Indah G mempertanyakan penggalangan donasi untuk korban bencana di NTT yang menggunakan akun resmi pemerintah serta melibatkan posisi staf khusus kepresidenan.
Lewat Threads, ia menyoroti mengapa seorang yang disebutnya sebagai “billionaire” masih meminta masyarakat berdonasi, terlebih dana tersebut diarahkan ke rekening PT RANS Entertainment Indonesia.
“Why is a billionaire asking us for donations to NTT?” tulis Indah.
Mau tau seberapa besar jurang ketimpangan di Indonesia?
Bayangin ada 100 potong ayam goreng KFC buat 100 orang.
Idealnya, satu orang dapat satu potong.
Tapi di Indonesia:
- 1 orang ambil 50 potong buat dia sendiri
- 9 orang berikutnya masing masing dapat 2 potong
- 40 orang berikutnya harus berbagi 18 potong, per orang bahkan kurang dari setengah potong
- sementara 12 potong ayam sisanya harus diperebutkan 50 orang terakhir, masing-masing cuma dapat suwiran daging yang nempel tulang atau bahkan cuma kebagian tulang yang tercecer.
Pembodohan Publik tentang Desil dan Orang Kaya
Pemerintah mewacanakan pembatasan Pertalite untuk desil 9–10 dengan menyebutnya “orang kaya”.
Ranking administratif dipelintir demi melegitimasi pencabutan subsidi ini layak Ini disebut sebagai pembodohan publik.
Kenapa?
Narasi “desil 9 = kaya” dan “desil 10 = elite” bermasalah sejak definisinya.
Desil pada DTSEN adalah peringkat relatif kesejahteraan, bukan kelas sosial absolut.
D1 = 10% terbawah
...
D9 = persentil 81–90
D10 = 10% teratas.
Sekarang bandingkan dengan distribusi kesejahteraan BPS September 2024:
• miskin: 8,57%
• rentan miskin: 24,42%
• menuju kelas menengah: 49,29%
• kelas menengah: 17,25%
• kelas atas: 0,46%
Artinya 82,28% penduduk bahkan belum masuk kelas menengah, sementara kelompok yang dikategorikan kelas atas hanya 0,46% populasi.
Kalau distribusi ini dipetakan ke persentil:
P1–P8,57 = miskin
P8,58–P32,99 = rentan miskin
P33–P82,28 = menuju kelas menengah
P82,29–P99,54 = kelas menengah
P99,55–P100 = kelas atas (kaya)
Kalau didistribusikan ke desil:
D1: 85,7% miskin + 14,3% rentan miskin
D2: 100% rentan miskin
D3: 100% rentan miskin
D4: 29,9% rentan miskin + 70,1% menuju kelas menengah
D5: 100% menuju kelas menengah
D6: 100% menuju kelas menengah
D7: 100% menuju kelas menengah
D8: 100% menuju kelas menengah
D9: 22,8% menuju kelas menengah + 77,2% kelas menengah
D10: 95,4% kelas menengah + 4,6% kelas atas
Jadi D9 praktis tidak memiliki kelompok kelas atas atau orang kaya sama sekali.
Kelas atas baru muncul sekitar P99,55, atau hanya setengah persen paling ujung dari distribusi.
Desil 10 mencakup 10% penduduk.
Kelas atas menurut BPS cuma 0,46%.
D10 sendiri juga sangat heterogen.
P91, P95, P99, dan P99,9 memiliki kemampuan ekonomi yang sangat berbeda.
World Inequality Report menunjukkan:
• top 10% menerima 46,2% pendapatan nasional
• top 1% sendiri menerima 17,6%
Untuk kekayaan:
• top 10% menguasai 59,4%
• top 1% sendiri menguasai 19,9%
Jadi konsentrasi kekayaan di bagian paling atas sangat besar. Memasukkan profesional mapan, pengusaha, eksekutif, dan konglomerat ke satu kelompok lalu menyebut semuanya “elite” menghapus struktur distribusi yang sebenarnya.
