Juve Saatnya Menoleh ke Samurai Biru
Sejak Juventus kalah di Final Cardiff melawan Real Madrid pada 2017, ada sesuatu yang patah di dada saya. Mental nobar pelan-pelan hilang, jantung saya melemah, dan setelah saat itu saya putuskan untuk jadi fans lemah berbasis highlight livescorer saja.
Dan kekalahan 0-2 dari Fiorentina semalam, jelas bukan hidup yang sederhana menurut definisi Juventini. Apalagi 2026 ini, tahun yang saya curigai dirancang khusus untuk menguji kesabaran pendukung sepak bola Italia. Pertama, Italia gagal Piala Dunia untuk ketiga kalinya berturut-turut, kalah adu penalti 1-4 dari Bosnia-Herzegovina di Zenica. Kedua, Juventus terlempar dari empat besar Serie A. Tidak ada Liga Champions musim depan, tidak ada pemasukan UCL untuk menambal FFP 70% SCR, tidak ada panggung Eropa buat menjual gengsi.
Salihamidzic mengingatkan bahwa Juventus selalu menjadi semacam termometer sepak bola Italia. Kalau Juve demam, timnas masuk UGD. Sekarang termometernya bukan sekadar demam, tapi sudah menyentuh 40 derajat. Tapi sebelum kita berlarut-larut menyalahkan keadaan, izinkan saya mengingatkan satu hal yang sering kita lupa. Juventus ini punya DNA bangkit. Mereka pernah lebih hancur dari ini, dan mereka selalu kembali sempurna.
Tengok 8 November 1998 di Stadio Friuli, Udine. Del Piero, di puncak emas karirnya pada usia 23 tahun, jatuh dengan kaki terlipat di menit ke-92. Diagnosa: robekan ligamen dan posterior sekaligus, sembilan bulan absen. Tanpa kaptennya, Juve langsung terjerembab ke peringkat tujuh. Tim yang baru saja tiga kali beruntun ke final Liga Champions mendadak harus bermain di Intertoto.
Lalu datang bencana yang lebih besar: Calciopoli 2006. Juventus dijatuhkan ke Serie B, dua scudetto dicabut. Para bintang angkat koper. Yang tinggal segelintir nama, Del Piero, Buffon, Nedved, Trezeguet, yang memilih turun ke divisi dua dengan kepala tegak. Del Piero menjadi top scorer Serie B, mengangkut Juve langsung promosi, dan menjadikan dirinya bukan sekadar bintang, melainkan jiwa klub. Hasilnya kita semua tahu: Juventus kembali ke Serie A dalam semusim, menjelma raksasa, dan memenangi sembilan scudetto beruntun. Sembilan.
Maka, bencana 2026 ini sebenarnya bukan rekor baru bagi Juve. Ini hanya episode pengulangan dari bank serial yang sudah dipunyai. Yang dibutuhkan sekarang sama persis dengan dulu: cara berpikir Del Piero.
"Tetap di kapal saat banyak yang loncat. Sabar saat hasil belum kelihatan. Percaya bahwa kerja sunyi suatu hari akan berbunyi."
Saatnya Juventus meniru Jepang, negara yang sudah tiga tahun tak terkalahkan oleh siapa pun. Jepang dulu juga remuk. Tahun 1998 debut Piala Dunia, kalah tiga kali tanpa mencetak gol. 2018 unggul 2-0 atas Belgia di babak 16 besar, lalu dibalik 2-3 di sisa menit. Tapi mereka tidak gonta-ganti pelatih asing setiap kalah, tidak menaturalisasi pemain setengah hati. Mereka pulang ke J-Village dan percaya pada anak-anak akademinya.
Hasilnya hari ini cukup menakutkan. Jepang sudah tidak terkalahkan sejak 8 Oktober 2021. Yang paling dahsyat adalah melumat Brasil dan Inggris pada ajang laga persahabatan, dan sudah lebih dulu lolos Piala Dunia 2026 dibanding hampir semua peserta Asia.
Jepang sebenarnya adalah versi modern dari resep Del Piero. Sabar, setia, dan percaya pada anak-anak sendiri.
Maka dengan tidak mendapatkan tempat di UCL, ini adalah jeda paksa, kesempatan langka buat bersih-bersih dapur. Sudah saatnya mengeluarkan penumpang yang membuat kapal ini karam. Juve harus berhenti belanja makhluk seperti Vlahovic yang gajinya selangit tapi keran golnya kering, atau Koopmeiners yang harganya mahal tapi performa mesinnya rusak. Sudah saatnya mengorbitkan Yildiz muda berikutnya, membangun ulang dari Next Gen, dan menerima dengan ikhlas bahwa tidak lolos UCL bukan akhir dunia.
Biarin seluruh klub Italia mengutuk Juve mandul & tak berprestasi dan memamerkan trofi. Kadang, untuk benar benar pulih, kita memang harus dihancurkan dulu oleh keadaan. Fino alla fine.
@tahilalats Menurut sejarah ketika bangsa Portugis pertama kali menginjakkan kaki di daerah Sumatera Utara dan mulai bernegosiasi dengan pedagang sekitar
@PaltiWest2024 Kenapa ya pdi ini seakan akan merasa menjadi korban yg tersakiti. Apakah mereka tidak sadar kalo 10 taun belakangan banyak menyakiti rakyat. Ah tp rasanya itulah politik. Ketika kalah ya cosplay dekat dgn rakyat, ketika menang dia bergumam "apa itu rakyat" , haha.