Pernah denger istilah "Peter Pan Syndrome"?
Ini bukan istilah medis atau diagnosis resmi ya — tapi sejak diciptain tahun 1983, istilah ini jadi salah satu "label psikologi pop" paling awet yang masih dipakai orang sampai sekarang.
MasyaAllah...
Terima kasih buat 437 manusia yg sudah mau berteman dengan aku hari ini. Tidak menyangka dari 10 mutual sekarang sudah hampir 500. Tidak tau lagi mau bilang apa untuk menggambarkan kebahagiaan aku hari ini. Pokoknya, terima kasih sebanyak-banyaknya.
Aku izin Istirahat untuk hari ini 🫶🏻
Bismillahirrahmanirrahim, hari pertama aku memulai. Ayok temenan sama aku!
Aku berteman sama siapa aja, kpop/nonkpop cenblue/noncenblue. Akun aku ini kedepannya akan suka bahas hal-hal random yg aku dapat dari membaca artikel/blog/essay, aku juga suka bola, musik dan art!
#mutualan #moots #cenblue
Something never changes.
Dulu, Spanyol selalu datang ke Piala Dunia dengan skuad bertabur bintang. Mereka punya pemain sekaliber Raúl González, tapi gelar juara dunia tak kunjung datang.
Lalu datang musim 2008/09.
Barcelona menjuarai Liga Champions untuk ketiga kalinya. Bukan sekadar mengangkat trofi, tapi juga memperkenalkan sebuah generasi dan filosofi baru yang kemudian dikenal dunia sebagai tiki-taka.
Setahun berselang, Piala Dunia 2010 digelar di Afrika Selatan—edisi pertama yang berlangsung di benua Afrika.
Saat itu, Spanyol membawa delapan pemain Barcelona: Víctor Valdés, Pedro, Sergio Busquets, Carles Puyol, Gerard Piqué, Xavi Hernández, David Villa, dan Andrés Iniesta.
Generasi inilah yang akhirnya mempersembahkan gelar Piala Dunia pertama dalam sejarah Spanyol.
Fast forward 16 tahun kemudian.
Setelah menunggu empat edisi Piala Dunia, Spanyol kembali mencapai final. Menariknya, mereka lagi-lagi datang dengan delapan pemain Barcelona di skuad: Pau Cubarsí, Eric García, Dani Olmo, Gavi, Joan García, Ferran Torres, Pedri, dan Lamine Yamal.
Orang bijak pernah berkata, history tends to repeat itself.
Kalau melihat pola ini, sulit untuk menganggapnya sekadar kebetulan.
Saat Barcelona melahirkan generasi emas, Spanyol ikut mencapai puncaknya. Dan ketika Barcelona kembali dipenuhi talenta luar biasa, Spanyol kembali berdiri di ambang sejarah.
Mungkin memang ada satu pola yang tak pernah berubah:
Saat Barcelona bangkit, Spanyol ikut berjaya.