Berhentilah berdoa untuk keselamatan negeri ini. Mesin birokrasi dirancang untuk terus berjalan,melindas siapa saja yang terlalu lambat mendayung cicilan.
Kekuasaan bukan hanya di kontol pelaku, tapi juga di tangan massa yang menonton. Tolak kewajiban moral untuk jadi tontonan. Kalau lo viralkan tanpa otonomi korban, lo bukan pejuang — lo cuma onani di muka algoritma .
Kalau ide memang tidak langka, kalau desain bisa diperbanyak tanpa habis, kalau simbol justru hidup karena beredar—lalu apa sebenarnya yang dicuri?
Mungkin bukan karya. Sudah jelas, yang dipertahankan mati-matian adalah hak untuk melarang.
@JS_Khairen Jadi singkatnya, @JS_Khairen
:
Lu bukan lagi penulis yang lagi perang melawan bajakan.
Lu sudah jadi polisi spectacle yang lagi jaga pagar pagar kepemilikan fiksi supaya tetap untung.
@JS_Khairen Pembajakan PDF? Itu cuma orang miskin/nyari ilmu/nyari hiburan yang nggak sanggup byr 150-300 ribu per buku di tengah upah UMR yang bikin orang cm bisa mkn mie instan. Samain keduanya cm nunjukin btp kosongnya argumen moral lu—smpai hrs pinjem isu geopolitik biar keliatan serius
@TerapiDMinor nggak, bro. nggak segitu pantesnya lau disakitin mulu. itu bukan pantas, itu cuma pola busuk yang dunia ini ulang-ulang biar kita capek sendiri.
ingat masih ada arak dingin semalam yg siap teguk,ada kawan yang barengin bangun tumbang lu. Yuk melingkar
Baru baru ini , kasus seperti Hogi Minaya , atau Amaq Sinta (2022), atau Muhyani (2023) jadi contoh nyata—di mana "penjahat" (korban struktural) mati, korban bela diri jadi penjahat baru di mata hukum, dan semua orang akhirnya korban dari sistem koersif yang pura-pura adil.
negara balik jerat korban itu sebagai tersangka karena "melampaui batas" atau "noodweer exces". Inilah lingkaran setan 'negara hukum' : kemiskinan → kejahatan jalanan → bela diri → kriminalisasi → ketakutan massa → ketergantungan pada negara → kemiskinan lagi.
Alternatif tidak selalu lahir sebagai rencana besar. Kadang ia muncul sebagai ketidakmampuan untuk sepenuhnya percaya. Sebagai penolakan kecil untuk menganggap dunia ini final. Sebagai rasa canggung yang bertahan bahkan setelah semua penjelasan rasional diberikan.
Sejarah tidak bergerak karena orang mencintai nasibnya. Ia bergerak karena ada momen ketika nasib berhenti dianggap sah. Ketika penderitaan tidak lagi diterima sebagai harga normal kehidupan. Ketika dunia kehilangan aura keniscayaannya.