For those who love football. These are the best live streaming apps im 2026 !
CRICFy Tv
Score808
Sportzfy
Onstream
PLAYFy Tv
Rbtv77
Mazespin
808Score
StreamEast
SportsFeed24
Kooralive
Fútbol Libre
Vipleague
Buffstreams
TotalSportek
100SoccerStreams.
@Rika_Seneng Lah neg koyo aku loss lepas kunci pie mbak rik? 😭 pas wes kedaden kawit vc pas dieksekusi, jare ben onok sensasi deg-deg e.
American people called it "Keblacut". 🤣🤣
Selayaknya orang kebanyakan, saya sering merasa iba tiap kali melihat orang tua sepuh yang masih bekerja berjualan keliling menjajakan dagangannya, utamanya dagangan yang menurut perhitungan logika saya, bakal sangat susah lakunya. Hal itulah yang membuat saya sering membeli barang yang mereka jajakan kalau saya bertemu salah satu dari mereka.
Kalau pas di Indomaret, ada orang tua jualan makanan, maka tak butuh waktu lama bagi saya untuk membeli dagangannya. Perkara makanan itu nanti dimakan atau tidak, enak atau tidak, itu urusan nomor kesekian.
Kalau ada ibu-ibu tua menjajakan hiasan rumah atau kerajinan, asal harganya masuk akal, maka besar kemungkinan saya bakal membelinya. Walau saya sadar, hiasan tidak akan menambah estetika rumah saya secara signifikan.
Kebiasaan itu kadang melahirkan semacam kepuasaan batin tersendiri bagi saya. Semacam perasaan marem karena merasa ikut menjadi perantara rezeki bagi orang lain yang kemungkinan penghasilannya lebih seret ketimbang saya.
Namun, tentu saja ia kadang juga melahirkan pergulatan batin yang hebat.
Selalu ada kondisi di mana saya bingung untuk menentukan, mau beli atau tidak. Utamanya bila yang dijual adalah barang-barang yang berpotensi membuat saya susah untuk membawanya.
Saya pernah bertemu dengan seorang kakek dengan kondisi tubuh yang sangat bungkuk dan ringkih sedang berjalan menjajakan dagangannya. Kondisi yang sudah pasti langsung memancing iba saya sebagai lelaki berhati lembut (uhuk!) dan melankolis.
Sejujurnya ingin sekali saya membeli barang dagangan yang ia jual. Namun, saya harus berpikir dua kali, sebab barang yang ia jual adalah barang yang akan membuat saya repot untuk membawanya: tangga bambu.
Ia berjalan, gontai, pelan sekali, sedangkan saya naik motor. Ini dilematis. Saya mulai berpikir skenario apa yang bisa saya lakukan untuk membeli dagangan si kakek penjual tangga bambu itu, tapi juga tidak merepotkan saya untuk membawa tangganya.
Saking lamanya saya memikirkan berbagai skenario yang bisa saya ambil, tanpa sadar, motor saya sudah melaju jauh meninggalkan si kakek penjual tangga.
Semakin jauh jarak yang saya tempuh, semakin kecil pula niat saya untuk putar balik dan membeli tangganya.
Dan sialnya, itu kemudian melahirkan aneka pertanyaan asumtif yang mendadak muncul dan berputar-putar di kepala saya.
Apakah tangga bambu yang dijual si kakek bakal laku? Kalau bukan saya yang beli, lantas siapa? Apakah ia punya uang untuk membeli makanan hari ini jika tangga bambunya belum laku? Kalau saya harus putar balik untuk membeli tangga bambunya, tidakkah itu konyol? Dan berbagai pertanyaan-pertanyaan asumtif lainnya.
Beberapa pertemuan saya dengan pedagang tua memang tidak selalu berakhir dengan transaksi.
Terkadang, saya memutuskan untuk mengabaikan para pedagang itu dan berharap semoga ada orang lain yang membeli dagangannya. Tak jarang saya hanya bisa berlalu meninggalkan si pedagang sambil menggumamkan doa “Gusti paringi laris... Gusti paringi laris... Gusti paringi laris...”
Kelak, di Facebook, saya mendapati cerita menyedihkan, tentang seorang pedagang kerupuk yang menangis karena kerupuknya tidak laku, padahal saat itu, ia sedang sangat kelaparan dan sangat berharap agar kerupuknya laku dan uangnya bisa ia gunakan untuk sekadar membeli nasi putih yang bisa ia makan bersama kerupuk miliknya.
