Aku tidak sedang menulis agar terlihat pintar,
Aku tidak sedang bersajak agar terlihat puitis.
Aku hanya terlalu sadar.
Dan kesadaran itu sering kali tidak manis.
"kau sebut aku beriman, kau pendosa, kau lupa, kau pengemis surga."
kau sebut nama Tuhan
saat kau takut
kau ulang nama-Nya
saat dunia mengambil milikmu
kau hafal doa
saat hatimu kosong
tapi saat hatimu penuh
kau lupa-
sama-sama duduk di sampingnya,
dengan sama juga ia menadah.
dengan menadah, ia menaruh.
menaruh harapan untuk sesuap nasi.
untuk dunia yang kian buta,
dengan manusia yang kian sirna.
bersama manusia yang hendak memberi, bersamanya juga hinaan dengan tawa diberi.
ia melihatnya: tangan yang menadah,
bukan untuk berdoa,
tapi untuk sesuap nasi.
anak pemakan doa tersentuh-
hatinya sakit,
tangannya ingin memberi,
tapi ia pun sama.
kau sebut nama Tuhan
saat kau takut
kau ulang nama-Nya
saat dunia mengambil milikmu
kau hafal doa
saat hatimu kosong
tapi saat hatimu penuh
kau lupa
bukan lupa karena sibuk
tapi karena merasa cukup
lalu saat cukup itu pergi
kau kembali
bukan sebagai hamba
tapi sebagai pengemis
Tak semua doa lahir dari harap.
Ada yang ditulis dengan dendam,
disisipkan di balik kitab-kitab rusak
yang dibakar saat pagi belum sempat berdoa.
Ia membaca mantra yang dilarang,
bukan untuk kekuatan,
tapi untuk bertahan.