Ketika Stasiun Glodok telah resmi beroperasi nanti, kami ingin memastikan bahwa identitas dan cerita yang telah lama hidup di kawasan ini tetap terasa di dalamnya.
Sebab Glodok tidak pernah hanya dikenal karena satu hal. Di satu sisi, kawasan ini tumbuh menjadi pusat perdagangan yang terus bergerak mengikuti zaman. Di sisi lain, Glodok memeluk jejak sejarah panjang sebagai kawasan Pecinan tertua di Jakarta.
Dua karakter yang telah hidup berdampingan selama bertahun-tahun itu kemudian diterjemahkan ke dalam aksen Stasiun Glodok; dualisme warna merah dan putih. Warna putih merepresentasikan wajah kawasan yang dinamis dan komersial, sementara warna merah menjadi penghormatan terhadap akar budaya Tionghoa yang telah membentuk identitas Glodok hingga hari ini.
Cerita tersebut tidak berhenti pada elemen visual semata. Melalui prinsip desain yang intuitif, warna putih akan mengarahkan pelanggan menuju sisi kawasan komersial, sedangkan warna merah membawa mereka lebih dekat pada kompleks Candra Naya sebagai salah satu jejak cultural heritage yang masih bertahan di tengah modernisasi kota.
Nantinya, cerita ini akan semakin lengkap dengan hadirnya instalasi menyerupai kain sutera yang membentang di dalam stasiun. Sebuah elemen yang mengikat perjalanan, ruang, dan identitas kawasan ke dalam satu pengalaman yang utuh.
Foto: Pembangunan konstruksi area concourse Stasiun Glodok.
#MRTJakarta
#UbahJakarta
Kortizol seviyen kelimenin tam anlamıyla zirveye vurmuş durumda ama senin bundan haberin bile yok.
Vücudunun alarm verdiğini gösteren şu işaret bunu net bir şekilde kanıtlıyor:
1- Göz kapaklarında kontrolsüzce yaşanan seğirmeler ++
Yang mengerikan di era AI ini adalah menyadari bahwa ide kita itu tidak spesial dan bisa direplikasi orang lain atau bahkan perusahaan AI sendiri dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Yang membedakan adalah relasi kita dan skill kita mengolah seperti coki sitohang.