Baca selengkapnya: https://t.co/3uNeJmhEhr
Fenomena bediding mulai terasa di sejumlah wilayah saat musim kemarau 2026, ditandai udara lebih dingin pada malam hingga pagi hari. Berdasarkan pantauan BMKG, suhu terendah tercatat di AWS Bromo, Kabupaten Probolinggo, mencapai 5,1 derajat Celsius.
~RK #bediding #jawa
The Dead Sea's water level has been receding since the 1960s at an average rate of more than one meter a year. According to the Israeli state comptroller's report, the government missed a 2020 deadline to tackle the issue https://t.co/ZtSXJB2LoQ
Aduhai, jadi kangen Ben Anderson. Di majalah Tempo, Ben pernah menuliskan beberapa usulannya tentang pembebasan bahasa Indonesia yang menurutnya oleh Orde Babe dijadikan bersipat dusta en pura2 lewat edjaan jang bikin bodo.
Baca deh: https://t.co/stQJhqX6LH
Di daftar yang penuh gelar dan pangkat ini, terselip satu nama pendek: Hangabei – anak lelaki tertua Paku Buwono X yang kelak bertakhta sebagai Paku Buwono XI.
Potret Hangabei dalam busana militer bertanggal 18/11 1918. Nampak tanda tangannya dalam aksara Jawa: ꦲꦔꦨꦺꦲꦶ 👇🏼
Seorang perempuan dan 2 ekor anjing, Ricky dan Tommy, di Jawa, 1920.
Rasanya campur aduk setiap menemukan potret sebegini. Hewan-hewan peliharaan tak jarang diabadikan namanya, sementara tak terhitung manusia-manusia pribumi sawo matang yang tak pernah tercatat namanya. 😢
Kita bisa tahu misal, 100-an tahun lalu hidup seekor kucing rumah yang dinamai Maskwa. Namun, dari masa yang sama, bocah lelaki dari Jogja ini hanya kita ketahui sebagai "djongos", merujuk pada pekerjaannya.
https://t.co/fIekC76RaH
Beberapa potret serupa dari arsip kolonial. Nama hewan peliharaan dicatat, sementara pekerjanya dibiarkan tanpa nama.
Urut dari awal:
Nero anjing pemburu di Sawahlunto
Soelami anjing keluarga Kunst di Salatiga
Dicky anjing VR van Romondt di Jogja
3 pekerja di rumah van Romont
Bonus — Sementara potret pekerja rumah tangga dalam album kolonial kerap tanpa nama, sebagian ada yang mencatat nama mereka.
Misal:
⬅️ Poso, Darijat, Gangsar dan anjing Kobus di Panunggalan, 1918
➡️ Sastro, Baboe [sayang, namanya tak ditulis], Li dan anjing Kazan di Betawi, 1936
Sementara diskriminasi kelas dan ras sangat mewarnai kolonialisme Belanda, seberapa faktual rambu "terlarang untuk pribumi dan anjing"?
Artefak fisik/fotonya tidak ada. Klaim terawal tentang larangan tsb muncul dalam orasi politik nona Poetiray di Drachten, Belanda, 13 Okt 1946.
Apalagi, larangan rasis pada "bangsa tertentu dan anjing" bukan berita baru. Jadi orang akan lebih mudah simpati.
Misal saja "anjing dan...":
• "Tionghoa" di Shanghai, 1927
• "Yahudi" di Leipzig, 1935
• "Orang Polandia" di Gdansk, 1939
• "Negro dan orang Meksiko" di Dallas:
Karena mentwit ini, jadi ingat pernah mengumpulkan nama-nama hewan yang dipakai untuk menyebut Belanda dan kaki tangannya sejak 1920-an — kerapnya ditujukan pada polisi, pegawai negeri dan tentara kolonial:
Boeaja darat
Andjing
Tjoro
Tjetjoengoek
Babi
Monjet
Bangsat
Badjingan