Single men = kerja, hobi tetep jalan
Married man = kerja, hobi tetep jalan
Single woman = kerja + hobi jalan
Married woman = antara diminta resign/tetep kerja + ngurus anak + rumah + suami. Pulang kerja suami bisa nyantai, istri pulang kerja masak sm beres2 rumah.
sumpah kebetulan gue juga pernah, bahkan bisa dibilang lumayan sering dapet chat model begini. this is probably one of the most straightforward ones
"sayang banget lu suka kpop"
jujur... sampe sekarang gue pun masih bingung. sayang apanya? 😭
gue tuh bahkan termasuk orang yang jarang banget, bahkan hampir gak pernah, ngepost soal kpop di first account. orang orang yang tau gue kpopers juga paling yang ada di second account, itu pun kadang postnya cuma buat close friends
but even if i did spam kpop every single day... so what? it's literally my hobby. gue ngelakuinnya karena gue seneng, not because i'm trying to impress anyone atau cari validasi biar keliatan lebih "dateable"
terus soal "halu". i think almost every fandom has inside jokes kayak "ini pacar gue", "suami gue", "cewek gue". it's literally just part of fangirling/fanboying culture. masa iya dianggap beneran??? 😭
gue kalo bilang "omg jay suami gue" atau "ryul fix pacar gue", tapi ya gue juga sadar mereka gak kenal gue 😭 it's a joke??!?! sama kayak orang bercanda bilang "i'm gonna marry cristiano ronaldo" atau "zendaya is my wife" everyone knows it's not meant to be taken literally
yang bikin gue makin heran, gue bahkan punya temen yang baru aja diputusin sama pacarnya cuma gara gara dia nge repost postingan louis lngshot. meanwhile si cowok sendiri juga nge repost foto foto cewek lain yang dia suka
so... what's actually the problem here?
and this isn't even just about kpop. cewek yang suka bola juga sering dibilang "fans karbit", disuruh prove their knowledge biar dianggap valid, bahkan ada yang sampe dilecehin cuma karena punya hobi yang dianggap "bukan tempatnya"
i don't think the problem is kpop, football, or the hobby itself. the problem is how some people still see women's hobbies as something that somehow makes them "less worthy", atau sesuatu yang harus disembunyiin biar tetep dianggap layak buat disukain
if someone gets turned off just because i enjoy a hobby that harms absolutely no one, then maybe we're simply not compatible in the first place. and honestly that's not something i'd ever regret 😃
Bosenin banget.
Dua-duanya sama-sama punya kapasitas untuk memberi, merawat, dan bertumbuh. Kalo satu pihak cuma duduk manis sementara yang lain terus mengerahkan seluruh energinya, itu distribusi beban yang timpang.
the saddest part "sengaja masak lebih banyak & nahan laper karena pengen makan bareng kamu."
and the irony is, there's a lot of "saddest part" on her thoughts.
this is my biggest fear dibanding gak nikah. bayangin being alone in a situation you’re legally tied to dan akan ada potensi katastrofi klo lu pengen out. the worst kind of loneliness is being alone in someone’s company. belom lagi demonized klo lu broke down ntar *shudder*
kalo kamu lagi ngerasa tertinggal karena temen udah nikah, udah punya rumah, naik jabatan, dan kamu ngerasa stuck? sini baca dulu sebentar!
yg kamu liat di feed itu highlight reel.
- dibalik foto pernikahan yg bahagia, ga keliatan berapa kali mereka berantem sebelum itu.
- dibalik foto rumah baru, ga keliatan cicilan 30 tahun yg ngikutin.
- dibalik foto naik jabatan, ga keliatan anxiety tiap minggu yg menyertainya.
semua orang ngepost momen terbaiknya. gaada yg mau ngepost kekurangan mereka.
