“dear diary
24 agustus 2026. hari yang mungkin biasa, tapi aku akan selalu mengingat hari itu selama aku hidup. pagi itu kami melaksanakan rapat karhutla, tentu saja mas wowo hadir sebagai pemimpin rapat.
sepanjang acara kurasakan tatapan mas wowo selalu terpaku padaku. sekuat tenaga kusembunyikan salah tingkahku, berharap tiada yang menyadari wajahku sudah memerah.
denting ponsel memecahkan fokusku. aku tersenyum ketika nama mas wowo muncul di bar notifikasi.
kenapa senyum-senyum gitu, hm? ujarnya dalam pesan itu. aku melirik sedikit. mas wowo sedang menjelaskan metode yang efektif untuk memadamkan api karhutla.
aku mengetik balasan. mas, tolong jangan lihat ke arahku terus yah. aku malu.
kulirik mas wowo yang sedang menggeser layar ponselnya. dia tersenyum kecil lalu menoleh ke arahku.
aku menjilat bibirku, sengaja menggodanya. dia sangat menyukai bibirku dan aku tahu itu.
nanti pulang rapat ke kamar mas, ya. mas kangen sama bibir kamu.
aku mengulum senyum sambil menahan detak jantungku yang semakin cepat. samar-samar bisa kurasakan bibir mas wowo menyapu lembut bibirku dengan mesra, penuh kenikmatan.
kulihat jam di tanganku. ah. masih satu jam lagi.”