Orang datang dan pergi itu siklus.
– Temen SD ilang kontak.
– Temen kuliah beda frekuensi.
– Temen kantor pindah kerja.
– Sahabat lama gak lagi nyambung.
Dan itu normal, bukan salah siapa-siapa. Memang chapter ceritanya udah selesai.
Nggak semua orang ditakdirkan menemani sampai akhir. Ada yang hadir untuk mengajarkan sesuatu, lalu pergi setelah perannya selesai.
pilihlah orang yang memilihmu.
pilihlah orang yang hadir tanpa harus dikejar.
Yang menjaga tanpa harus diingatkan.
Yang tetap tinggal bukan hanya saat semuanya mudah, tetapi juga ketika hidup sedang tidak baik-baik saja.
Cinta seharusnya bukan tentang terus-menerus membuktikan bahwa kita pantas dicintai.
Hubungan yang sehat tidak membuat kita hidup dalam kebingungan, menebak-nebak, atau mempertanyakan nilai diri sendiri setiap hari.
cc: ariniwongso
Baru beres nonton video ini di yt.
Dan saya tersadarkan kalo menjamurnya org yg jualan seblak, cilok, gorengan dan pedagang olahan tepung lainnya di jalanan bukanlah tanda kebangkitan ekonomi rakyat, tpi sinyal keputusasaan (necessity entrepreneurship) untuk menutupi status pengangguran.
Setidaknya ada 6 poin yg saya dapati :
• Jebakan low barrier to entry: Bisnis olahan tepung dipilih cuma krn modalnya murah dan gk butuh keahlian khusus.
Dampaknya, terjadi ledakan keseragaman yg memicu kanibalisme ekonomi (sesama pedagang kecil saling mematikan di radius beberapa meter saja)
• Romantisasi penderitaan oleh negara: Narasi "UMKM Pahlawan Ekonomi" dikritik sebagai alat politik agar negara bisa lepas tangan dari kewajiban menyediakan lapangan kerja formal dan jaring pengaman sosial.
• Paradoks data pengangguran: Angka pengangguran resmi terlihat turun, tpi pekerja sektor informal melonjak smpe 60%. Ini adalah fenomena pengangguran terselubung, tercatat bekerja, tapi pendapatan minim dan gk menentu.
• Perang Harga vs Hancurnya Daya Beli: Di tengah inflasi dan turunnya kasta kelas menengah, merek bukan lagi faktor penting. Pedagang terpaksa memotong margin keuntungan demi mempertahankan konsumen yg sensitif harga.
• Ironi "Negara Tepung" yg 100% Impor: Indonesia menopang jutaan pedagang kecil dari komoditas yg gak bisa tumbuh di tanah sendiri. Ketergantungan impor gandum yg mutlak membuat nasib pedagang cilok di jalanan sangat rentan terhadap konflik geopolitik dunia dan kurs Dolar.
• Model bisnis ini udah di titik jenuh. Para pedagang seperti berjalan di tempat, bekerja keras 12 jam sehari menghirup asap jalanan, tetapi posisi finansialnya gk bergeser maju sama sekali.
Source : https://t.co/YnzpIZpO3L
Saudara kandung gw seorang psikolog yg sehari-hari kerjaannya dengerin dan beresin isi kepala orang lain yg berantakan. Pas kita lg kumpul kemarin, dia buka obrolan.
Dia bilang, "lo tau nggak paradoks paling lucu dari profesi gw?"
Dia cerita, pernah nanganin pasien yg semuanya punya pola masalah yang sama. Mereka gak ada yang bener2 sakit secara fisik, tapi badannya rontok karena pikirannya selalu merantau ke masa lalu atau masa depan.
Siksaan batin yg dijelasin saudara gw ini namanya Mental Time Travel.
Kondisi dimana otak kita terlalu canggih sampe bisa loncat ke masa lalu buat nyeselin hal yg udah lewat, atau loncat ke masa depan buat nyemasin hal yg belum tentu terjadi.
