Semua akun pejuang kayaknya bagus meneriakkan ini di setiap postingannya, setiap saat ingat. Semangat berjuang!
"Prabowo lebih terhormat mundur jika tak mampu adili Jokowi dan keluarganya"
#2029MusnahkanPartaiSetan#2029MusnahkanPartaiSetan
Jangankan ke 12.000, kalau ditanya ke Purbaya bisa ga ke 2.000 pasti jawabnya juga bisa..
Wong modalnya bacot dan jelaskan teori aja, Wong faktanya dia ngomong bisa 15.000 aja ga bisa2..
PURBACOT!!!
PESTA BABI di University of Sydney.
Film ini membongkar mitos bahwa Australia atau asing ingin Papua merdeka, agar mereka kuasai.
Sebaliknya, sepanjang sejarah, asing sudah cukup senang dengan peran Indonesia sebagai antek yang baik untuk mengeksploitasi Papua bersama mereka.
Udah ngasih makan belatung gratis eh bukannya minta maaf malah mengancam.
Oke, kita bantu mbaknya agar video Makan Belatung Gratis itu makin viral !!
-------------
Sarapan Pagii Filipina Morningg
Mereka gak peduli anak anak suka tau tidak.
Mereka gak mau tau makanannya enak apa tidak.
Mereka masa bodoh walaupun makanannya dibuang ketempat sampah.
Yg penting bagi mereka; proyek jalan terus,cuan mengalir deras.
Disparitas sangat jomplang.
𝗣𝗥𝗔𝗕𝗢𝗪𝗢:
Jargonnya: Efisiensi
Perilaku: Boros & flexing
Negara: Bokek
Sudah negara bokek, perilaku
tidak konsisten, boros, banyak
gaya, flexing pula!
𝗟𝗔𝗪𝗥𝗘𝗡𝗖𝗘 𝗪𝗢𝗡𝗚:
Jargonnya: Tegas & disiplin
Perilaku: Sederhana
Negara: Tajir
Prinsip meritokrasi, kejujuran,
kesederhanaan, visioner, dan
memegang teguh warisan nilai
Lee Kuan Yew: "Membangun manusia melalui pendidikan
dengan disiplin tinggi."
Sebagai rakyat, saya berharap sebaliknya, namun faktanya membagongkan!
Memang dasar:
𝗣𝗥𝗘𝗦𝗜𝗗𝗘𝗡 𝗞𝗔𝗞𝗘𝗔𝗡 𝗣𝗢𝗟𝗔𝗛
URGENT: TESSO NILO DALAM BAHAYA, TESSO NILO DALAM BAHAYA , TESO NILO DALAM BAHAYA🚨
JANJI PEMERINTAH UNTUK MENGEMBALIKAN TESSO NILO JADI KAWASAN HUTAN YANG RAMAH AKAN SATWA CUMA SEKEDAR OMON OMON.
PEMERINTAH PEMBOHONG
PEMERINTAH PENDUSTA
PEMERINTAH KALAH SAMA MAFIA
Meski Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) telah menyita kebun-kebun sawit di Taman Nasional Tesso Nilo sejak 10 Juni 2025, tandan buah segar (TBS) dari kawasan konservasi itu tak berhenti mengalir ke pabrik-pabrik di sekitarnya.
Investigasi Mongabay membuktikan: truk-truk pengangkut sawit ilegal tetap beroperasi, menembus koridor perusahaan bubur kayu, melewati batas provinsi, hingga CPO-nya tiba di kilang milik korporasi besar yang mengklaim komitmen nol deforestasi.
Di balik rantai pasok yang panjang itu, satu benang merah tampak jelas absennya sanksi terhadap pabrik penerima. Selama pembeli tak disentuh hukum, permintaan terhadap sawit ilegal akan terus ada.
Para pegiat lingkungan dan pakar hukum mengingatkan: Satgas PKH punya kewenangan dan regulasi yang cukup untuk menindak pabrik-pabrik itu, namun hingga kini pilihan itu belum diambil. Tesso Nilo pun terus menyusut.
Lagi2 guru honorer jadi korban...
Selama 16 tahun mengabdi di SDN 169 Sadar, Bone, Hervina menjalani peran yang sering dielu-elukan sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”. Tapi realitanya jauh dari slogan. Gaji rapelan Rp700 ribu untuk empat bulan, yang berarti sekitar Rp175 ribu per bulan. Bukan cuma angka, itu simbol betapa rendahnya prioritas terhadap pendidikan dasar dan para pengajarnya.
Ironinya, ketika ia membagikan momen sederhana, sekedar rasa syukur karena bisa melunasi utang warung, namun yang datang justru sanksi. Bukan evaluasi sistem, bukan empati, tapi pemecatan. Lebih menyakitkan lagi, keputusan itu disampaikan secara tidak profesional, hanya lewat pesan WhatsApp, bahkan bukan langsung dari kepala sekolah.
Di titik ini, publik marah. Dan kemarahan itu masuk akal. Karena yang diserang bukan pelanggaran berat, melainkan kejujuran tentang kondisi yang memang nyata: guru digaji tak layak.
Tekanan dari masyarakat, dukungan dari Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), hingga sorotan Komisi X DPR RI akhirnya memaksa Dinas Pendidikan Kabupaten Bone turun tangan. Mediasi dilakukan. Kepala sekolah diminta meminta maaf. Dan keputusan pemecatan itu pun dibatalkan.
Akhirnya memang “happy ending”. Tapi jangan buru-buru puas.
Karena pertanyaannya belum selesai, kenapa harus viral dulu baru adil? Kenapa harus menunggu tekanan publik untuk memperbaiki ketidakadilan yang sudah berlangsung bertahun-tahun?
Kasus Hervina membuka satu hal yang tak bisa ditutup lagi, masalah guru honorer bukan soal individu, tapi sistem yang membiarkan ketimpangan terus terjadi. Dan selama itu belum dibenahi, cerita serupa hanya tinggal menunggu waktu untuk terulang kembali.