Titik dua (:) mengantarkan perincian. Titik koma (;) memisahkan bagian kalimat yang setara.
Titik dua bisa diganti dengan “yaitu”.
- Saya aktif di tiga medsos: X, Instagram, dan LinkedIn.
- Saya aktif di tiga medsos, yaitu X, Instagram, dan LinkedIn.
Titik koma bisa diganti dengan konjungsi.
- Saya aktif di tiga medsos; dia aktif di semua medsos.
- Saya aktif di tiga medsos, sedangkan dia aktif di semua medsos.
beneran kangen sama film-film tentang alien yang gak full gaspol gembar gemborin bentukan aliennya kaya gimana
semoga Disclosure Day-nya Stephen Spielberg ini bisa sedikit ngobatin rasa itu lagi ⭐
🚨 Michael Carrick’s new deal at Man United will be valid until June 2028 plus option until June 2029.
He’s staying and signing new contract at the club. Confirmed. 🔐
@avantegold@thanksfortodayy@SAIBdelvi@ikhwanuddin Kynya mengkoneksikan antara isra miraj dan teori relativitas terlalu bersifat spekulatif. Kalau kejadian isra miraj mau dikaitkan ke fisika, akan banyak hal yang dipertanyain selain perbedaan waktu ini
Adik-adik, kakak-kakak semuanya. Kali ini gw mau bicara tentang sesuatu yang sudah menyiksa rakyat Indonesia selama bertahun-tahun. Bukan korupsi. Bukan inflasi. Tapi sesuatu yang lo rasain setiap kali mau mudik atau liburan dan buka aplikasi Traveloka, lalu langsung menutup aplikasinya lagi karena tidak sanggup melihat angkanya.
Yes. Tiket pesawat domestik Indonesia. Yang harganya bisa lebih mahal dari tiket ke luar negeri. Yang bikin relawan bencana harus muter lewat Malaysia dulu baru bisa ke Aceh. Yang udah dikeluhkan jutaan orang tapi tidak pernah beneran berubah.
Gw udah baca risetnya. Gw udah cek datanya. Dan sekarang gw mau cerita ke lo semua, pelan-pelan, dengan bahasa yang bisa dimengerti semua orang, kenapa ini terjadi dan siapa yang sebetulnya diuntungkan dari penderitaan kita bersama. 🧵
“Jelek banget endingnya,” saya sempet baca ada yang comment gitu tentang film Tunggu Aku Sukses Nanti.
Penilaian itu kayaknya karena yang comment berharap Arga (@ArditErwandha) akhirnya bisa memenangkan kompetisi sukses antar keluarga. Bisa lebih sukses, lebih kaya, bisa ngebeli omongan orang yang nyakitin hati. Heroik ya.
Tapi kenyataannya endingnya nggak gitu. Saya justru suka banget sama endingnya.
Menjelang akhir, ada momen yang membuat Arga seolah dituntun melihat lebih dalam apa yang sebelumnya hanya tampak di permukaan, hingga dia bisa melampaui kata-kata yang sebelumnya dirasa menyakiti hati.
Dalam kompetisi, banyak yang mikirnya cuma ada 2 kategori, yaitu kalah atau menang.
Padahal ada kategori 3. Apalagi ini kompetisi sukses antar keluarga.
Kategori 3?
Iya. Kategori 3 adalah kita dengan sadar memilih keluar dari kompetisi, berhenti berkompetisi. Hop, wis cukup.
Hanya dengan begitu barulah kita bisa sesungguh-sungguhnya menang.
Terharu saya pas nonton film Senin Harga Naik 🥺
Saya ngliatnya dari sisi… Konflik orang tua dan anak.
Orang tua, menua itu sebuah persoalan sulit yang nggak mudah diterima hampir semua manusia.
Padahal menua itu sebuah keniscayaan, nggak bisa dihindari. Sulit, karena menua itu nggak cuma soal rambut beruban, kulit keriput, tenaga nggak sekuat waktu muda.
Tapi juga soal yang sangat ditakuti manusia, yaitu menua itu berarti pelan-pelan kehilangan peran.
Selama puluhan tahun, orang tua melekat pada peran: “Aku, peranku adalah orang tuanya anak-anakku.” Yang dibutuhkan. Yang dicari. Yang dimintain solusi.
Lalu waktu tentu nggak mau tau, anak bertumbuh dewasa, anak juga menua.
Anak mulai punya keputusan sendiri. Punya cara pikir sendiri. Punya hidup sendiri.
Di sisi anak, ini proses menjadi dewasa.
Di sisi orang tua, ini bisa terasa seperti kehilangan. Ini sangat nggak mudah, sangat menakutkan.
Dalam teori Psikologi perkembangan Erik Erikson, ada fase yang disebut integrity vs despair.
Di usia lanjut, orang tua bergulat dengan satu pertanyaan yang dalem:
“Apakah hidupku bermakna?”