Efeknya? Lo kehilangan masa kini. Lo lagi makan makanan enak tapi nggak ngerasain rasanya, lo lagi jalan sama anak-istri tapi pikiran lo lagi sibuk mikirin cicilan 5 taun ke depan, atau sibuk nyeselin blunder kerjaan minggu lalu.
Dia cerita, banyak pasiennya yg kalau malem sebelum tidur, otaknya kayak muter kaset rusak. Mereka selalu terjebak di zona "Regret & What if"
"Kenapa ya dulu gw gak ambil kesempatan itu?"
"Gimana kalau nanti umur 40 gw mendadak di PHK dan gak punya tabungan?"
Siksaan batinnya adalah masa lalu udah jadi abu, masa depan masih jadi kabut, tapi lo ngorbanin satu2nya hal nyata yg lo punya sekarang, yaitu detik ini. Lo dapet capeknya, tapi gk dapet solusinya.
Gw tanya ke dia, "Kenapa otak kita secara psikologis bisa se terjebak itu?"
Dia jelasin kalau secara evolusi, otak manusia itu emg didesain buat bertahan hidup dg cara mengantisipasi bahaya (masa depan) dan belajar dari kesalahan (masa lalu).
Tapi di jaman sekarang, insting itu malah jadi bumerang. Tiap hari kita liat pencapaian orang lain di medsos yg bikin kita cemas ama masa depan kita sendiri.
Kita dipaksa buat selalu berlari ngejar target, sampe lupa caranya berhenti sebentar buat napas.
Ada satu istilah psikologi yg ngena banget buat kondisi ini:
"The Illusion of Control"
Kita mikir dg merenungkan masa lalu berulang kali, kita bisa mengubah rasa bersalah kita. Atau dengan mencemaskan masa depan, kita bisa mengendalikan hasil akhirnya.
Padahal itu semua cuma ilusi. Satu2nya momen dimana lo punya kekuatan penuh buat bertindak dan mengubah sesuatu itu cuma ada di masa kini.
Gimana cara kita buat lepas dari penjara waktu ini?
Saudara gw kasih terapi simpel yg biasa dia kasih ke pasiennya:
Grounding Technique (5-4-3-2-1)
Pas pikiran lo mulai melayang entah ke taun berapa, paksa mata dan tubuh lo buat fokus ama sekitar.
Sebutin 5 benda yg lo liat sekarang, 4 hal yg bisa lo sentuh, 3 suara yg lo denger, 2 bau yang lo cium, dan 1 rasa di lidah lo.
Cara ini bakal menyeret paksa kesadaran emosional lo kembali ke realita tempat lo berdiri.
Langkah kedua adalah bergaul sama kenyataan, bukan asumsi.
Kurangi bikin skenario terburuk didalam kepala. Kalau emg ada hal yg perlu disiapin buat masa depan, tulis di kertas jadi action plan yg nyata, after itu tutup bukunya.
Belajarlah buat menikmati hal-hal kecil yang gratis.
Dinginnya air pas lo wudhu atau cuci muka, angetnya obrolan ama pasangan sebelum tidur, atau rasa pahit manisnya kopi yg lagi lo seruput.
Pesan dari saudara gw ini:
Masa lalu itu udh selesai tugasnya, dan masa depan itu bukan urusan lo sekarang.
Satu2nya tanggung jawab lo adalah menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya.
Jgn biarin hidup lo lewat begitu aja cuma karena lo terlalu sibuk jadi penjelajah waktu di dalam kepala lo sendiri. Rebut kembali kendali pikiran lo mulai hari ini.
tulisan by ryn pedia
cc: istory selebriti (facebook)
@vsoyholic kalian jgn mikir "wah enak banget gajinya segitu" tp mikir
-tanggung jawabnya apa
-resikonya apa
-beban kerjaan apa
Jgn pgn gajinya gede doang
Gaji PNS tahun 1990:
Rp 240.000
Setara: 10,9 gram emas
(harga emas waktu itu Rp 22.000 per gram)
Gaji PNS tahun 2026:
Rp 2.785.700
Setara: 1 gram emas
(harga emas sekarang Rp 2.795.000 per gram)
Dalam 36 tahun, gaji PNS nominal naik 11,6x lipat.
