"𝑺𝒆𝒓𝒂𝒕𝒖𝒔 𝒔𝒆𝒎𝒑𝒖𝒓𝒏𝒂, 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒔𝒂𝒕𝒖 𝒍𝒆𝒃𝒊𝒉 𝒍𝒆𝒃𝒊𝒉 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒔𝒆𝒎𝒑𝒖𝒓𝒏𝒂"
Pada malam ini di Show Pertaruhan Cinta, Kak @C_IndahJKT48 telah mengumumkan akan segera lulus dari JKT48.
Kisah indah ini telah memasuki fase baru, fase epilog atau menjelang akhir cerita. Masih ada waktu untuk mengukir segala kisah indah yang akan dibawa dalam pikiran dan hati kita selamanya.
Oleh karna itu, mohon bantuannya selalu untuk Kak Indah ya! 🤍❤️🩹
#HariHancur #PatahHati #AkhirCeritaIndah #OshiGrad #KebanyakanHestek
Selamat pagi si paling level Asia yang menganggap kegagalan di Piala AFF layaknya kentut: setelah dikeluarkan akan segera terlupakan.
Kegagalan timnas Indonesia lolos babak grup untuk dua edisi beruntun memunculkan narasi yang lumayan ramai tentang pelatih John Herdman. Di lini masa seliweran anggapan bahwa Herdman miskin taktik, gak punya plan B, gak adaptif, dan lain sebagainya. Apa iya?
Menariknya, kalau mengutip beberapa analisis dari media luar, Herdman disebut cukup fleksibel. Bahkan, ada yang menyebut filosofi Herdman bak chameleon alias bunglon (flexible and adaptive squad designed to change shapes and frustrate opponents based on tactical demands).
Media analisis taktis macem The Mastermind Site dan KlipDraw menyebut saat membawa Kanada berprestasi, Herdman jarang terpaku kaku pada satu sistem. Menyesuaikan kelemahan lawan, secara dinamis dapat beralih antara skema 3-4-3, 3-5-2, 4-4-2, hingga 4-2-3-1.
Tapi, ada juga yang bilang kalau soal in-game management, Herdman emang terbukti kesulitan dan dinilai terlalu kepala batu secara taktis. Meski fleksibel saat menyusun rencana prapertandingan, kelemahannya membaca dan memodifikasi taktik di tengah laga sering jadi sasaran tembak media.
Misalnya pas Piala Dunia 2022. Banyak pengamat dan suporter Kanada yang geram karena keputusannya mempertahankan formasi 4-4-2 melawan tim-tim superior Eropa. Saat lini tengahnya dihajar karena kalah jumlah, Herdman keukeuh gak mengubah pendekatan taktisnya atau menambah gelandang jangkar, yang berujung fatal pada hasil Kanada di fase grup.
Ada juga pas melatih Toronto FC saat menjalani kompetisi berdurasi panjang. Herdman disorot sangat lambat merespons penyesuaian taktik pelatih lawan. Sewaktu sadar taktiknya terbaca lawan, alih-alih melakukan tweaking, ia kadang bereaksi panik dengan membongkar ulang seluruh struktur taktis skuadnya dari nol di laga berikutnya. Kebiasaan merombak fondasi secara radikal ini diangggap merusak chemistry dan pemahaman posisi pemain di lapangan.
Kalau menurut kalian gimana? Apa iya John Herdman emang begitu orangnya?
Shin Tae-yong punya pertahanan rapat dan serangan balik cepat. John Herdman punya pressing tinggi dan through pass. Patrick Kluivert punya Arya Sinulingga dan Coach Justin.