Sebaiknya pemerintah berhenti melakukan pembodohan publik dengan menyederhanakan struktur kesejahteraan seenaknya.
Ketika kelas menengah, affluent, dan kelompok superkaya dicampur dalam satu label, kebijakan yang lahir dari kategorisasi itu sangat mudah salah sasaran.
Setelah bikin geger dengan muncul update sosmed, Lee Jonghyun akhirnya pamit (lagi) 👀
Dia baru aja post surat klarifikasi panjang dan hapus foto-fotonya sebagai warga biasa.
Biar nggak usah repot baca panjang-panjang, ini intinya 👇
Dia minta maaf banget ke mantan grupnya, CNBLUE. Dia negasin keluar grup itu murni keputusannya sendiri buat tanggung jawab, bukan karena dijauhin atau dikucilin sama member lain.
Terus dia juga klarifikasi soal bisnis. Ternyata ada brand kecantikan yang ikut keseret dan dirugiin gara-gara postingan sebelumnya.
Dia minta orang-orang berhenti nyerang brand tersebut karena itu nggak ada hubungannya sama dia.
Yang paling penting, dia nekenin nggak ada niat balik jadi artis. Ini bakal jadi update terakhirnya karena mau lanjut hidup tenang aja sebagai orang biasa dan nggak akan main sosmed lagi.
Kayaknya dia gercep nulis ini biar mantan grup dan bisnis orang lain nggak makin kena imbas dari kemunculannya kemarin ya 🤭
Yaudah bang, 8 tahun nggak ngabarin di sosmed juga bisa hidup tenang kan?
Kalau dipikir-pikir emang nggak habis pikir sama keberanian Lee Jonghyun ini.
Abis borok-boroknya yang ngerendahin dan ngelecehin perempuan terbongkar, dia berani-beraninya nyoba rebranding jadi sipaling orang biasa.
Padahal jejak digital seterang benderang ini 👀
Nih kalau penasaran sama isi chat grup mesumnya sama Jung Joonyoung. Dia dengan santainya nyuruh temennya 'ngirim' perempuan ke dia. Terus kalau ada kejadian apa-apa, dia yang paling depan nagih minta videonya.
Dia bahkan ketawa-ketiwi ngerespons bahasan soal ngasih obat tidur ke perempuan buat diperk0sa, dan dia sendiri ngaku bangga bilang kalau dia itu 'sampah' habis pamer kelakuan asusilanya.
Sekarang dia sok bijak curhat susahnya jadi warga biasa. Enakan jadi artis ya? Hmmm nggak berniat balik ngartis kan?
Kalau iya sih, bener-bener urat malunya udah putus ya 🤮
"Apa ada yg malah makin religius setelah ngulik beginian?"
Ada, gw salah satunya
Bedanya, gw gak berhenti di kesimpulan "Oh, berarti agama cm saling menjiplak"
Gw lanjut nanya "Kenapa kisah yg mirip bisa muncul di banyak peradaban?"
Dlm Islam, jawabannya sudah ada sejak awal
Jarang muncul di podcast, ternyata Sheila On 7 punya alasannya sendiri. Duta mengungkapkan, bandnya lebih nyaman berbagi cerita lewat radio karena dinilai punya batasan yang membuat obrolan tetap nyaman, informatif, dan ramah untuk semua umur. Seperti apa penjelasan lengkapnya?
Baca Selengkapnya Disini: https://t.co/gvIParxKJg
#VIVANews #VIVAFlash #SheilaOn7 #DutaSheilaOn7 #Podcast #Radio #MusikIndonesia #BeritaHariIni
Fajar Alfian
"Kami sebenarnya sudah sisa-sisa tenaga, dua minggu yang sangat melelahkan tapi kami coba terus bertahan, mencari cara bagaimana untuk memenangkan pertandingan. Saya berterimakasih buat Fikri yang sudah meng-cover semua bagian area lapangan."
"Ini rezeki dan hasil kerja keras kami. Semoga menjadi momentum untuk ganda putra semakin baik, bangkit lagi dengan junior-junior kami semakin termotivasi untuk terus mengejar dan menempel ranking kami jadi di level atas, yang ikut tidak hanya dua pasang tapi bisa tiga, empat bahkan lima."
