Saya percaya, keadaan Indonesia akan berubah ketika kita ikut berubah.
Saya kurang tertarik pada politik. Namun politik selalu tertarik pada hidup saya. Ia menentukan harga semua, mutu sekolah, kualitas rumah sakit, bahkan udara yang kita hirup.
Politik adalah kebijakan. Pengambil kebijakannya adalah Politisi. Kebijakan lahir dari adu kepentingan Politisi.
Dan hampir semua politisi punya kepentingan yang sama: ingin dipilih kembali oleh kita.
Karena itu, wajah politik adalah cermin masyarakatnya.
Korupsi tumbuh dari budaya aji mumpung.
Mumpung punya jabatan, ambil bagian.
Mumpung ada kesempatan, cari keuntungan.
Mumpung kelompok sendiri berkuasa, kesalahan pun dibela.
Kita marah pada koruptor besar, tetapi sering memaklumi kecurangan kecil. Menyerobot antrean, menitip absen, menyuap agar urusan cepat, mengambil yang bukan hak, lalu menyebutnya “rezeki”.
Perubahan negeri ini mungkin bermula dari satu hal yang mulai hilang: rasa malu.
Malu berbuat curang.
Malu menyalahgunakan kuasa.
Malu menjual suara.
Malu membela kesalahan karena satu golongan.
Negeri ini akan berubah saat kita berhenti menunggu orang baik, lalu memilih menjadi salah satunya.
Sebab politik mengikuti budaya.
Dan budaya berubah ketika kita berubah.
Prabowo: "Silakan kalau mau cari negara lain."
Gue:
Lah, emang nih negara punya elu doang?
Ini negara gue juga. Gue lahir di sini, kerja di sini, bayar pajak di sini. Hidup gue kagak dibiayain sama elu.
Gaji pejabat negara juga dibayar dari APBN yang berasal dari pajak rakyat. Jadi jangan mentang-mentang lagi pegang jabatan, terus nyuruh rakyat cabut.
Ngkritik pemerintah bukan berarti kagak cinta Indonesia. Justru karena ini negara gue, gue punya hak buat ngomong kalau ada yang gue anggap salah.
Yang mesti dibenerin itu kebijakannya, bukan mulut rakyatnya.
Lulus S3 dari Australia dan jadi dosen dengan gaji pokok hanya 2,6 juta rupiah.
Para menteri rangkap jabatan.
TNI dobel job.
Polisi juga dobel job.
Tenaga pendidik terpinggirkan.
LUHUT: perencanaan program MBG kurang matang, ini kesalahan KITA SEMUA
Gunakan kata “KAMI” bukan “KITA”
Ini salah kalian, Prabowo Gibran dan pemerintahan, bukan salah rakyat, jadi gunakan kata “kami”
Pantes dikatain anak papa yg gagal ngikutin jejak ekonominya Sumitro.
Pantes dikatain ga lulus AKMIL bareng SBY karena masalah disiplin.
Pantes dikatain temperamental & volatile sama bokapnya karena suka meledak-ledak dan lempar-lempar barang.
Pantes dulu dilarang masuk AS bertahun-tahun gara-gara catatan HAM (East Timor, penculikan, dll).
Pantes dipecat dari Pangkostrad sama Habibie gara-gara minta jabatan Panglima ABRI, bawa pasukan ke istana, melanggar rantai komando dan nyulik aktivis.
Pantes dikatain skizo atau erratic sama orang-orang di lingkaran militer dulu, karena reputasinya yang unpredictable dan hot-tempered.
Pantes dikatain cuma didukung orang bodoh sama Budiman.
TERNYATA SE-MC SYNDROME DAN GA SEKOMPETEN ITU‼️‼️‼️
Sakit sakit ya Pak, semoga segala kesusahan/kesengsaraan banyak orang jadi tanggung jawabmu.
Dan semoga hukuman atas banyaknya kesengsaraan tidak hanya diberikan waktu di akhirat, tetapi juga saat dirimu masih di dunia.
Dari sekian banyak pidato, pidato kali ini bener bener nyesek
Rakyat yang bayar gaji kalian, dikritik malah dibales:
“EMANG GUE PIKIRIN” dan disambut tepuk tangan yang meriah