Cerita itu amat membekas dalam benak saya dan membuat saya untuk tidak terlalu banyak mikir kalau ada pedagang tua yang dengan tampang melas tampak susah payah menjajakan dagangannya.
Pada akhirnya, kebulatan tekad itulah yang membuat saya jadi sering membeli barang-barang yang mungkin saya tak terlalu membutuhkannya, namun saya merasa perlu untuk membelinya.
Dari sekian banyak barang itu, sapu tampaknya menjadi salah satu barang yang paling sering saya beli. Kadang sapu lidi, kadang sapu ijuk.
Kalau dihitung-hitung, mungkin sekarang sudah ada setidaknya belasan sapu yang terparkir di rumah saya. Dan jumlah itu kemungkinan akan terus bertambah.
Saya membeli sapu-sapu ini dari para pedagang sapu keliling yang kebetulan melintas di depan rumah saya. Tiap kali ada lelaki tua yang lewat sambil memanggul sapu-sapu dagangannya, dan kebetulan saya pas melihatnya, maka akan sangat susah bagi saya untuk tidak membeli dagangannya.
Mereka selalu mengingatkan saya pada bapak saya yang dulu berkeliling dari satu rumah ke rumah yang lain menjual cairan pembersih kaca.
Ada kebahagiaan besar yang saya rasakan tiap kali bapak pulang dengan tas yang amat ringan, sebab itu artinya cairan pembersih kaca yang bapak jual banyak yang laku.
Dan sebaliknya, ada kesedihan yang merayap tatkala tas itu dibawa pulang dengan bobot yang tak jauh berkurang, sebab itu artinya cairan pembersih yang ia edarkan hanya laku satu atau dua atau malah tidak laku sama sekali.
Maka, terhadap si penjual sapu keliling itu, saya kerap membayangkan bahwa ada anaknya yang sedang menunggunya di rumah seperti saya dulu menunggu bapak saya. Ia menunggu dengan dua kemungkinan: bahagia atau sedih. Semuanya tergantung dari hasil jualan sapunya.
Dalam bayangan seperti itulah, akal sehat saya sebagai seseorang yang sudah punya banyak sapu di rumah akan runtuh karena saya bakal tetap membeli sapu yang dijual si lelaki tua yang melintas di rumah saya itu.
Saya selalu berprasangka bahwa sapu yang ia jual belum banyak yang laku atau malah belum laku sama sekali, dengan cara itulah saya bisa sedikit memafkan dan menoleransi keruntuhan akal sehat saya.
Benar bahwa ini adalah perasaan iba, perasaan yang konon sangat tipis batasnya dengan kesombongan, sebab dengan perasaan iba itulah, saya jadi merasa lebih mampu dan lebih kaya ketimbang di penjual sapu. Namun, bodo amat dengan hal itu.
Yang saya tahu, saya akan membeli sapu itu semata agar lelaki penjual sapu itu bahagia dan kebahagiannya itu akan membuat anaknya di rumah ikut berbahagia.
Tepat ketika saya memutuskan untuk membeli sapu lelaki tua itu, terbitlah perasaan hangat dan puas di dalam dada saya.
Tentu saja perasaan hangat itu kadang tidak bertahan lama, sebab ada kalanya, yang terbit setelah itu justru perasaan menyesal, terutama setelah mengetahui kalau ternyata si penjual sapu mengantongi uang yang sangat banyak saat akan memberikan uang kembalian kepada saya.
“Jancuk, jebul sapune wis payu akeh, ngerti ngono aku ora perlu tuku,” batin saya.
Entah kenapa, saya jadi ingin mengibai diri saya sendiri. Sebab uang di kantong saya bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan uang yang ada di kantong si tukang sapu itu.
Saya merasakan semacam hal yang oleh Prie GS budayawan Semarang itu, ia deskripsikan dengan “Betapa repot dan menyusahkannya jika kita harus mengibai seluruh derita dan kemalangan yang ada di dunia.”
Ah, pusing. Apakah Anda pernah berada dalam situasi demikian? Semoga saja pernah. Saya tidak ingin merasakannya sendirian.
Kasus Menghilangnya Michael Rockefeller dalam Ekspedisi ke Papua
Pada awal 1960-an, Seorang bernama Michael Rockefeller menghilang di suatu tempat di lepas pantai Papua Nugini. Hilangnya dia, mengejutkan Amerika dan mendorong pencarian besar-besaran.
Bertahun-tahun kemudian, nasib sebenarnya dari sang pewaris kekayaan Standard Oil itu akhirnya terungkap—Dan seketika itu pula, kisahnya berubah menjadi sangat disturbing.