โ
"Hiks, siap-siap deh kalau gitu. Besok pagi harus belanja biar masak di rumah aja, selamat tinggal sementara gula-gula manis duniaku." Monolog sang puan, dengan senyuman pahit yang mengiringi.
โ
โ
Tebak siapa yang sedang memajukan bibirnya beberapa senti itu? Yang wajah serta rambut terlihat sama berantakan seolah tak mempedulikan penampilan.
Ya, itu Bianca malam ini.
โ
โ
Pandangan sang puan diarahkan ke pantulan kaca yang berada di hadapannya. Menatap pantulan tubuhnya sendiri yang sebenarnya sih, jauh dari kata buruk untuk manusia normal.
Namun, kembali lagi, penari memiliki standarnya tersendiri. Terutama ballet!
โ
โ
Beep.
Beep.
Beep.
Selepas urusannya sudah berhasil terlaksana, ia meletakkan kembali remote tersebut tepat pada tempat pertama ia mengambilnya. Sengaja, takut lupa jika dipindahkan ke tempat lain.
โ
โ
Kepala sang puan digerakkan ke kanan dan ke kiri. Satu, dua, tiga, hingga entah berapa kali sampai tak dapat dihitung lagi.
Pusing? Tentu. Namun setidaknya jauh lebih baik dibandingkan harus menghabisi minggu malam dengan perasaan yang biru karena merindu, kan?
โ