laki-laki gapernah bener2 dapet konsekuensi setimpal atas tingkah lakunya and i will stand by it forever. not when they’re a cheater, nor a liar, nor an abuser, nor a harasser, not for their incompetence, nor their inconsistency, not when their lack of emotional maturity
tau gak sih kenapa LAKI-LAKI/SUAMI tuh banyak yg kyk PRINCES? bbrp ada yg mikir kalo udah ngasi NAFKAH= TANGGUNG JAWABnya udah beres. pdhl egk se-simple itu.
aku pernah denger podcast seorang pakar keluarga, dan nemu jawaban dr pertanyaan diatas.
karena KETIMPANGAN POLA ASUH orang tua. di mn anak perempuan dipersiapkan untuk "melayani" sementara anak laki-laki dipersiapkan untuk "dilayani" alias anak laki-laki sering kali tidak disiapkan untuk mjd suami yg terlibat secara emosional dan domestik
see? gmn budaya dan pola asuh orang tua membentuk ekspektasi yg egk seimbang sejak kecil, yg kemudian menjadi akar konflik atau penyesalan setelah pasangan tsb menikah.
Cowok di sebelah kiri itu tipikal yang hobi self-proclaim sebagai 'orang baik'. Padahal, standar baiknya cuma valid di kepalanya sendiri bukan apa yang beneran dibutuhin pasangannya.
Alih-alih tulus, aslinya malah pushover, obsesif kayak stalker, dan narsistik. Intinya: dia cuma nice guy delusif yang gak punya tampang buat menutup-nutupi red flags-nya
ask a woman why she hates men she'll tell you a horrifying story involving violence, abuse, and harassment. ask a man why he hates women he'll complain about feminists on tiktok, gold diggers, and a girl who once friend-zoned him and wouldn't date him