal Presiden Freeport atau Pimpin Smelter Freeport dimiliki Jepang di Gresik. Itu keinginan Saya sebagai orang tua but let’s see the subsequent😀
Mereka sekolah saatnya Ayahnya bekerja sebagai oposisi dan aktivis jalanan. Sekarang Saya tidak punya rumah dan tanah dan tercatat di LHKPN KPK sebagai Menteri Termiskin di Kabinet. Tetapi prestasi anak2 Saya bernilai tinggi. Saya tidak sombongkan diri Saya termasuk Menteri yg anak2nya masuk Sekolah2 Top Dunia.😀🙏
Mereka sekolah tanpa biaya Pemerintah, tanpa biaya LPDP seperti anak2 pejabat Indonesia pada umumnya dan juga anak Capres yang mantan Menteri dan Gubernur yang dapat biaya LPDP itu.
By the way “mereka dua tidak tahu kantor saya dan selalu naik taksi, Grab, bawa motor dan bahkan 1 pegawai Kementerian HAM pun tidak kenal. (Boleh tanya mulai dari Securiti, OB, sampai Dirjen/ Sekjen dan semua Pejabat).
Sampai di sini kita bisa renungkan kualitas dan integritas, karakter, kapasitas, moralitas orang tuanya karena “Buah Matoa tidak pernah jatuh jauh dari pohonnya”.
Anies Baswedan menjenguk aktivis KontraS, Andrie Yunus, yang menjadi korban penyiraman air keras. Andrie dalam kondisi sadar dan mendapat dukungan keluarga.
https://t.co/6oQprwzBFz