Saya sih nggak terlalu kaget soal isu sensitif istana yang lagi beredar. Yang justru bikin saya kaget adalah fakta bahwa ternyata Komdigi bisa secanggih itu.
Bisa gerak cepat. Bisa responsif. Bisa menekan platform besar. Bisa bikin akses media sekelas YouTube/Google ikut kena tindakan (walaupun masih bisa diakses lewat VPN h3h3). Bisa bikin pernyataan resmi (padahal target subyek pembahasan di video bukan Komdigi, tapi Komdigi rela nyebokin).
Bahkan bisa sigap ambil langkah hukum dan bisa bypass aturan MK soal pedoman UU ITE yang nggak bisa digugat oleh badan/instansi.
Berarti kemampuan teknisnya ada.
Dan kalau kemampuan itu memang ada, harusnya ruang digital kita bisa jauh lebih bersih dari sekarang.
Harusnya iklan penipuan nggak semudah itu lewat. Harusnya nomor pribadi masyarakat nggak seenaknya dipakai SMS promosi.
Harusnya data kita nggak gampang bocor lalu dipakai buat nawarin pinjaman, j*dol, investasi bodong, sampai lowongan kerja palsu. Harusnya platform-platform digital yang merugikan masyarakat juga bisa ditindak dengan kecepatan yang sama.
Karena ternyata masalahnya bukan karena negara ini nggak punya alat. Alatnya ada. Jalurnya ada. Kapasitasnya ada.
Cuma selama ini kita terlalu sering melihat teknologi negara bekerja cepat ketika yang terganggu adalah kekuasaan, bukan ketika yang dirugikan adalah masyarakat.
Karena ternyata tombolnya memang ada.
Cuma rakyat sering kebagian tulisan:
“mohon menunggu”.
Tapi yaa kita sama-sama paham lah ya, kenapa isu-isu krusial yang lain terkesan sulit diberantas.
Sekelas warung remang-remang saja mesti "koordinasi" dulu biar bisnisnya tetap jalan.
Paham kan ya..
cc:cakraadinegara
KRL Green Line (Lin Rangkasbitung) mendapat gangguan kombo pada sore hari ini (4/5/2026) setelah hujan lebat.
✅ Listrik aliran atas di antara Stasiun Jurangmangu - Stasiun Pondok Ranji mati setelah tersambar petir.
✅ Banjir di Jurangmangu.
Gangguan seperti ini hampir selalu menerpa KRL Green Line dikala hujan ☹️
(📸 ayindrawahyus, renandaseptiana, satrio_adji)
Israel killed every single person in this photo in Lebanon.
Every. Single. One.
All journalists.
Targeted and assassinated intentionally.
For reporting the truth from the frontlines.
Temukan Cinetreak Cinelive C1 Live Streaming 4 Channel Video Mixer Switcher Monitor Portable Studio dengan potongan 6%! Hanya Rp8.169.000. Dapatkan segera di Shopee! https://t.co/PxlYhs4gQl #ShopeeID
Saya harus akui, jantung saya berdetak kencang, ingatan saya kembali menyergap tajam saat melihat berita bencana di Sumatera pekan ini.
Dulu, hampir dua dekade lalu, saya ada di sana. Bukan sebagai pengacara, melainkan penerbang sipil yang dipanggil negara, berdesakan di lambung pesawat tua. Ya, pesawat TNI AU uzur.
Kami terbang gila-gilaan, hampir tidak kenal pagi, siang, atau malam. Seringkali, kami sudah harus take off dari Halim sebelum subuh. Tujuannya: Banda Aceh.
Kami bawa Hercules C-130 yang sudah sepuh itu. Pesawat itu, Bapak-Ibu sekalian, adalah potret jujur bangsa ini: tua, berisik, kurang terawat, tapi untungnya sangat andal dan pekerja keras.
Di dalam perutnya yang gelap, kami duduk di jaring samping. Telinga berdengung raungan Allison T56.
Jika Anda mau tau, bau di dalam kabin itu adalah campuran unik: solar, minyak mesin yang bocor halus, keringat relawan yang tidak mandi tiga hari, dan aroma timpahan mi instan basi.
Intensitasnya? Luar biasa. Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) mendadak menjadi terminal paling sibuk di dunia. Ada Hercules TNI, ada C-17 Amerika, ada Ilyushin dari Rusia, semua berebut slot. Air Traffic Controller (ATC) kita seperti pesulap. Semua ingin cepat, semua jadi pahlawan tanpa berharap bintang.
Ironinya adalah pada sistem logistik kita.
Di satu sisi, kita punya Hercules TNI yang bertempur mati-matian, mengangkut puluhan ton barang. Di sisi lain, muncul pahlawan yang datang dari sektor yang paling tidak kita duga: Maskapai Sipil.
Ya, maskapai-maskapai besar seperti Lion Air dan Batavia Air ikut menyumbangkan free lift dari Jakarta. Mereka menggunakan pesawat komersial, kursi dilepas, diisi karung beras. Mereka bergerak karena kemanusiaan, mendahului banyak surat izin dan nota dinas yang mungkin masih diketik di kantor-kantor pusat.