Ketika orang tua perannya berkurang, bisa ngaruh ke mental.
Apalagi kalo satu-satunya peran yang dipunyai tinggal “Peranku adalah orang tuanya anak-anakku.”
Kalo peran itu hilang, rasanya kayak diri juga hilang, bisa-bisa muncul: “Buat apa lagi aku hidup?”
Konflik orang tua-anak di usia dewasa seringnya nggak cuma soal yang jelas keliatan, nggak karena nggak saling mencintai.
Tapi juga tentang orang tua dan anak yang sama-sama baru bergulat dengan tahap perkembangan psikologisnya sendiri.
Ditambah lagi, di teori psikologi sosial, role theory, peran kita itu banyak dibentuk dari relasi.
Ketika relasi orang tua-anak berubah, maka peran berubah, rasanya nggak nyaman.
Anak tidak sadar orang tuanya bertambah tua. Orang tua tidak sadar anaknya sudah dewasa.
Anak baru belajar mandiri. Orang tua baru belajar melepaskan. Dan melepaskan itu menakutkan.
Di fase gini, udah nggak lagi saatnya menang-menangan argumen, “Aku yang bener”.
Tapi anak perlu menyadari bahwa di balik kontrol, di balik sikap keras orang tua, sering kali tersembunyi ketakutan: Takut tidak lagi dibutuhkan, takut nggak lagi punya peran.
Orang tua mati-matian bersusah payah biar tetap relate sama anaknya.
Dan orang tua perlu menyadari di balik
perlawanan anak, ada kebutuhan anak buat diakui sebagai manusia yang udah dewasa punya hidup sendiri.
Jadi orang tua nggak mudah, jadi anak juga
nggak mudah.
Sekeras apapun manusia menyiasati waktu, tetap aja akan diseret-seret waktu, mesti rela tunduk pada waktu dan menerima tua beserta segala dinamikanya.
@afrkml Allah menciptakan manusia untuk menjadikan Khalifah di bumi. Kalau ada makhluk cerdas di belahan galaksi lain, bukanya malah jadi kontradiksi? Kalau memang ada makhluk hidup lainnya di luar sana, bukankan lebih gampang untuk tuhan segala alam menyampaikan melalui wahyunya?
Kita bahas 2 sisi: sisi kamu yang ditanya dan sisi orang yang nanya. Ini sisi kamu dulu.
Pertanyaan seperti: “Kapan nikah?” “Kapan punya anak?” “Kapan punya rumah?” dan semacamnya itu sebenarnya masalahnya bukan hanya di pertanyaannya. Yang lebih bikin kamu nggak nyaman adalah reaksi batinmu yang muncul setelah mendengarnya.
Maksudnya gimana?
Kamu perlu menyadari, yang nggak nyaman, yang terusik itu egomu. “Keakuan” yang melekat (attach) pada label identitas diri, merasa terancam.
“Aku” merasa kalah dibandingkan dengan standar sosial yang seolah harus dicapai: “Umur sekian harus udah nikah, umur sekian harus udah punya nikah, dst.” Pikiran langsung drama: “Dia menghakimi, dia menganggap hidupku gagal, dsb.”
Daripada langsung bereaksi, cobalah sekadar hadir, just be, hanya sadari apapun pikiran dan perasaan yang muncul: perasaan tersinggung, marah, malu, sebel, dan sebagainya.
Kalau kamu menyadarinya, dorongan untuk bereaksi perlahan mengendur. Kalau nggak langsung bereaksi, nggak bereaksi dari ego, maka kamu dari reaksi emosional jadi respon yang santai. Sans aja. Misalnya: “Doain ya” atau senyum aja.
Nah kalo ini sisi orang yang nanya.
Dia nanya gitu itu karena batinnya terprogram, terkondisi oleh orang tuanya, oleh lingkungan, standar sosial yang dulu
dia harus capai.
Artinya dia nanya dari keterkondisian batin, dari diri yang terprogram, dari egonya.
Kalau kamu bereaksi dari egomu, maka ego dia dapet teman bermain. Jangan mau jadi teman bermainnya. Jangan ikuti permainan egonya.
Pertanyaan-pertanyaan kayak gitu justru jadikan sebagai guru yang menuntunmu
menengok ke dalam diri:
“Hidupku aku jalani dengan kesadaran, atau aku jalani cuma untuk memenuhi tekanan standar sosial?”
Kalo dengan kesadaran, hidupmu nggak harus ngikutin timeline yang sama dengan orang lain. Tiap orang punya jatah rute dan waktu yang beda-beda.
This mind-blowing visualization reveals the insane relative cosmic velocities at play:
Earth spinning + orbiting the Sun + Solar System racing around the galaxy + our galaxy hurtling through the universe
Shocking part? We still feel nothing.
Untuk pertama kalinya dlm sejarah, kita benar2 “melihat” detik2 sebuah bintang meledak!
