@_sillynotsilly@hanifproduktif Jd dia transwomen, trus jd trans lesbian yg suka cewe juga? Knp jd pusing bgt klo ujung2nya ttp suka cewe, balik lg ke fitrahnya dia dong
banyak laki-laki tidak hancur karena miskin, mereka hancur karena pulang pun tidak menemukan ketenangan.
di luar, dia dituntut jadi kuat.
di rumah, dia ditutut jangan pernah lemah.
harus berhasil.
harus tahan banting.
harus selalu punya jawaban.
harus selalu terlihat baik-baik saja.
padahal laki-laki juga manusia.
dia bisa lelah.
bisa takut.
bisa kehilangan arah.
dan kadang, diamnya bukan karena tidak peduli—
tapi karena terlalu penuh, bahkan untuk bercerita pun tidak tahu harus mulai dari mana.
laki-laki jarang bercerita,
bukan karena mereka tidak punya luka,
tapi karena dunia terlalu sering meminta
mereka sembuh
tanpa pernah memberi ruang untuk terluka.
dan sayangnya,
sering kali luka yang paling dalam bukan datang dari dunia luar,
tapi dari orang yang dianggapnya bisa memberikan ketenangan.
dicela karena penghasilannya,
dibandingkan dengan laki-laki lain.
direndahkan karena belum mampu memenuhi semua keinginan pasangannya.
sampai akhirnya dia mengerti,
tidak semua pulang itu menenangkan.
maka perempuan qana'ah menjadi mahal.
qana'ah itu bukan sekadar menerima, tapi juga tau batas antara syukur dan tuntutan berlebihan.
tidak semua laki-laki butuh perempuan yang paling cantik.
banyak yang hanya butuh satu orang yang berkata:
"aku tau hidupmu sedang berat,
tapi aku percaya kamu bisa lewatin ini semua,
kita hadapi sama-sama ya."
kalimat sederhana.
tapi bagi laki-laki, itu bisa menjadi alasan untuk bertahan lebih lama.
karena dihormati, dihargai, dipercaya, diyakinkan lebih menyentuh daripada dicintai.
perempuan yg qana'ah menjaga harkat dan martabat suaminya.
dia tidak membuka aibnya.
tidak meruntuhkan wibawanya termasuk di depan anak-anaknya.
tidak menjadikan kekurangan ekonomi sebagai senjata.
tidak membandingkan suaminya dengan laki-laki lain.
dia paham,
harga diri laki-laki sering kali berdiri di balik satu kalimat sederhana:
"aku percaya sama kamu"
dan dari kalimat itu,
laki-laki rela mati berjuang untuk keluarganya.
ingin jadi yang paling kuat.
paling bisa diandalkan.
paling berwibawa di mata istri dan anak-anaknya.
dari situlah qawwam tumbuh.
dan qawwam bukan cuma soal siapa yang mencari nafkah.
qawwam juga bukan prestasi tapi amanah yang Allah kasih.
Allah berfirman:
"ar-rijaalu qawwamuuna 'alan-nisaa.."
laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan, karena mereka memikul tanggung jawab dan menafkahkan hartanya.
tapi qawwam bukan berarti paling berkuasa.
qawwam itu melindungi.
memberi rasa aman.
menjadi tempat berteduh, bukan sumber luka.
dia berpikir sebelum berkata:
"kalau aku begini,
dia sakit hati gak ya?"
dia mengingat hal-hal kecil.
dia mendengar tanpa menghakimi.
dia membuat perempuan merasa:
aku dicintai.
aku berharga.
aku dipertimbangkan.
aku diutamakan.
aku tidak sendiri.
karena perempuan tidak selalu butuh laki-laki paling kaya, tapi laki-laki yang paling hadir.
hubungan bukan tentang siapa yang paling dominan, siapa yang paling berkuasa.
tapi tentang siapa yang paham cara menjaga.
perempuan dengan qana'ah.
laki-laki dengan qawwam.
dua-duanya bukan saling menyerang, tapi saling menenangkan.
karena cinta yang dewasa bukan tentang "kamu harus jadi seperti yang aku mau"
tapi
"aku ingin jadi tempat paling aman buat kamu pulang."
dan percayalah,
laki-laki yg merasa dihargai akan berjuang jauh lebih keras dibanding laki-laki yg hanya terus dituntut.
karena gak ada laki-laki yg takut berperang,
jika ia tahu ada rumah
yg layak untuk ia menangkan.
wallahu a'lam.
bener.
dagang untung? alhamdulillah. rezeki dari Allah.
dagang rugi? alhamdulillah. rezekinya utk bisnis dari situ memang cuma segitu. tinggal cari jalan rezeki yg lain.
pokonya selama masih ada umur, artinya rezeki kita masih ada. doa + usaha yg penting😹👏🏻
#tadabbur
Fyi...
Bahwa Al Qur'an tidak pernah mendefinisikan secara eksplisit apa arti dari 'bahagia' di dunia.
Minimal Al Qur'an hanya menggunakan diksi "sa'ida" untuk menggambarkan sebuah kebagiaan. Itu pun bahagia di akhirat bukan di dunia.
Seperti yang tertera pada ayat berikut:
يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ“
Di kala datang hari itu (Kiamat), tidak ada seorang pun yang berbicara melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang bahagia. (QS. Hud: 105)
Lantas, mengapa Al Qur'an tidak mendefinisikan arti sebuah kebahagiaan di dunia?
Mengutip tulisan dari Mark Manson dalam bukunya 'sebuah seni untuk bersikap bodo amat' bahwa kebahagiaan di dunia itu bersifat algoritmik, bisa diutak-atik, dirubah standarnya dan dicapai.
Bahagia itu tidak harus memiliki sebuah rumah besar di PIK 2 dengan kapalnya yang mewah, karena belum tentu orang yang memiliki itu bakal bahagia. Belum tentu juga orang yang setiap hari kerja dengan gaji di bawah UMR, masih ngontrak dan kemana-mana bawa motor astrea dilarang untuk bahagia.
Intinya tuh... Kalau hanya mengejar definisi 'bahagia' di dunia, maka kita tidak akan pernah mencapainya. Betul apa kata Rasul bahwa manusia itu tidak akan pernah merasa puas sampai mulutnya ditutup oleh tanah.
Trus bagaimana, bodo amat aja atas standar bahagia milik orang lain. Kejar bahagia versi kita sendiri. Tapi jangan sampai melupakan kebahagiaan hakiki di akhirat kelak.
Allah berkalam:
"مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً"
Allah beri "kehidupan yang baik/bahagia" di dunia bagi yang beriman dan beramal saleh. (QS. An-Nahl: 97)