Baru paham kenapa UI milih demo di Bundaran HI
Karena "AKSES INTERNET" mudah dan bisa kejangkau, bayangkan kalo internet di Bundaran HI dibuat down/dilumpuhkan seperti di depan gedung DPR-MPR, maka dampak INSTAN domino pd sektor sektor vital di HI membuat pusat ibu kota mengalami kerugian ekonomi dan risiko politik yang besar.
GEOPOLITIK nya jauh melebihi kalkulasi pengamanan biasa. Memicu ketegangan internasional dan tuduhan pelanggaran KONVENSI WINA tentang Hubungan Diplomatik antar negara.
Karena selama ini demo di depan gedung DPR gampang di blok dan rawan kena taktik divide et impera (mudah di adu domba).
Objek vital di HI bukan sembarangan. perputaran ekonomi nya sungguh luar biasa.
#demo
Lah.. Emang ada to parte amanat rakyat ?☺
Btw pantes aja umkm kita banyak yg sekarat. Udah modal ngutang, daya beli turun, bukannya dibina malah dibinasakan. 😊
SUKA BGT SAMA GAYA BICARA IBUNYA, KAYAK NETIZEN YG LAGI CURHAT
beberapa point yg disampaikan ibunya:
𖥔 ga percaya RUU perampasan aset kalau ga ada hukuman mati. nanti bisa diboong-boongin asetnya
𖥔 pengedar narkoba bisa dihukum mati, kok koruptor ga dihukum mati?
𖥔 ga percaya DPR
𖥔 koruptor bikin rakyat Indonesia sengsara. hukum mati para koruptor kalau pingin lihat rakyat sejahtera
𖥔 kalau hukum mati gamau disahkan, gimana kalau koruptor digebukin aja sama seluruh rakyat Indonesia?
𖥔 marahin wakil rakyat yg enak-enak ngadem di ruangan ber AC tapi rakyat di luar sana sengsara
Berbagai lapisan masyarakat dan sejumlah elemen mahasiswa dari sejumlah universitas masih menggelar demonstrasi di depan gedung DPR, Jakarta, Kamis (27/08) sore.
Massa tak hanya menuntut pengesahan RUU Perampasan Aset. Kritik terhadap MBG, KDMP, hingga penanganan bencana gempabumi di NTT dan karhutla di sejumlah wilayah Indonesia. https://t.co/1GzRX3JzhY
Bukan diblokir, tapi penundaan transaksi.
Bukan mati lampu, tapi penundaan arus listrik.
Bukan diculik, tapi penundaan kebebasan.
Ok, sekarang gua paham cara mainnya.
Kalau nggak setuju sama Fathimah, attack the argument, not the person.
Syiah, hijab, pansos, etika, sampai ramalan dia bakal jadi politisi seperti apa itu semua personal attack, bukan debat substansi.
Kalau delapan tuntutannya salah, bantah dengan data.
Kalau argumennya lemah, counter dengan logic.
Simple.
Democracy needs debate, not character assassination.
Jangan karena kehabisan argumen, akhirnya yang diserang justru orangnya. Aneh....