Guys Prabowo baru saja menolak pelebaran defisit APBN. Memilih efisiensi dan hemat BBM sebagai solusi.
Kedengarannya bijak. Kedengarannya bertanggung jawab. Kedengarannya seperti pemimpin yang peduli kondisi keuangan negara.
Tapi gw minta lo ingat beberapa hal sebelum tepuk tangan.
Program Makan Bergizi Gratis yang anggarannya triliunan perhari tetap jalan.
koperasi merah putih entah apalah itu.
Proyek proyek mercusuar yang anggarannya tidak kecil tetap jalan.
Efisiensi besar besaran yang memotong anggaran pendidikan, kesehatan, dan berbagai program yang langsung menyentuh rakyat kecil sudah jalan duluan.
Jadi yang diefisiensi bukan program yang dari awal kontroversial.
Yang diefisiensi adalah anggaran yang selama ini jadi jaring pengaman rakyat paling bawah.
Dan sekarang setelah APBN tertekan akibat kombinasi harga minyak meledak dan berbagai program besar yang tetap dipaksakan jalan Prabowo tampil sebagai pahlawan fiskal yang menolak pelebaran defisit.
Ini yang paling gw tidak habis pikir dari pola kebijakan yang berulang di negara ini.
Kebijakannya yang bikin APBN tertekan.
Programnya yang menguras anggaran. Prioritasnya yang tidak selalu sejalan dengan kebutuhan paling mendasar rakyat.
Tapi begitu situasinya memburuk dan ada keputusan sulit yang harus diambil narrativenya berputar jadi soal kehati hatian fiskal dan kepedulian pada rakyat.
Efisiensi itu bukan solusi kalau yang diefisiensi dari awal adalah pos yang salah.
Dan hemat BBM bukan jawaban struktural untuk masalah yang akarnya jauh lebih dalam dari sekadar konsumsi bahan bakar.
Yang paling pahit rakyat yang menanggung beban dari keputusan keputusan yang tidak mereka buat.
Dan pemimpin yang ambil kredit dari keputusan yang terlihat bijak di permukaan tapi konteksnya jauh lebih kompleks dari yang dinarasikan.
"335 TRILIUN buat makan siang itu setara dengan:
🎓 3,3 JUTA anak kuliah GRATIS sampai lulus S1 (kampus terkemuka yaa)
🏥 670 RUMAH SAKIT baru standar internasional (bisa bikin lapangan kerja baru)
🏫 167 RIBU sekolah rusak diperbaiki total.
👩🏫 Gaji 5,5 JUTA guru honorer jadi 5 JUTA/bulan (kesejahteraan guru meningkat).
Komitmen keseharian Jason Donovan Yusuf, 18, yang dilakukan sejak SMA, sejak memutuskan renang adalah jalan hidupnya:
Frekuensi dan Jenis Latihan
Total Sesi Air: Tujuh sesi per minggu.
Fisik: Latihan fisik (strength training) dilakukan secara terpisah.
Fokus Waktu: Latihan disesuaikan dengan jadwal sekolah, dilakukan sebelum dan sesudah jam pelajaran.
Jadwal Keseharian
Senin
Mulai jam 15.00 (setelah pulang sekolah)
Selasa
Pagi: Bangun pukul 04.00, latihan 04.30 selama 1 jam 15 menit. Pulang, sarapan, dan berangkat sekolah.
Sore: Latihan fisik ringan mandiri di rumah
Rabu
Pagi: Bangun pkl 04.00, latihan pkl 04.30 selama 1 jam 15 menit. Pulang, sarapan, dan berangkat sekolah.
Sore: Gym (strength training). Latihan full body workout (tangan, back, core, kaki) seminggu sekali untuk meningkatkan kekuatan otot.
Kamis
Sore: Latihan mulai jam 15.00, sama dengan Senin.
Jumat
Sore: Latihan sama dengan Senin dan Kamis.
Sabtu
Pagi: Latihan 2 jam, mulai pkl 07.30 sampai 09.30
Sore: Latihan fisik dan air. Latihan fisik 1 jam (mulai 15.00) dilanjutkan berenang lagi mulai pukul 16.30 sampai 17.30.
Minggu
Istirahat full di rumah. Tidak ada latihan.
Pola Istirahat Sbg Kunci Pemulihan
Jam Tidur: Maksimal tidur pkl 21.30 WIB.
Durasi: Minimal 6 sampai 8 jam per hari.
Bangun: Pagi pukul 04.00 (untuk jadwal latihan pagi).
Pola Makan
Sarapan Pertama: Oatmeal, dimakan setelah bangun atau setelah latihan pagi.
Sarapan Kedua: Makanan berat. Dimakan saat jam istirahat pertama di sekolah.
Snack Sore: Telur rebus dua butir sbg asupan protein sebelum latihan sore.
Setelah Latihan: Protein shake, selalu dikonsumsi segera setelah latihan selesai.
Malam: Makan malam plus buah (biasanya dua butir) dikonsumsi setelah makan malam.
Berat badan ideal: Dijaga pada bobot 65 kg sampai 70 kg.