"Hasil tidak maksimal di Indonesia Open, di kandang sendiri membuat kami terpukul tapi dari situ pasti ada motivasi sendiri buat kami bisa menjawab keraguan semuanya."
Muhammad Shohibul Fikri
"Jujur saya tidak merasa meng-cover a Fajar hari ini, malah saya merasa sangat dibimbing tadi. Jika saya melakukan banyak kesalahan, dia tidak pernah mengerutu, tidak pernah menghakimi saya. Dia selalu membangkitkan semangat dan itu yang membuat saya jadi tidak lelah, tidak mudah capek."
"Kondisi kami sudah menurun tapi ini final, sayang banget kalau kami tidak memaksa. Alhamdulillah, dua minggu ini sangat luar biasa."
"Berikutnya Kejuaraan Dunia, kami berharap dengan hasil ini semoga bisa mendapatkan hasil yang baik juga di sana. Setelah pulang, kami akan langsung melakukan persiapan yang intensif."
Fajar/Fikri🇮🇩 hari ini meraih gelar China Open 2026, mengalahkan unggulan 1 dan No.1 Dunia Kim/Seo🇰🇷, ini gelar Super 1000 satu2nya yg didapatkan pemain Indonesia tahun ini.
📸🗣️: PBSI
Orasinya keren bgt, merinding 🔥, sedih ngeliat negara yg selalu kita banggakan di urus oleh manusia tidak berempati hanya memikirkan perut dan golongannya sendiri 🥀
It is the middle of the rainy season, and I long to hear the voice of Shin Hyunbeen quietly reading the words of Émil Cioran for a long time. "Everything is possible, and everything is impossible. Everything is permitted, and everything is not permitted. To realize something and to do nothing, to believe and not to believe—all of these are one. Is there anything to gain or lose in this world? To gain is to lose, and to lose is to gain." This is the passage "It Doesn't Matter" from the book The Darkest Hour Is Before Dawn, which gave her strength during a difficult time in the past and which she reads periodically ever since. "In a way, it sounds very cynical, but there is a kind of comfort this book offers. Once I realized that nothing can be definitively judged, I was actually able to accept the situation presented to me right now with greater clarity. In the end, I realized there is nothing left but to ride the flow and work hard on what I can do."
Shin Hyunbeen’s current journey flows from Jang Gyeoul in Hospital Playlist, who resembled winter; to Miran in Beasts Clawing at Straws, whose sudden flash of murderous intent was like thunder; to Jung Younghee in The Ugly, whose expressions were visible even without seeing her face; and recently, to Gong Seolhee in Colony and Kang Miae in her upcoming project (working title) Gardeners. Since it doesn't matter we have captured Shin Hyunbeen’s present who can do anything, in the August issue of GQ and at https://t.co/gEGZMXSqaS.
Kenapa jaman sekarang “merasa cukup” itu kayak hal negatif ya? Seolah-olah kita manusia harus terus merasa haus for the sake of “productivity”?
I have to disagree with this mentality, “merasa cukup” doesn't make one stop working, it makes them appreciate what they have, hence, not being greedy.
Mereka tetap berusaha tapi ga menghukum diri atas apa yang udah mereka capai, tetap bersyukur for their current state.
No, aku ga nyalahin Kak Angga for this, I'm blaming this on capitalism yang bikin manusia itu kayak sapi perah.
Capek banget hidup kalo ga diimbangi dengan perasaan cukup, rasanya kayak kejar-kejaran tapi ga ada finish line-nya.
Kenapa pada mempermasalahkan Yovie jadi komisaris Pupuk Indonesia sih?
Padahal cocok banget. Beliau bisa bantu jadi mediator kalau ada petani rebutan lahan sama parcok.
🎵 “Dia untukku, bukan untukmu…
Dia milikku, bukan milikmu…
Pergilah kamu, jangan kau ganggu…” 🌾