Bayankan ini deh: bintang raksasa merah (red supergiant) yg 12–15 kali lebih berat dari Matahari kita sdh kehabisan bahan bakar. Inti besinya runtuh krn gravitasi, dlm hitungan detik, suhu & tekanan naik gila2an.
Ledakan yg keluar (shockwave) ternyata bkn bulat sempurna seperti yg selama ini kita kira. Dgn memakai alat spectropolarimetry di Very Large Telescope ESO Chile, ilmuwan menangkap bentuknya lonjong (prolate shape). Artinya ledakan mengarah ke 1 sumbu lebih kuat, bkn merata ke segala arah.
Knp ini penting?
Selama ini teori kita blg “ledakan supernovae pasti simetris”. Ternyata tdk. Asimetri ini bisa menjelaskan:
- knp lubang hitam dan bintang neutron sering “terpental” dgn kecepatan tinggi ke seluruh galaksi,
- kno ada semburan sinar gamma atau gamma-ray burst super kuat, dan
- knp sisa ledakan di langit (supernova remnant) bentuknya aneh2.
Dari kacamata fisika: ini lagi2 soal entropi dan chaos. Alam semesta tdk suka keteraturan sempurna, bahkan kematian bintang pun penuh kejutan dan arah yg tdk terduga.
Sama seperti arrow of time yg saya bahas kemarin: ketidakteraturan membuat segalanya bergerak maju.
Mungkin saja sih “model kita selama ini salah”, tapi yaaa excited krn alam semesta ternyata jauh lebih liar dan indah.. ✨💫
We just saw the exact moment a star exploded for the first time ever.
Astronomers have achieved a rare feat: imaging the exact moment a massive star detonated—and the explosion was anything but spherical.
SN 2024ggi, a supernova located 22 million light-years away in the spiral galaxy NGC 3621, was detected a mere 26 hours after ignition. This extraordinarily early discovery allowed researchers to train the European Southern Observatory’s Very Large Telescope in Chile on the event while it was still in its infancy.
Using the technique of spectropolarimetry—which analyzes the polarization of light to reveal geometric structure—the team uncovered a surprising truth: the expanding shockwave was distinctly aspherical, elongated into an “olive” or prolate shape along one primary axis.
This asymmetry means the catastrophic rebound following the star’s core collapse did not propagate uniformly in all directions, directly contradicting the long-standing assumption that the deepest layers of a core-collapse supernova explode spherically.
The progenitor was a red supergiant 12–15 times more massive than the Sun that had exhausted its nuclear fuel, triggering gravitational collapse of its iron core. In most supernovae, the initial shape of this breakout is quickly obscured as the blast wave slams into the star’s outer envelope. Here, however, astronomers captured polarized light signatures of the still-unobscured ejecta, freezing the explosion’s geometry in time.
The discovery carries far-reaching consequences. It strongly suggests that asymmetry is common, if not universal, in the earliest phases of massive-star deaths. Current theoretical models, which often assume spherical symmetry at the core, will need significant revision. Moreover, these distorted explosions could help explain observed peculiarities in supernova remnants, the production of gamma-ray bursts, and the kicking of neutron stars and black holes to high speeds at birth.
By catching a star in the act of dying asymmetrically, SN 2024ggi has given us a vivid glimpse into the violent, chaotic physics that govern the final heartbeat of the universe’s most massive stars.
[🎞️ Artist’s animation of a supernova explosion]
[Unique shape of star’s explosion revealed just a day after detection. ESO, 2025]
BRUH
FALLOUT NEW BEGAS 9 RIBU
METRO 10 RIBU
CIV V 20 RIBU
THE LONG DARK 27 RIBU
DYING LIGHT 30 RIBU
RE 3 50 RIBU
100 RIBU DAH DAPET GAME BAGUS BAGUS BJIR
THR DARI PAKDE GABEN
Kalo di ilmu kesadaran, sebaik-baiknya bersyukur itu enggak lahir dari membandingkan, tapi dari sadar penuh hadir utuh di sini-kini. Be present.
Jadi bukan bersyukur karena: “untung hidupku lebih baik dari dia.”
Bukan bersyukur karena: “lebih baik dari orang lain.”
Karena itu masih ego yang membandingkan, diam-diam merasa lebih. Kesombongan.
Bersyukur itu sesederhana: menyadari apa yang ada, tanpa hanyut terseret drama dari pikiran masa lalu atau masa depan.
Menyadari napas, masih bernapas. Menyadari badan, masih hidup. Menyadari momen saat ini, di sini-kini, seapaadanya.
Jadi bersyukur karena hidup yang sedang kita alami. Nggak dari perbandingan, tapi karena kesadaran, presence.
🚨 INFO DISKON: FC 26 lagi diskon 70% di PC (Steam, EA App) & PS5! 😍
Steam: 239 ribu
PS5: 383 ribu
Sudah di angka 200 ribuan, musim masih panjang. Good deal! 💸