Pada SEA Games 2025, Jason meraih 2 emas 50m backstroke dan 100m backstroke. Pada 100m backstroke, Jason memutus dominasi Quah Zheng Wen🇸🇬 yg terus meraih emas dlm satu dekade terakhir.
📸: NOC Indonesia
"Tumbang alami, bukan hasil pembalakan" - Kemhut
"Tidak ada bukti deforestasi" - TNI AD
"Aman terkendali, cuma ngeri di medsos" - BNPB
"Jaga hutan kita" - Kemenko Pangan
"Tidak usah takut deforestation" - Presiden
ACEH
Peta ini memperlihatkan bahwa banjir besar yang melumpuhkan Aceh terjadi di wilayah yang salah satu konsesi hutannya dimiliki langsung oleh Prabowo Subianto melalui PT Tusam Hutani Lestari, perusahaan HTI yang menguasai sekitar 97 ribu hektare hutan di Aceh Tengah, Bener Meriah, Bireuen, dan Aceh Utara.
Konsesi milik Prabowo ini berdiri berdampingan dengan puluhan izin tambang, HTI, HPH, dan kebun sawit berskala raksasa yang bersama‑sama menggerus tutupan hutan di pegunungan dan hulu sungai, merusak daerah tangkapan air, dan melemahkan kemampuan alam menahan limpasan hujan.
Banjir yang menerjang baru-baru ini datang ketika curah hujan ekstrem turun di kawasan yang sudah lama dikapling izin-izin tersebut, sehingga air hujan tidak lagi tertahan oleh hutan dan tanah yang sehat. Air mengalir deras membawa lumpur dan kayu ke pemukiman, menjadikan banjir bandang di Aceh sebagai salah satu yang terbesar dalam beberapa dekade terakhir, menenggelamkan ribuan rumah dan memaksa puluhan ribu warga mengungsi.
Wilayah yang disorot dengan garis ungu di peta—Pidie Jaya, Aceh Tengah, Aceh Utara, Aceh Tenggara, Aceh Selatan, Aceh Tamiang, Gayo Lues hingga Aceh Singkil—adalah kabupaten dengan banjir terparah yang resmi berstatus siaga darurat. Di banyak titik, penjelasan resmi memang menyebut luapan sungai setelah hujan lebat berhari‑hari, tetapi peta ini menambahkan lapisan fakta lain: hulu sungai yang sama sudah dibebani 30 izin tambang minerba seluas lebih dari 132 ribu hektare ditambah konsesi kayu dan HTI yang membentang hingga ke batas permukiman.
Salah satu contoh yang paling menonjol adalah kawasan Linge di Aceh Tengah, tempat PT Tusam Hutani Lestari menguasai hampir 100 ribu hektare hutan dan telah lama diprotes warga karena merampas ruang hidup mereka dan mengubah hutan adat menjadi kebun industri pinus.
Dengan demikian, bencana ini bukan hanya soal hujan dan alam, tetapi juga soal kepemilikan lahan raksasa oleh elit politik, termasuk presiden, yang ikut menentukan seberapa parah air bah menerjang kampung‑kampung di hilir.
Pidato @prabowo soal banjir Sumatera dan pentingnya pendidikan lingkungan tampak lebih mirip didengar sebagai kemunafikan politik yang menutupi akar persoalan. Di satu sisi, ia mengucapkan duka dan menyalahkan pemanasan global serta kerusakan lingkungan, lantas mengajak guru dan murid menjaga hutan dan sungai; di sisi lain, pemerintahannya justru memperkuat model ekonomi ekstraktif lewat percepatan hilirisasi tambang, perluasan proyek energi besar (PLTA, PLTP), dan konsolidasi oligarki sumber daya di hulu DAS yang jadi ruang hidup warga di Aceh, Sumut, dan Sumbar.
Banjir bandang sepekan terakhir, jelas sebagai bukti krisis tata kelola—bukan sekadar cuaca—dan justru lahir dari ledakan izin tambang, kebun, dan proyek energi di kawasan penyangga dan hulu sungai, sebuah jejak kebijakan yang tidak disentuh sama sekali dalam pidato manis Prabowo.
Dengan menggiring narasi ke ranah “kesadaran individu” dan kurikulum sekolah, Prabowo menggeser tanggung jawab dari negara ke guru dan murid, seolah nasib banjir Sumatera ditentukan oleh seberapa rajin anak sekolah menanam pohon, bukan oleh pemerintah yang membagi-bagikan izin dan karpet merah investasi di hulu.
Analisis JATAM (https://t.co/1wTGomO0zc) tentang banjir Sumatera justru memperlihatkan bahwa aktor utama perusak hutan, pengubah aliran sungai, dan penghancur kawasan resapan adalah kebijakan negara yang memanjakan korporasi tambang, kebun, dan energi—kebijakan yang di era Prabowo bukan dihentikan, melainkan dipacu atas nama kedaulatan energi dan pembangunan nasional.
Dalam konteks ini, seruan “melindungi hutan dan sungai” dari mulut presiden yang mengawal ekspansi ekstraksi bukan hanya kontradiktif, tapi menjadi bentuk cuci tangan politik di atas lumpur dan puing rumah warga yang terseret banjir.