Dan pahlawan sejati di udara adalah Susi Air. @susipudjiastuti Saat pesawat-pesawat besar TNI dan asing fokus ke Banda Aceh, Meulaboh dan Simeulue masih jadi titik buta. Landasan hancur, Susi dengan dua pesawat kecil Cessna Caravan-nya mengangkut obat-obatan dan susu bayi. Susi dan crew pilot asingnya terbang nekat, masuk ke landasan perintis. Mereka adalah antitesis dari birokrasi yang kaku. Contoh nyata bagaimana rule of law itu sejenak harus tunduk pada rule of need. Kebutuhan lebih dulu, baru administrasi.
Saya ingat, interaksi kami dengan crew Susi itu terasa sangat kontras. Di dekat Hercules yang penuh serdadu, mereka berdiri di samping Caravan kecil, mengenakan kaos, mengangkut sendiri kardus-kardus tanpa forklift mewah. Salah satu pilot asingnya pernah menyindir, "Saya pikir tugas saya hanya lobster, ternyata saya juga delivery harapan kemanusiaan." Tawa kami pecah. Tawa terdengar pahit tapi kejujurannya nyata hanya berharap pahala.
Saat ini, kita kembali menghadapi bencana di Sumatera. Apa yang berubah? Infrastruktur mungkin lebih baik. Teknologi komunikasi pasti lebih canggih. Namun, saya khawatir, jiwa gotong royong yang non-bureaucratic itu justru semakin menipis. yang jelas saya tidak dipanggil lagi menerbangkan pesawat, mungkin pilotnya sudah banyak. Mungkin juga karena memang tak ada landasan yang bisa didaratin fix wing. Mungkin juga kita makin terbiasa menunggu instruksi pusat, menunggu dana cair, menunggu SOP selesai dicetak.
Padahal, semangat yang dibutuhkan saat bencana adalah semangat Susi Air: bergerak cepat, tidak bertanya izin, dan langsung menuju titik yang paling terluka. Semangat yang harusnya diwarisi oleh setiap aparatur sipil dan militer.
Sudah saatnya kita belajar dari Hercules tua dan Cessna kecil.
Aset terbaik bangsa ini bukanlah pesawat baru atau regulasi yang tebal, melainkan keberanian mengambil risiko dan keikhlasan untuk bergerak tanpa menunggu tepuk tangan.
Jika tidak, setiap bencana hanya akan jadi pengulangan tragedi birokrasi yang mematikan.
#ethadisaputra #majalahforumkeadilan #tsunamiaceh #operasikemanusiaan #hercules #susiair #dahlaniskan #hukumdanlogistik #militersipil #bencanaindonesia
26 tahun lalu, ane cuma anak kuliahan yang pengen bikin tempat nongkrong online buat anak muda Indonesia 😢
Tempat buat ngobrol, becanda, curhat, debat, jual beli, sampai sekadar nyari temen di dunia maya yang waktu itu masih sepi banget...
Gak nyangka, dari sesuatu yang sederhana, KASKUS tumbuh jadi rumah jutaan cerita 🙏
Di sini agan dan sist ketemu sahabat, ketemu jodoh ❤️, ada yang belajar bisnis, ada yang dapet arah hidupnya cuma dari satu thread.
Dari warnet penuh asap rokok, sampai sekarang semua udah bisa lewat HP
Kadang kita masih suka buka post lama…
Liat username yang dulu tiap hari nongol, bercanda di Lounge, FJB, Regional, The Lounge…
Sekarang mungkin udah pada sibuk kerja, punya anak, atau bahkan ada yang udah gak ada lagi 😢
Tapi kenangannya tetep hidup.
KASKUS bukan cuma forum.
Dia saksi masa muda kita.
Tempat pertama kali kita belajar internet, belajar komunitas, belajar beda pendapat tanpa harus musuhan (ya meskipun kadang flame war dikit 😆🔥).
Buat semua agan dan sista yang pernah ngetik, ngepost, nyampah, nyundul, atau cuma jadi silent reader…
Ane ucapin terima kasih sebesar-besarnya 🙏
Selamat ulang tahun ke-26, KASKUS! 🎉
Dari tahun 1999 sampai sekarang — masih dan akan selalu jadi rumah online orang Indonesia 🇮🇩
Jauh sebelum Mark Wiens terkenal suka miring ke kanan tiap nyoba makanan--minggu ini, jujur, gw lagi kangen berat sama Pak Bondan.
Beliau selalu punya trik unik untuk ngenalin kuliner tanpa bikin kita merasa tertuntut setiap nemu tempat makan enak.
TWITTER PLEASE DO YOUR MAGIC! 😭
INFO ORANG HILANG
Teman-teman, mohon bantuannya untuk sebarkan info ini. Syauqy (16 th), adik temanku, sudah 4 hari blm pulang ke rumah. Terakhir terlihat: Senin, 29 April 2024, pagi saat berpamitan sekolah. Domisili: Depok. Sekolah: SMAN1 Depok.