Bayangin dia ngorok gegoleran semalem sewa kamarnya 200 juta. Sementara itu, kemarin banyak anak Indonesia udah nangis terharu keterima SNBT, lalu ibunya malah bingung "nanti bayarnya gimana?"
hotel 200 juta per malam at the heart of paris while kemarin banyak anak-anak yang gagal daftar utbk karena “sekedar” 200 ribu aja mereka ga punya… oh i hope you suffer in hell
Dulu punya temen yang nggak tahu caranya nonton bioskop. Dia beneran nggak tahu. Cuma karena pengen impress pasangannya, dia beranikan tanya ke kita, temennya. Awalnya dikira becanda karena agak kurang percaya, tapi setelah dia jelasin dia genuinely nggak tahu caranya -- -
BTW, asal muasal Burning Sun itu kan krn isi chat grup kakaotalk yg ke leak.
Apa mrk awalnya grup Kakaotalk tongkrongan jg kah yg akhirnya berevolusi jadi “mengerikan”?
tandain mukanya, plat mobilnya, alamaf rumahnya.
dengan kalimat dia “diam berarti consent” kalo menurut piramida pemerkosaan, ni orang potensial jadi rapist.
jangan kasih ruang, even dia udah ngaku tobat sekalipun.
ada kasus grup KS di ITB yang lebih parah dari grup KS di UI yang viral sekarang,
ampe bikin bokep AI temen-temennya buat dilecehin, tapi kasusnya ga semeledak UI
Setidaknya ngomong baik-baik sama rakyat dan tanggung jawab gitu loh....
Arogan banget ..
🤦
TRUK TNI TABRAK MOBIL SEORANG WANITA Viral di media sosial truk TNI disebut hendak kabur usai menabrak mobil. Tampak di video tersebut, seorang perempuan terlihat tengah memarahi sopir truk TNI tersebut. Terkait heboh itu, pihak TNI memberikan penjelasan. Brigadir Jenderal TNI Wahyu Yudhayana membantah dan mengklarifikasi narasi dalam video tersebut. Dia menyebut, kejadian itu terjadi di Sukamakmur, Bogor,
Aku mau lapor diri di KBRI Dili, antre lama di konsuler. Pas sampe giliranku, aku disuruh pulang dulu karena ada 1 dokumen belum difotokopi. Padahal di belakangnya ada mesin fotokopi.
Aku bilang, “Bu, itu ada mesin fotokopi.” Dijawab, “Oh ga bisa, itu buat urusan kantor.” 😂
Guys, ada kasus yang menurut gue harus lebih banyak disorot dan ini bukan kasus kecil.
Rp28 miliar dana umat dikumpulkan selama 40 tahun raib.
Pelakunya mantan kepala cabang bank BUMN sendiri.
Kasusnya:
Paroki Aek Nabara di Sumatera Utara menjadi korban penggelapan dana sebesar Rp28 miliar oleh mantan kepala cabang BNI bernama Andi Hakim Febriansyah.
Uang itu bukan uang biasa.
Itu dana yang dikumpulkan umat selama 40 tahun untuk pembangunan gereja, kebutuhan kesehatan, dan pendidikan jemaat.
Empat dekade tabungan kolektif.
Habis dalam satu pengkhianatan.
Yang paling mengkhawatirkan bukan hanya penggelapannya:
Bendahara gereja menyampaikan sesuatu yang menurut gue adalah inti dari seluruh masalah ini:
Deposito berjangka yang resmi bisa dicairkan tanpa tanda tangan saya, tanpa kehadiran saya, tanpa berhadapan dengan teller.
Lalu di mana pengawasan BNI?
Ini bukan pertanyaan retorika.
Ini pertanyaan teknis yang serius.
Dalam sistem perbankan yang sehat pencairan deposito berjangka membutuhkan verifikasi ketat.
Ada prosedur.
Ada tanda tangan.
Ada konfirmasi kehadiran.
Kalau semua itu bisa dilewati oleh seorang kepala cabang itu bukan hanya soal oknum.
Itu soal lubang sistemik dalam pengawasan internal bank.
Dan respons bank yang dikritisi:
Paroki Aek Nabara menyatakan BNI kurang kooperatif dalam menangani kasus ini.
Pihak gereja bahkan harus datang ke bank dan meminta pertanggungjawaban secara langsung setelah kasus ini sudah jelas melibatkan pegawai bank yang datang atas nama BNI, bukan atas nama pribadi.
AHF adalah wajah BNI bukan AHF sebagai pribadi. Karena itulah kami percaya.
Dan ini adalah poin hukum yang sangat kuat. Ketika seseorang datang dalam kapasitas jabatannya sebagai kepala cabang bank BUMN kepercayaan yang diberikan bukan kepada individu itu. Kepercayaan diberikan kepada institusi yang dia wakili.
Kalau institusinya kemudian cuci tangan dengan mengatakan itu oknum itu adalah respons yang tidak adil dan tidak bertanggung jawab.
Ini bukan pertama kalinya:
Kasus penggelapan oleh oknum pegawai bank BUMN bukan fenomena baru di Indonesia.
Dan polanya hampir selalu sama: pelaku adalah orang dalam yang dipercaya, korban adalah nasabah yang percaya pada nama besar institusinya, dan respons institusi hampir selalu lambat dan defensif.
Yang berbeda dari kasus ini adalah skalanya Rp28 miliar dari komunitas yang mengumpulkan uang selama 40 tahun dan korbannya adalah umat yang mempercayakan tabungan hidup mereka kepada bank negara.
Yang perlu dituntut secara konkret:
Satu BNI harus menjelaskan secara transparan bagaimana deposito berjangka bisa dicairkan tanpa prosedur verifikasi yang seharusnya berjalan.
Dua Kalau ada lubang sistemik dalam pengawasan internal itu bukan hanya tanggung jawab pelaku. Itu tanggung jawab manajemen dan sistem audit internal bank.
Tiga Korban berhak mendapat kompensasi dari institusi bukan hanya menunggu proses pidana terhadap individu pelaku yang mungkin butuh bertahun-tahun.
Empat OJK sebagai regulator perbankan perlu memberikan penjelasan publik apakah ada kelalaian pengawasan dari sisi regulasi.
Kalau bank BUMN tidak bisa bertanggung jawab atas tindakan pegawainya yang beroperasi atas nama bank lalu untuk apa ada bank negara?
TW / Gang rape (pemerkosaan berkelompok) 🤬🤬
Pelaku: 2 polisi, 2 sipil
Penonton: 3 polisi
Korban: 1 perempuan 18 tahun
MASUK AKAL GA, PAK @ListyoSigitP@DivHumas_Polri KALAU ANAK BUAHNYA CUMA DIHUKUM ETIK? DI MANA HATI NURANI? DI MANA HUKUM YANG ADIL?
APA GA TERBAYANG BETAPA TAKUTNYA KORBAN REMAJA DIKEROYOK POLISI DEWASA SEPERTI ITU?
PARA PEMERKOSA APA SUDAH DIHUKUM BERAT, SELAIN DIPECAT? PENONTON PEMERKOSAAN JUGA PELAKU KARENA MEMBIARKAN. APALAGI MEREKA SEMUA PENEGAK HUKUM YANG HARUSNYA MELINDUNGI, BUKAN MALAH JADI PELAKU KEJAHATAN BIADAB.
ASTAGHFIRULLAHALADZIM 😭😭
Tolong @kpp_pa@KomnasPerempuan kawal kasus biadab ini.