TRANSKRIP NILAI AMBURADUL
Transkrip nilai amburadul ini termasuk bagian dari 709 dokumen yang disita POLDA Metro Jaya, menjadi bagian dari data pendukung Ijazah Jokowi.
Saya akan tanya kepada Rektor UGM, Prof Ova Emilia, sebagai salah satu pihak yang nanti jadi saksi dengan pertanyaan sbb:
Bagaimana mungkin UGM meluluskan mahasiswa dengan transkrip nilai se amburadul ini?
Beberapa artefak kunci dari sebuah Transkrip nilai resmi sama sekali tidak ada, saya keep saya ceritakan nanti di sidang.
Yang jelas, Mahasiswa.ASLI UGM, pasti bisa menyampaikan detail apa saja yang tidak ada di transkrip nilai ini, yang seharusnya ada.
Apa UGM tidak malu dengan UI, UNPAD, UNAIR, UNDIP, ITB dan Universitas besar lainnya?
MEMPRIHATINKAN SEKALI GAJI DOSEN S3 HANYA 3,3 JT
BETAPA ABAINYA REZIM TERHADAP DUNIA PENDIDIKAN
MEREKA LBH MEMILIH MBG
BANDINGKAN DGN GAJI ANGGOTA DPR DAN KOMISARIS JALUR RELAWAN YG NGGA PUNYA KOMPETENSI
๐ฑ๐ก๐ก๐ช
Roy Suryo dan Dokter Tifa
Menolak 2 opsi yg ditawarkan kubu @jokowi
Restoratife justice dan
Plea Bargaining
Lanjut ke sidang
Dan Jokowi harus menunjukkan
Ijazahnya ๐ฅ
Ibu Desi sama Ibu Yuyun ini polos sekaliiiii.
Ngomong di depan kamera kalau dibayar 100 ribu.
Terus ke media nasional pula.
Ini koordinatornya gak briefing dulu gimana ngadepin media???
๐๐คฃ๐๐คฃ
Bang jago nih..
"Mau dihajar ngga ? Hei metro tipu.."
Hercules Galak Ancam Hajar Wartawan
Dia datang ke KPK untuk diperiksa menjadi saksi atas dugaan suap hakim agung - Mahkamah agung
1. Ibunya Teddy
2. Bima Arya
3. Dudung Abdulrahman
4. Afriansyah Noor
5. Ahmad Riza Patria
6. Nanik S Deyang.
Kalau benar,apakah gak mengguncang dunia persilatan?
BEM se-DIY SERUKAN REFORMASI JILID DUA
Para mahasiswa dari 17 kampus yang tergabung dalam forum BEM se-DIY menyuarakan ajakan untuk dilakukannya Reformasi Jilid II sebagai upaya memperbarui tata kelola negara
Ditengah terik matahari, para mahasiswa berjalan menyusuri kawasan Malioboro sembari membentangkan spanduk yang bertuliskan kekecewaan terhadap rezim Prabowo-Gibran
Guys, ada berita dari Lombok Tengah yang menurut gue paling menggambarkan ironi terbesar dari kebijakan ekonomi Prabowo sekarang.
150 karyawan Alfamart kehilangan pekerjaan.
Bukan karena perusahaannya bangkrut.
Bukan karena kinerjanya buruk.
Bukan karena ada kesalahan dari karyawannya.
Tapi karena pemerintah daerah menutup paksa 25 gerai ritel modern dengan alasan melanggar Peraturan Daerah tentang penataan pasar rakyat.
Dan ini yang paling miris:
Rudi karyawan Alfamart di Kopang datang ke kantor Bupati bukan untuk melawan.
Dia datang meminta solusi.
"Jangan sampai kami menjadi pengangguran baru.
Sekarang ekonomi semua sulit,
semua harga sudah naik,
kebutuhan makin tinggi.
Sementara pekerjaan kami tidak ada karena ditutup."
"Cari kerja sulit, Pak.
Kami banyak yang hanya tamatan SMA."
Kalimat itu
"cari kerja sulit, Pak"
menurut gue adalah kalimat paling menyayat yang bisa diucapkan oleh seseorang kepada penguasa yang harusnya melindungi mereka.
Dan ini konteks yang lebih besar yang harus dipahami:
Penutupan Alfamart dan Indomaret di Lombok Tengah ini tidak terjadi di ruang kosong.
Ini terjadi di tengah narasi besar tentang Koperasi Desa Merah Putih program andalan Prabowo yang salah satu tujuannya adalah memastikan koperasi desa bisa menjalankan fungsi perdagangan ritel di desa-desa.
Artinya sederhana:
gerai ritel swasta yang sudah ada ditutup supaya ruangnya bisa diisi oleh koperasi yang terafiliasi dengan program pemerintah.
Bukan karena ada masalah dengan pelayanannya.
Bukan karena ada keluhan dari konsumen.
Tapi karena ada kepentingan yang lebih besar yang membutuhkan ruang itu.
Dan ini yang paling pedas:
150 karyawan kehilangan pekerjaan.
Kalau setiap karyawan punya keluarga dengan 2-3 orang tanggungan ada sekitar 300-450 orang yang terdampak langsung dari satu kebijakan penutupan di satu kabupaten kecil.
Dan ini baru satu kabupaten.
Lombok Tengah.
Dengan 25 gerai yang ditutup.
Berapa kabupaten lain yang sedang atau akan melakukan hal yang sama di seluruh Indonesia atas nama program yang sama?
Dan ini yang paling mengerikan sebagai pesan kepada semua pelaku usaha:
Kalau lo punya usaha di Indonesia sekarang dan tiba-tiba ada program pemerintah yang membutuhkan ruang bisnis yang sama dengan yang lo jalankan negara bisa menutup usaha lo kapan saja.
Bukan karena lo salah.
Bukan karena lo melanggar hukum yang berlaku sejak awal.
Tapi karena ada Perda yang bisa diaktifkan atau diterapkan secara selektif ketika dibutuhkan.
Investor asing yang sudah komplain ke Prabowo soal kepastian regulasi ini adalah contoh nyata kenapa
mereka takut masuk.
Hari ini Alfamart.
Besok siapa?
Dan sambungkan ini dengan kondisi yang lebih besar:
Badai PHK sedang mengintai.
Rupiah di Rp17.700.
Lapangan kerja tidak tumbuh.
Dan di tengah semua itu ada kebijakan yang menambah 150 pengangguran baru di satu kabupaten kecil dengan alasan penataan pasar.
Prabowo bilang: "Kalau tidak beres copot. Sederhana."
Tapi 150 orang yang tidak beres hidupnya bukan karena kesalahan mereka sendiri tidak punya siapapun yang bisa mereka copot.
Negara yang seharusnya memberi rasa aman bagi rakyat yang bekerja keras justru menjadi sumber ketidakpastian yang paling besar.
Karyawan Alfamart itu tidak meminta banyak.
Mereka hanya minta bisa tetap bekerja.
Minta jangan dijadikan pengangguran baru di tengah
kondisi ekonomi yang sudah sulit.
Dan jawaban yang mereka dapat adalah:
datang ke kantor Bupati mengantri
memohon dengan harapan ada yang mendengar.
Itulah posisi rakyat kecil di Indonesia sekarang. Bukan warga negara yang dilindungi.
Tapi pemohon yang berharap penguasanya bermurah hati.