Apakah cinta bisa jadi modal untuk menikah? Unfortunately not, kata Ibu Anna Surti Ariani (Psikolog klinis anak & keluarga)
Yang dibutuhkan justru:
✅ Rasa percaya
✅ Kesiapan finansial
✅ Kemampuan mengomunikasikan perasaan
✅ Keterampilan menyelesaikan masalah
Apakah memilih untuk menyampaikan dengan marah-marah atau dengan pengertian🥰
Perlu dibicarakan pembagian tugas, rasa saling menolong, sensitif terhadap kebutuhan pasangan. Inilah skills yang ternyata bukan cinta tapi bisa membuat rumah tangga menjadi lebih baik.
Kayaknya kamu dan pasangan yang berencana menikah,cocok buat nonton podcast Nikita Willy yang epidose ini💍🤵♂️👰♀️
tmen gw (cowo) ngomong “kalo lu nge sg or ngepost tentang kpop mah yg ada cowo ilfeel jir males mo deketin”. gw jawab “LAH PEDULI APA GW JIR😹😹😹 bodoamat jir kalo dia ilfeel jg, gw jg kpopan buat diri sendiri?? pls idup ga melulu ttg cowo kali??”
makin kesini makin sadar kalo relationship itu bukan cuma soal bucin-bucinan cringe. we need a partner yang bisa diajak grow bareng, diajak deeptalk, tuker pikiran tanpa ego war, saling backup di good and bad days, bisa ngobrolin apa aja, dan tetep jadi home to come back to.
this is actually so sad… satu payung besar kayak kasus mantan suami yang ngasih set YSL ke coworkernya drpd istrinya sendiri…
it’s much more than just “cuma nobar kok” atau “cuma makeup set kok”
Hari ini aku ketemu sepasang orang tua sama dua anaknya di salah satu mall. Anak keduanya lagi tantrum, kayaknya minta dibeliin sesuatu. Tapi sama ibunya nggak dibolehin karena sebelumnya udah dibeliin yang lain.
Pas ibunya bilang, "Jangan dikasih ya, Yah. Sesuai perjanjian," bapaknya tanpa banyak omong langsung nasehatin anaknya, "Nggak boleh ya. Ayah sama Ibu udah bilang nggak. Adek kan udah janji cuma beli satu."
Eh anaknya malah tantrum makin parah sampai ke parkiran. Di lobby pun masih ngamuk, nggak mau naik mobil, sampai guling-guling di lantai.
Ada ibu lain yang sempat nyeletuk, "Udah Mbak, kasih aja," atau "Angkut aja ke mobil, Mbak."
Tapi ibunya tetap tenang. Dia minta ayah sama anak pertama masuk ke mobil dulu, terus sekali lagi bilang ke anaknya, "Ibu, Ayah, sama Kakak mau pulang. Urusan kami udah selesai. Kalau Adek masih mau di sini, ya silakan di sini."
Tangisannya malah makin kenceng. Ibu-ibu lain juga makin banyak yang ngasih komentar dan judgement.
Hebatnya, ibu itu tetap nggak goyah. Pas mobil udah maju ke depan lobby, beliau masuk ke mobil lalu nutup pintunya. Aku sampai kaget, "Lah, beneran ditinggal?"
Jujur aku kagum lihat orang tua yang bisa setegas itu tanpa teriak. Bukan cuma tegas ke anak, tapi juga ke orang lain yang berusaha ikut campur. Tetap sabar walaupun kelihatan udah nahan emosi, tapi nggak membentak. Anaknya dibiarin ngelewatin fase tantrumnya dulu, nggak langsung digendong atau dipaksa masuk mobil.
Bapaknya juga satu suara. Mereka kompak banget. Nggak bilang, "Kata Ibu," tapi, "Ayah dan Ibu bilang tidak." Jadi anaknya nggak bingung. Kalau lihat parenting kayak gini, aku jadi kagum sendiri. Belajar dari mana ya bisa setenang dan sekompak itu?
aku selalu ngasih kebebasan sih. lakuin hobi kamu, main sama temen temen kamu, mau me time oke, aku pasti kasih space buat pasanganku ngelakuin apapun yang bikin dia seneng. tapi consider akunya juga aja, luangin waktu buat qtime sama aku juga. simple sebenernya jir
Someone’s wrote this down beautifully, thank you in advance, i know it’s hard but you never push on me, and i really appreciate the way you do as an amazing mature person.