Tapi nilai sebenarnya (dalam emas)? Turun 10x lipat.
Ini bukan kebetulan. Ini design.
Hidup di indonesia sangat sulit sekarang
megang saham, rungkad
megang rupiah, rungkad
ga megang apa apa, rungkad
apalagi jadi cowo di indonesia, jadi tumbal duduk di gerbong depan kereta, disuruh masang gas sama ngecek gas bocor juga dikira kita gabisa mati kali ya
lalu dibilang “Laki laki tidak bisa seperti perempuan”, Sepakat.
1) Gaji tiap bulan dipotong pajak,
2) THR juga kena pajak,
3) Dapet bonus kena pajak juga,
4) Beli barang mahal kena pajak barang mewah,
5) Rumah kena pajak bumi dan bangunan,
6) Motor harus bayar pajak tiap tahun,
7) Mobil juga bayar pajak tiap tahun,
8) Belanja di supermarket tiap itemnya kena pajak,
9) Makan di restoran kena pajak,
10) Beli barang di luar negeri juga bayar bea cukai,
11) Bunga tabungan kena pajak juga dari negara,
12) Apply kerjaan pakai meterai, bayar ke negara,
13) Resign kerjaan juga bikin surat pernyataan pakai meterai,
14) Ditilang juga bayarnya ke negara,
15) Bikin SKCK juga bayar ke aparat negara.
"Emang udah kontribusi apa untuk negara"
Kalo kalian punya Rp100 juta dan masuk ke saham-saham paling populer di Indonesia di tahun 2023, ini hasilnya sekarang:
BBCA → Rp67 juta (-33%)
BBRI → Rp65 juta (-35%)
BMRI → Rp85 juta (-15%)
TLKM → Rp67 juta (-33%)
GOTO → Rp39 juta (-61%)
Rata-rata: dari Rp100 juta turun ke Rp65 juta
Bukan buat nakut-nakutin beli saham, Tapi pengingat kalau investasi itu gak selalu bikin cuan.
Jadi inget dulu pas masih kuliah. Sempat ikut kelas saham di kantor Bursa Efek Indonesia di Surabaya.
Saat itu saham BCA punya predikat sbg saham super blue chip krn tiap tahun dijamin naik.
Kalau bingung mau beli saham apa, beli aja BBCA. Hidup auto nyaman.
Tapi sekarang?
Para investor asing kluar. Kebijakan dalam negeri mencla mencle. MSCI pun sudah tak mengganggap saham Indo. 😅
📉💀 GEN Z IS SO COOKED.
School time: COVID lockdowns
Adult time: World War vibes + global instability
Job time: AI replacing entry-level roles
Marriage time: Peak divorce rates + sky-high loneliness
Cooking time: Record cost-of-living crisis
Menurut gw, having a child itu keputusan yang paling sakral dalam hidup manusia. Bahkan daripada menikah.
Karena kita menghadirkan satu jiwa baru lagi di dunia yang seperti ini. Yang one day kita akan lepasin gitu aja, sementara kita jg akan dimintai pertanggungjawaban.
Sayangnya, banyak orang mikir punya anak sekadar ngelahirin, ngasih makan, udah.
Padahal tiap manusia punya kebutuhan dasar dan banyak hak, sampai aspirasi dan cita2 yang menurutku parents musti turut bertanggungjawab.
suka banget dengan kalimat ini :
"Jangan menertawakan badai orang lain hanya karena langitmu sedang cerah."
tapi, jangan lupa juga sebaliknya :
"Jangan menghujani matahari orang lain hanya karena langitmu sedang badai"
Jawaban serius: karena patriarki.
Tatanan gender di sistem patriarki menempatkan laki-laki sebagai provider. Ketika dia nggak bisa memenuhi ekspektasi ini, maka dia dianggap gagal.
Inilah kenapa sistem patriarki sebenarnya merugikan laki-laki juga. Makanya jangan dilanggengkan.
Tips di awal berhubungan serius:
1. minta nama lengkap doi
2. buka website https://t.co/PFN8UWjfYp
3. cek nama doi di situ (ada/tidak, kalau ada, di putusan mana, dan tentang apa)