R A N J A U
aku masih tak tahu apakah puisi diciptakan untuk melepaskan rindu atau menggandakannya. tapi penyair tahu setiap kata memiliki bahayanya masing-masing, yang sabar mengintai dan tersembunyi. ada suatu saat, titik di mana puisi menikam penulisnya sendiri. pasti.
aku akan mencintaimu sebagai ingatan-ingatan kecil yang sulit disapu waktu. seperti bulir hujan, sederhana, namun mengepungmu.
ketika coba kau lupakan hari ini, akan kau temukan diriku di hari yang lain. tak ada waktu untuk membuatmu kering dari rindu. tak ada!
dengan jahatnya masa lalu menyapa sebagai dingin tubuhku yang merindukan pelukmu sekali lagi.
o ...
tak ada yang lebih sakit daripada patah hati, membiarkanmu tetap hidup dengan jantung tergorok sepi.
~@biruelok
A S T R A P H O B I A
aku akan mendatangimu sekali lagi, sebagai warna kilat yang menyambar dan guntur yang bergetar di kaca jendela kamarmu:
sebagai peluk yang kau rindukan di masa lalu.
~@biruelok
o kekasih ...
jantung yang diliputi cinta takkan pernah kehilangan detiknya.
berdetak ...
berdetik ...
berdetak ...
berdetik ...
meski segala yang berwaktu makin lemah dan menua, tetapi rindu pada senyummu masih di gairah yang sama.
~@biruelok
O R A N G
T E R A K H I R
rindu mengajarkanku memahami kedalaman waktu. semakin jauh kau ditelan olehnya, semakin banyak aku mengenal cinta dalam ragam wajah.
G E J A L A
perasaan yang tandus dan hujan yang terus mengalir keluar bukti hidup yang tak berbunga. atau mungkin rindu, yang sudah mulai gatal dan tak mempan digaruk doa yang rutin dirapal.
~@biruelok
cinta yang dewasa ...
yang kelabu dan basah ...
adalah mendung yang tak terusik musim.
aku kehabisan kata-kata menggambarkanmu.
mata menjadi bibir kedua yang mengambil alih bicara setelah cinta kehilangan tabiatnya.
desember ...
hujan turun sekali lagi.
~@biruelok